Harga Komoditas Naik, Keuntungan Pedagang Nasi Bungkus Turun 30 Persen
Luky Setiyawan June 08, 2026 08:57 PM

TRIBUNJATIMTIMUR.COM, JEMBER - Pedagang nasi bungkus mengeluhkan berkurangnya margin keuntungan mereka akibat naiknya sejumlah komoditas.

Harga komoditas yang tidak ramah di kantong para pelaku usaha ini dinilai sudah berjalan tiga bulan terakhir, semenjak Lebaran Idul Fitri.

Meski keuntungan tergerus, pelaku usaha kecil tidak berani menaikkan harga jualan mereka, seperti yang diakui oleh Riati, seorang penjual nasi bungkus di Tegalbesar, Kaliwates, Jember.

Apalagi saat ini di tengah gerusan rupiah yang melemah, Riati harus benar-benar memutar otak dan memakai strategi tepat agar keuntungannya tidak makin tergerus, namun tetap tidak menaikkan harga jualan.

Baca juga: Bareskrim Polri Kabarnya Tangani Kasus Dugaan Penimbunan BBM Ilegal di Jember, Polda Jatim Menjawab

"Sekarang bahan-bahan mahal, rasanya sih sejak Lebaran lalu ya, harga beberapa bahan masih mahal. Memang ada yang sempat turun, namun naik lagi," ujar Riati, Senin (8/6/2026).

Saat ini, bahan dasar nasi bungkus yang harganya masih relatif kerap naik adalah beras, bumbu, dan minyak goreng.

Kelompok bumbu yang dinilainya terbilang mahal saat ini. 

Dia mencontohkan harga bawang merah yang mencapai Rp 50.000 per kilogram, padahal dalam kondisi harga normal bisa menyentuh harga Rp 30.000.

Selain bawang merah, dia juga menyebut harga cabai yang masih kerap membuatnya pusing. Kini harga cabai di kisaran Rp 60.000 per kilogram, harga yang masih tergolong mahal bagi produsen nasi bungkus.

"Jadi sambelnya dibikin nggak begitu pedes," ujarnya.

Kemudian dia memakai beras yang harga per 5 kilogramnya mencapai Rp 70.000. Harga ini naik menjadi Rp 71.000 ketika dia membeli lagi Senin (8/6/2026).

"Untuk beras bisa dibilang tiap sepekan sekali naik, antara Rp 500 - Rp 1.000," imbuhnya.

Kemudian harga MinyaKita yang kini di kisaran Rp 21.000 per liter. "Padahal ini sudah merek yang paling murah. Sebelumnya harganya Rp 17.000," lanjutnya.

Beruntung, harga ayam potong saat ini terbilang turun dari Rp 29.000 menjadi Rp 25.000 per kilogram.  

Baca juga: Polres Jember Ungkap Kasus Pencurian Motor di Pos Ronda Bangsalsari

Berburu Promo

Untuk menjaga agar margin keuntungan nasi bungkusnya tidak semakin tergerus, Riati kerap berburu diskon harga. 

Dia mencontohkan telur ayam yang beberapa waktu terakhir dijual murah di marketplace.

Menurutnya, harga di marketplace mencapai Rp 17.000 per kilogram, saat harga telur di pasaran mencapai Rp 25.000 per kilogram.

Dia juga memilih mencari promo minyak goreng di marketplace, begitu juga gula Putih.

"Akhirnya war promo, biasanya yang kerap saya cari itu promo telur, minyak goreng, dan gula pasir. Harus pintar-pintar nyari promo," imbuhnya.

Maklum, bagi pedagang nasi bungkus skala rumah tangga, kenaikan harga komoditas yang saat ini terjadi, sangat terasa baginya.

Riati memilih tetap menjual nasi bungkus seharga Rp 6.000 setiap pagi. Namun di sisi lain, keuntungannya tergerus hingga 30 persen akibat kenaikan harga bahan-bahan nasi bungkusnya.

Dia berharap, harga-harga komoditas yang dipakainya sebagai bahan nasi bungkus, tidak melonjak lagi.

"Agar keuntungan kembali seperti semula," harapnya.

Baca juga: Ratusan Lansia Jember Senam Bareng Peringati HLUN 2026, Tekankan Peran Strategis Generasi Senior

Harga Bawang di Pasar Tanjung

Sementara itu, untuk harga bawang merah di Pasar Tanjung Jember kini mencapai Rp 48.000 per kilogram.

"Untuk bawang Putih Rp 37.000 per kilogram," ujar Septi, pedagang bawang di Pasar Tanjung. 

Harga yang dia sebutkan merupakan harga terbaru, Senin (8/6/2026).

(Sri Wahyunik/TribunJatimTimur.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.