Pengamat Ekonomi, Mata Uang & Komoditas Ibrahim Assuaibi angkat bicara terkait nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang diprediksi akan semakin tertekan.
Ibrahim memprediksi sentimen negatif terhadap rupiah muncul lantaran belum ada kebijakan nyata yang mampu memulihkan kepercayaan investor terhadap ekonomi tanah air.
Dilansir dari Tribunnews, Ibrahim mengatakan saat ini para investor atau pasar gelisah dengan agenda pengeluaran besar-besaran Presiden Prabowo Subianto untuk beberapa program pemerintah, Selasa (9/6/2026).
Ia menyebut salah satunya program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih yang disebutnya membuat defisit neraca transaksi berjalan melebar.
"Pelebaran defisit tersebut terjadi seiring menyusutnya surplus perdagangan Indonesia," ujar Ibrahim, dikutip Selasa (9/6/2026).
Ibrahim berpendapat pelemahan rupiah di tanah air membuat pemerintah harus menghitung ulang subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM).
Ia berpendapat langkah ini perlu dilakukan lantaran adanya lonjakan harga minyak mentah.
"Harga minyak yang tinggi membuat kebutuhan dolar AS tinggi dan membuat utang pemerintah semakin membengkak," papar Ibrahim.
Ibrahim menjelaskan faktor eksternal yang memengaruhi melemahnya rupiah lantaran konflik geopolitik di Timur Tengah yang tak menentu.
"Suara ledakan terdengar di Teheran, Tabriz, dan Isfahan, menurut laporan media lokal pada Senin pagi. Ini mengikis harapan akan segera berakhirnya perang yang lebih luas dan dimulainya kembali aliran minyak mentah melalui Selat Hormuz," paparnya.
Atas kondisi tersebut, Ibrahim memprediksi rupiah masih akan melemah di rentang Rp 18.180-Rp 18.230 per dolar AS.
Diketahui, perdagangan Jumat (8/6/2026), rupiah ditutup melemah 151 poin ke level Rp 18.187 per dolar AS.