TRIBUNKALTIM.CO, TANJUNG SELOR – Kabar gembira datang bagi masyarakat Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) di tengah situasi ekonomi yang serba sulit.
Di saat kondisi ekonomi global tengah dibayangi ketidakpastian akibat memanasnya perang di Timur Tengah yakni Iran vs Amerika Serikat.
Serta nilai tukar rupiah yang terus melemah hingga mencapai Rp 18.000 per USD, sejumlah tarif angkutan umum Damri di wilayah Kalimantan Utara justru mengalami penurunan resmi.
Kebijakan penurunan harga tiket ini terjadi berkat adanya arahan dari Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD) melalui skema perhitungan subsidi angkutan perintis demi menjaga daya beli warga.
Baca juga: Jadwal dan Tarif Bus Damri ke Luar Negeri, Cek Rute Damri dari Kalimantan dan NTT ke 3 Negara
Hal ini disampaikan Kepala Pimpinan Cabang Damri Tanjung Selor, Junaid, Selasa (9/6/2026).
Pihaknya menyebutkan bahwa kebijakan ini berlaku untuk beberapa rute perintis yang dilayani oleh Damri Tanjung Selor.
"Penyesuaian tarif kalau tidak salah sudah sejak beberapa bulan terakhir. Khusus lima segmen perintis turun tarifnya. Kami mengikuti arahan BPTD karena perhitungan biaya subsidi perintis," ujar Junaid kepada TribunKaltara.com, Selasa (9/6/2026).
Baca juga: Jadwal Keberangkatan Bus Damri di Terminal Tanjung Selor Kaltara, 15 Armada Disiapkan
Rincian Rute Damri Kaltara yang Turun Tarif
Dukungan subsidi pemerintah terhadap layanan angkutan perintis ini bertujuan mendasar untuk menjaga aksesibilitas masyarakat di wilayah terpencil.
Adapun beberapa rute perintis yang mengalami penurunan tarif secara signifikan antara lain:
Baca juga: Jadwal 14 Armada Damri Tanjung Selor pada Puncak Arus Balik 2026, Lengkap Tarif Perjalanan
Sementara itu, untuk rute reguler atau non-subsidi terpantau tidak mengalami perubahan harga dan tetap menggunakan tarif normal seperti biasa.
"Tarif Tanjung Selor–Malinau tetap Rp190 ribu, tidak ada perubahan. Begitu juga tarif Tanjung Selor–Samarinda tetap," ungkapnya.
Sifatnya Sementara, Berpotensi Berubah
Meski menjadi angin segar bagi pengguna transportasi umum, Junaid mengungkapkan tarif bersubsidi tersebut masih berpotensi berubah kembali di masa mendatang apabila terdapat kebijakan baru dari pemerintah pusat maupun instansi terkait.
"Informasinya kalau ada perubahan lagi, nanti akan kembali normal lagi," ujarnya.
Baca juga: Ketua DPRD Berau Dorong Operasional Bus DAMRI hingga Pesisir Teluk Sumbang
Kebijakan penurunan tarif ini terbilang cukup menarik perhatian sekaligus kontras dengan realitas ekonomi saat ini.
Sebab, biaya operasional transportasi secara umum di Indonesia cenderung meningkat seiring dengan pelemahan nilai tukar rupiah dan kenaikan berbagai komponen pendukung transportasi lainnya.
Berdasarkan sejumlah laporan ekonomi yang diperoleh TribunKaltara.com dari berbagai sumber, nilai tukar rupiah pada awal Juni 2026 telah menyentuh kisaran Rp18.000 hingga Rp18.190 per USD.
Angka ini tentu menjadi salah satu level terlemah sepanjang sejarah.
Baca juga: Ayo Daftar, Mudik Gratis DAMRI Kaltara 2026 Resmi Dibuka, Simak Jadwal Keberangkatannya
Pelemahan rupiah tersebut sebenarnya turut memicu kekhawatiran besar terhadap kenaikan biaya impor, bahan bakar, serta berbagai kebutuhan operasional sektor transportasi.
Namun, intervensi subsidi perintis BPTD berhasil menjadi penyelamat bagi dompet warga Kalimantan Utara. (*)