TRIBUNGORONTALO.COM – Cerita Ismail Madjegu (50) korban kebakaran rumah di Kelurahan Tenilo, Kecamatan Kota Barat, Kota Gorontalo, Provinsi Gorontalo pada Jumat (5/6/2026) pagi.
Kebakaran terjadi saat Ismail bersama istri dan beberapa anggota keluarganya keluar rumah untuk mencari tabung gas yang habis digunakan membuat kue.
Saat kembali, api sudah membesar dan menghanguskan hampir seluruh bangunan beserta isinya.
Dalam peristiwa tersebut tidak ada korban jiwa.
Keluarga Ismail kehilangan rumah, perabotan rumah tangga, perlengkapan usaha, pakaian, dokumen penting hingga uang tunai jutaan rupiah.
Kini Ismail bersama keluarganya tinggal sementara di Rusunawa yang difasilitasi pemerintah setempat.
Berikut wawancara Tribun Gorontalo bersama Ismail Madjegu dalam program Saksi Kata yang sudah tayang di Youtube dan Facebook TribunGorontalo, Sabtu (6/6/2026).
Tribun: Bisa diceritakan bagaimana awal mula kejadian kebakaran di rumah bapak?
Ismail Madjegu: Pagi itu kami membuat kue seperti biasa untuk dijual. Itu memang pekerjaan kami sehari-hari. Saat sedang membuat kue, ternyata gas habis. Karena gas habis, saya bersama istri dan beberapa anak pergi mencari tabung gas pengganti menggunakan bentor.
Tribun: Saat itu jam berapa kira-kira?
Ismail Madjegu: Sekitar pukul 07.30 pagi hari. Kami sedang bersiap melanjutkan memasak karena kue harus segera dibuat untuk dijual.
Tribun: Siapa saja yang ikut keluar mencari gas?
Ismail Madjegu: Saya, istri dan beberapa anak ikut mencari gas.
Tribun: Apakah semua anggota keluarga keluar rumah?
Ismail Madjegu: Tidak. Anak saya ke empat, Febrianti masih tidur di dalam kamar.
Tribun: Berarti saat itu Febrianti sendirian di dalam rumah?
Ismail Madjegu: Iya. Dia masih tidur saat saya pamitan.
Tribun: Berapa jumlah anak Bapak?
Ismail Madjegu: Lima orang.
Tribun: Bisa diceritakan kondisi anak-anak sekarang?
Ismail Madjegu: Satu anak perempuan bekerja di Makassar. Satu lagi bekerja di Gorontalo. Tiga lainnya masih sekolah.
Tribun: Kapan Bapak mulai mengetahui ada sesuatu yang tidak beres?
Ismail Madjegu: Saat di perjalanan mencari gas saya melihat ada asap dari arah permukiman.
Tribun: Saat melihat asap, apakah langsung curiga itu dari rumah?
Ismail Madjegu: Belum. Awalnya saya pikir kebakaran di tempat lain.
Tribun: Kapan mulai merasa curiga?
Ismail Madjegu: Saat asap semakin tebal. Saya mulai merasa tidak tenang dan langsung kembali.
Tribun: Apa yang Bapak lihat saat semakin dekat ke rumah?
Ismail Madjegu: Asap itu ternyata berasal dari arah rumah kami.
Tribun: Apa yang Bapak lakukan saat itu?
Ismail Madjegu: Saya langsung panik dan buru-buru pulang.
Tribun: Bagaimana kondisi rumah saat Bapak tiba?
Ismail Madjegu: Rumah sudah setengah terbakar. Api sudah besar.
Tribun: Api sudah mencapai bagian mana pak?
Ismail Madjegu: Sudah sampai ke atap rumah pokonya sudah setengah terbakar.
Tribun: Apa yang pertama kali bapak pikirkan saat melihat rumah terbakar?
Ismail Madjegu: Anak saya yang masih tidur di dalam rumah.
Tribun: Apa yang Bapak lakukan setelah ingat anak masih di dalam?
Ismail Madjegu: Saya langsung mencari tahu bagaimana keadaan anak saya.
Tribun: Bagaimana akhirnya anak Bapak bisa selamat?
Ismail Madjegu: Alhamdulillah ada tetangga yang melihat kebakaran lalu membangunkan dia lewat jendela.
Tribun: Saat dibangunkan kondisi api bagaimana?
Ismail Madjegu: Api sudah menutupi pintu dan ruang tengah rumah.
Tribun: Berarti tidak bisa keluar lewat pintu ya pak?
Ismail Madjegu: Tidak bisa. Karena itu dia keluar lewat jendela. Api sudah besar sekali pada saat itu. Bahkan tetangga pukul keras jendela untuk membangunkan anak saya.
Tribun: Saat itu apakah dia sempat menyelamatkan barang?
Ismail Madjegu: Dia mau mengambil handphone ada du hpnya tapi tetangga melarang karena api sudah besar.
Tribun: Ada barang miliknya yang terbakar?
Ismail Madjegu: Dua handphone ikut terbakar.
Tribun: Apakah Bapak sempat memadamkan api saat itu pak?
Ismail Madjegu: Sempat. Saya dan warga berusaha memadamkan api dengan air seadanya.
Tribun: Apakah berhasil?
Ismail Madjegu: Tidak. Api terlalu cepat membesar. Sudah sangat besar sampai ke rumah bagian depan untuk tidak sampai ke rumah tetangga.
Tribun: Banyak warga yang membantu?
Ismail Madjegu: Iya, banyak warga yang membantu. Mereka ada yang ambil ember dan alat lain. Api pertama kali kata tetangga dari dapur.
Tribun: Saat itu apakah ada barang yang sempat diselamatkan pak? Atau hangus total?
Ismail Madjegu: Tidak ada semua hangus terbakar.
Tribun: Apa saja barang yang habis terbakar?
Ismail Madjegu: Televisi, kursi, lemari, pakaian, kasur, peralatan dapur dan peralatan rumah tangga lainnya. Habis terbakar semua pak.
Tribun: Bagaimana dengan perlengkapan usaha?
Ismail Madjegu: Semua habis. Peralatan membuat kue juga ikut terbakar kompor bahkan dua tabung gabs untuk tidak ada isi.
Tribun: Padahal usaha itu menjadi sumber penghasilan keluarga?
Ismail Madjegu: Iya. Dari usaha itu kami hidup sehari-hari. Jadi rumah ini hanya hasil jualan kue.
Tribun: Dokumen penting keluarga bagaimana?
Ismail Madjegu: Ikut terbakar.
Tribun: Dokumen apa saja?
Ismail Madjegu: Ijazah dan surat-surat penting lainnya. Termasuk ijazah anak saya hangus.
Tribun: Ada uang tunai yang ikut terbakar?
Ismail Madjegu: Ada sekitar Rp4 juta. Itu juga terbakar.
Tribun: Saat mengetahui semua barang habis terbakar apa yang Bapak rasakan?
Ismail Madjegu: Sedih. Karena semuanya hasil kerja bertahun-tahun.
Tribun: Rumah itu sudah lama ditempati?
Ismail Madjegu: Sudah lama.
Tribun: Bisa diceritakan bagaimana bapak bisa membangun rumah ini?
Ismail Madjegu: Awalnya rumah bantuan yang saya terima sekitar tahun 2008.
Tribun: Setelah itu diperbesar?
Ismail Madjegu: Iya.. (*/Jefri)