Jakarta (ANTARA) - Dinas Pendidikan (Disdik) DKI Jakarta mendukung penguatan kualitas pendidikan dengan transformasi ekosistem pengajaran guna mendukung visi sebagai kota global lewat kolaborasi dengan Literacy for the Future (LIFT).
Lewat School Leadership Workshop yang digelar LIFT pekan lalu, diperkenalkan ekosistem pembelajaran transformasional yang mengintegrasikan kepala sekolah, guru, orang tua, komunitas, budaya membaca, serta evaluasi berbasis data, dengan murid sebagai pusat pembelajaran dan buku nonteks sebagai instrumen utama bernama Nexus.
“Ide besar membutuhkan tindakan, kebijakan membutuhkan keteladanan, kolaborasi membutuhkan kesungguhan, dan masa depan murid membutuhkan kepemimpinan yang menghadirkan perubahan,” kata Kepala Disdik DKI Jakarta Nahdiana dalam keterangan di Jakarta, Selasa.
Pendiri LIFT Elwin Tobing menilai inovasi Nexus diharapkan menjadi pendekatan baru untuk menghadapi krisis pendidikan di Indonesia.
Ia menyebut berdasarkan hasil Programme for International Student Assessment (PISA), selama lebih dari dua dekade terakhir, sekitar 75–80 persen murid Indonesia masih berada di bawah tingkat kompetensi dasar dalam literasi, numerasi, dan sains, sementara kurang dari 1 persen mencapai kompetensi global.
“Nexus hadir sebagai jawaban atas kebutuhan mobilisasi nasional untuk mengatasi krisis pendidikan Indonesia. Kurikulum dan pembelajaran formal tetap penting, tetapi tidak cukup. Kita membutuhkan inovasi yang mampu menggerakkan seluruh pemangku kepentingan pendidikan secara terintegrasi, terarah, dan efisien,” kata Elwin.
Ia menambahkan bahwa peningkatan kualitas pendidikan tidak harus identik dengan biaya yang besar.
“Yang dibutuhkan adalah ruang bagi inovasi yang berdampak, terukur, dan efisien untuk bekerja bersama pemerintah, sekolah, keluarga, dan masyarakat,” ujarnya.
Sementara itu, Anggota DPR RI sekaligus tokoh pendidikan Jakarta, Putra Nababan, mengingatkan bahwa kegagalan memperbaiki pendidikan hari ini akan berdampak serius pada masa depan bangsa.
“Di tengah tantangan yang semakin berat, saya tidak bisa membayangkan seperti apa masa depan anak-anak kita bila tidak dibekali pendidikan yang berkualitas dari seluruh aspek,” ujarnya.
Ia juga berharap inovasi tersebut bisa diadopsi lebih luas karena menyasar langsung persoalan mendasar pendidikan Indonesia meliputi literasi, numerasi, minat sains, dan karakter murid.





