Kisah Khairul Anwar dari Pantan Cuaca ke Panggung Dunia Busan Korea Selatan
Mawaddatul Husna June 09, 2026 12:54 AM

Laporan Wartawan Tribun Gayo Fikar W Eda | Busan, Korea Selatan

TribunGayo.com, BUSAN - Diantara deretan pemuda Gayo yang duduk rapat membentuk barisan Tari Saman di panggung Busan International Dance Festival (BIDF) 2026, terdapat sosok muda bernama Khairul Anwar. 

Wajahnya tampak tenang, tetapi di balik ketenangan itu tersimpan perjalanan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Pemuda yang akrab disapa Anwar itu lahir di Seneren, Kecamatan Pantan Cuaca, Kabupaten Gayo Lues, pada 27 September 2004.

Ia tumbuh di lingkungan yang akrab dengan tradisi dan budaya Gayo, terutama Tari Saman yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setempat.

Pendidikan dasarnya ditempuh di SD Negeri 3 Pantan Cuaca.

Setelah itu ia melanjutkan pendidikan ke Pondok Pesantren Darul Hijrah Al-Madaniyyah untuk jenjang SMP dan SMA.

Lingkungan pesantren membentuk karakter disiplin sekaligus memperkuat kecintaannya terhadap nilai-nilai budaya yang diwariskan masyarakat Gayo.

Agustus 2024 Khairul Anwar Tinggalkan Kampung Halaman

Tahun 2024 menjadi titik penting dalam hidupnya.

Pada Agustus tahun itu, Anwar meninggalkan kampung halaman menuju Jakarta untuk melanjutkan pendidikan di Universitas Darunnajah. 

Perjalanan dari daerah pegunungan Gayo menuju ibu kota menjadi pengalaman besar yang membuka banyak kesempatan baru.

Pada tahun yang sama, ia bergabung dengan Duta Saman Institute (DSI), sebuah lembaga yang aktif melakukan pelestarian dan promosi Tari Saman hingga ke tingkat internasional.

Sejak bergabung, Anwar mulai tampil di berbagai panggung. Penampilan pertamanya bersama DSI berlangsung di Taman Mini Indonesia Indah.

Setelah itu ia tampil di Jakarta International Stadium (JIS) dan sejumlah panggung budaya lainnya.

Namun, kesempatan tampil di Korea Selatan merupakan pengalaman yang jauh melampaui bayangannya.

“Ke Korea adalah salah satu yang tidak ada di list cita-cita saya, akan tetapi Allah beri kesempatan bagi saya untuk melihat dan merasakan betapa indah dan serunya di negeri orang.

Bisa menikmati suasana dan setiap momennya,” ujar Anwar kepada TribunGayo saat berada di Busan.

Baginya, perjalanan ke Korea Selatan bukan sekadar mengikuti festival budaya. Ada pengalaman batin yang begitu mendalam.

“Jujur, awalnya saya cuma bisa membayangkan Korea dari drama dan foto orang.

Ternyata aslinya jauh lebih hidup. Udara paginya yang sejuk, suara kereta subway yang tertib, sampai ramainya Myeongdong malam hari.

Semua terasa seperti mimpi yang Allah ijabah tanpa saya minta,” katanya.

Belajar dari Kehidupan Masyarakat Korea Selatan

Anwar mengaku banyak belajar dari kehidupan masyarakat Korea Selatan.

Ia memperhatikan bagaimana disiplin menjadi bagian dari keseharian.

Bagaimana budaya tetap dijaga di tengah kemajuan teknologi, dan bagaimana keteraturan menjadi kebiasaan publik.

“Setiap langkah di sana ngajarin saya arti bersyukur.

Bersyukur karena ternyata dunia ini luas, dan Allah masih kasih saya kesempatan buat melihat sebagian kecil dari keindahan ciptaan-Nya. 

Melihat orang-orangnya yang disiplin, budayanya yang dijaga, sampai adabnya yang rapi, bikin saya banyak belajar,” tuturnya.

Pengalaman itu membuatnya menyadari bahwa bepergian ke negeri lain bukan hanya soal berpindah tempat atau mengunjungi destinasi baru.

“Saya sadar, pergi ke negeri orang bukan cuma soal jalan-jalan. Tapi soal membuka mata dan hati.

Ternyata ada banyak cara Allah sayang sama kita, salah satunya dengan menghadirkan pengalaman yang nggak pernah kita rencanakan.”

Kalimat-kalimat itu mengalir sederhana, namun menyimpan makna yang dalam.

Tampil di Busan International Dance Festival

Sebab bagi Anwar, tampil di Busan International Dance Festival bukan sekadar perjalanan ke luar negeri, melainkan perjalanan mengenal dunia sekaligus mengenal dirinya sendiri.

Di panggung festival yang mempertemukan seniman dari berbagai negara itu, Anwar tampil membawakan Tari Saman bersama delegasi Aceh yang mewakili Indonesia.

Ini merupakan penampilan internasional pertamanya.

Sebuah pengalaman yang akan selalu dikenangnya sebagai salah satu momen paling berharga dalam hidup.

Meski telah menjejak panggung dunia, Anwar tetap memandang dirinya sebagai anak kampung yang sedang belajar.

Ia bertekad terus melatih kemampuan dan memperdalam penguasaan Tari Saman, warisan budaya yang telah membesarkannya.

Keinginannya sederhana: menjaga tradisi yang diwariskan leluhur agar terus hidup dan dikenal dunia.

Bagi Anwar, Tari Saman bukan hanya seni pertunjukan.

Ia adalah identitas, kebanggaan, sekaligus jalan yang mengantarkannya dari lereng Pantan Cuaca hingga ke panggung internasional di Busan.

"Terima kasih Ya Allah untuk kesempatan pertama ini.

Semoga setiap kenangan menjadi pengingat bahwa rezeki dan takdir Allah itu indah.

Bahkan ketika datang dari arah yang tidak pernah kita tulis di daftar cita-cita kita," kata Anwar.

Dari kampung kecil di dataran tinggi Gayo hingga gemerlap panggung internasional Korea Selatan, perjalanan Khairul Anwar menunjukkan bahwa takdir sering kali menempuh jalan yang tidak pernah dibayangkan.

Dan melalui Tari Saman, pemuda itu sedang menuliskan kisahnya sendiri dihadapan dunia. (*) 

Baca juga: Sekda Aceh Apresiasi Delegasi Tari Saman di Busan: Wow, Mantap Saman Kita Keren!

Baca juga: Dari Pasir Tripe Jaya ke Panggung Dunia Busan: Jejak Said Ahmad Menjaga Warisan Saman

Baca juga: Pertunjukan Saman Hipnotis Penonton Busan International Dance Festival

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.