SOSOK Timothy Astandu Pecahkan Rekor Sebagai Pria Indonesia Pertama Jelajahi 197 Negara
Tommy Simatupang June 09, 2026 01:09 AM

TRIBUN-MEDAN.com - Sosok Timothy Astandu memecahkan rekor sebagai warga RI pertama yang menustaskan perjalanan ke 197 negara. 

Hal ini tercatat dalam paspor yang dimiliki oleh Timothy Astandu. 

Perjalanannya tidak hanya sekadar menjelajahi destinasi wisata, tetapi juga menjadi upaya panjang untuk memahami keberagaman manusia, budaya, dan kehidupan di berbagai belahan dunia.

Dari total tersebut, ia telah mengunjungi 193 negara anggota PerseriSosok Timothy Astandu memecahkan reskor sebagai warga RI pertama yang menustaskan perjalanan ke 197 negara. katan Bangsa-Bangsa (PBB), dua negara berstatus pengamat PBB yakni Vatikan dan Palestina, serta dua wilayah dengan pengakuan terbatas, Taiwan dan Kosovo, dalam sebuah perjalanan yang berlangsung selama bertahun-tahun.

Timothy mengatakan, setiap negara yang ia datangi menjadi ruang belajar untuk memahami cara manusia berpikir, berinteraksi, mengambil keputusan, hingga memaknai kebahagiaan.

Baginya, percakapan dengan penduduk lokal sering kali lebih berharga dibanding membaca laporan atau melihat data dari balik layar komputer.

“Setiap pasar yang saya kunjungi menjadi arena observasi lapangan. Dan kebiasaan konsumsi masyarakat, mulai dari negara yang sedang dilanda konflik hingga negara terkaya di dunia, menghasilkan wawasan yang tidak dapat diperoleh tanpa hadir secara langsung,” ujar Timothy saat dikonfirmasi melalui pesan singkat, Minggu (7/6/2026).

Baca juga: KISAH Hidup Anak Wakil Wali Kota yang Pilih Jadi Kuli Bangunan, Kuak Pesan Sang Ayah: Mandiri

Baca juga: KARIER dan Pendidikan Wakil Kepala BGN Agustina Arumsari, Berpengalaman di Bidang Keuangan

Selama perjalanan itu, Timothy berkali-kali menemukan kenyataan yang berbeda jauh dari asumsi yang selama ini berkembang.

Pengalaman Tak Terlupakan di Irak

Salah satu pengalaman yang paling membekas baginya terjadi saat mengunjungi Irak.

Negara yang selama bertahun-tahun kerap diasosiasikan dengan konflik dan ketidakstabilan itu justru memperlihatkan wajah lain yang tidak banyak diketahui orang.

“Orang Irak benar-benar ramah. Memperlakukan semua orang layaknya tamu mereka sendiri. Bahkan, di beberapa kesempatan mereka mengajak saya untuk makan di rumahnya,” kata Timothy.

Pengalaman serupa juga ia temukan di sejumlah negara yang selama ini identik dengan konflik bersenjata.

Di sana masih terdapat pusat perbelanjaan, taman hiburan, hingga masyarakat yang menghabiskan waktu bersantai bersama keluarga.

“Bagi seorang peneliti, ini adalah pelajaran metodologi yang paling mendasar. Jangan percaya pada asumsi sebelum melakukan verifikasi lapangan,” ujarnya.

Selain menemukan perbedaan persepsi dan kenyataan, Timothy juga melihat pola yang berulang di berbagai belahan dunia.

Ia mendapati bahwa tingkat kesejahteraan ekonomi tidak selalu berjalan beriringan dengan tingkat kebahagiaan masyarakat.

“Bahkan kadang negara-negara yang sering dipandang sebelah mata, masyarakatnya terlihat lebih bahagia,” tuturnya.

Menurut dia, kemajuan ekonomi memang penting, tetapi bukan satu-satunya faktor yang menentukan kualitas hidup seseorang.

“Karena kesederhanaan hidup mereka nampaknya memberikan kebahagiaan yang lebih,” lanjut Timothy.

Temuan itu membuatnya memahami bahwa manusia tidak bisa dipahami hanya melalui angka-angka statistik atau indikator ekonomi semata.

Ada nilai budaya, hubungan sosial, dan cara pandang terhadap kehidupan yang turut membentuk perilaku seseorang.

Rasa ingin tahu terhadap manusia itulah yang kemudian menjadi benang merah dalam perjalanan hidup Timothy, baik sebagai penjelajah maupun peneliti.

Dirikan Perusahaan

Pada 2018, bersama dua rekannya, ia mendirikan Populix, sebuah perusahaan riset yang berupaya menjembatani kebutuhan masyarakat terhadap data dan informasi.

Namun bagi Timothy, apa yang ia bangun berawal dari pertanyaan yang sama seperti saat pertama kali memutuskan berkelana ke berbagai negara.

Yakni mengapa manusia mengambil keputusan yang berbeda-beda meski menghadapi situasi yang hampir serupa.

"Setiap perjalanan ini semakin menguatkan saya bahwa memahami manusia membutuhkan lebih dari sekadar asumsi," jelasnya.

Karena itu, hingga kini, Timothy masih memegang prinsip yang sama seperti saat pertama kali memulai petualangannya ke berbagai penjuru dunia.

Menurut dia, memahami manusia harus dimulai dengan mendengarkan, melihat, dan hadir secara langsung di tengah kehidupan mereka.

Sebab sering kali, jawaban yang dicari tidak ditemukan di balik layar, melainkan di jalanan kota, pasar tradisional, ruang-ruang percakapan sederhana, dan pengalaman yang hanya bisa diperoleh ketika seseorang benar-benar datang untuk melihat sendiri kenyataan yang ada.

(*/tribun-medan.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.