TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Uang belanja Rp50 ribu ternyata masih bisa mencukupi kebutuhan makan satu keluarga berisi lima orang selama dua hari.
Kuncinya terletak pada kedisiplinan mengatur menu dan ketelitian mengalkulasi harga belanjaan di tengah fluktuasi harga bahan pokok pasar.
Siasat ini diterapkan oleh Imas Siti Maesa (50), seorang ibu rumah tangga asal Batununggal, Kota Bandung.
Saat ditemui Tribun Jabar di Pasar Kosambi, Senin (8/6/2026), Imas merinci formula belanja hematnya: tahu seharga Rp15 ribu, tempe Rp7 ribu, sawi hijau Rp5 ribu, dan ayam setengah ekor Rp19 ribu.
Total belanjaan hanya menyentuh Rp41 ribu, menyisakan Rp9 ribu untuk biaya tak terduga seperti parkir.
Namun, formula Rp50 ribu untuk dua hari ini hanya berlaku jika stok komoditas utama seperti beras dan minyak goreng di dapur masih tersedia.
Bagi Imas, awal bulan tetap menjadi periode yang paling menantang.
Pada momen tersebut, seluruh stok kebutuhan pokok biasanya habis secara bersamaan.
Ketika itu terjadi, pengeluaran dapur otomatis membengkak karena harga beras di pasaran berada di kisaran Rp16 ribu per liter dan minyak goreng mencapai Rp25 ribu per liter.
Sebagai ibu dengan tiga anak yang mengandalkan pendapatan suami, Imas mengeluhkan adanya jarak yang lebar antara realisasi harga pasar dan daya beli masyarakat bawah.
"Hampir setengah gaji habis untuk kebutuhan dapur. Sisanya untuk biaya sekolah dan jajan anak. Masalahnya, harga kebutuhan terus berubah sedangkan gaji tidak naik-naik," keluh Imas.
Kondisi ini memaksa Imas mencoret daging sapi dari daftar menu bulanan.
Protein hewani kini disiasati melalui konsumsi ayam atau ikan. Daging sapi disebutnya sudah menjadi barang mewah yang hanya dibeli menjelang Lebaran.
Selain lauk-pauk, fluktuasi harga bumbu dapur, terutama cabai dan bawang merah, menjadi momok tersendiri.
Mengingat harga cabai pernah menyentuh Rp120 ribu per kilogram, Imas kini menerapkan strategi manajemen stok.
Untuk menjaga kesegaran dan efisiensi, ia hanya membeli stok cabai untuk kebutuhan satu minggu.
Sebaliknya, untuk komoditas yang lebih awet seperti bawang merah, Imas memilih membeli dalam jumlah besar atau langsung satu kilogram ketika harganya sedang turun di pasaran.
"Sekarang harga bahan pokok mungkin dianggap normal berdasarkan rata-rata pasar. Tapi kalau pendapatan tidak naik, ya tetap saja terasa berat bagi kami," tuturnya.
Guna memastikan kestabilan keuangan keluarga, Imas kini menerapkan prinsip zero waste atau memastikan tidak ada makanan yang terbuang sia-sia di rumah.
Bagi para emak-emak, sisa makanan yang terbuang berarti ada uang yang hangus secara percuma. (*)
Baca juga: Harga Naik Bikin Pedagang Sapi di Pasar Kosambi Bandung Mogok Jualan, Pengamat: Ada Faktor Spekulasi