Laporan Wartawan Serambi Indonesia Muhammad Nasir | Banda Aceh
SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Dalam beberapa hari terakhir, kawasan Cekungan Andaman menjadi perbincangan hangat berbagai pihak di Aceh.
Perhatian publik meningkat setelah Gubernur Aceh, Muzakir Manaf, menyampaikan harapannya agar gas yang ditemukan oleh Mubadala Energy di Blok South Andaman, lepas pantai Aceh tersebut dapat diolah di kawasan Arun, sehingga memberikan nilai tambah bagi perekonomian Aceh.
Lalu, berapa banyak lapangan migas di kawasan Andaman dan Potensinya?
Cekungan Andaman merupakan salah satu kawasan yang diproyeksikan menjadi sumber gas alam terbesar Indonesia aupun dunia pada masa mendatang.
Optimisme tersebut muncul setelah serangkaian penemuan cadangan gas dalam beberapa tahun terakhir yang menunjukkan besarnya potensi sumber daya migas di wilayah tersebut.
Cekungan Andaman tak hanya ada satu blok, tapi sangat banyak blok migas dan perusahaan yang terlibat di sana.
Secara geografis, Cekungan Andaman berada di lepas pantai Aceh, membentang di bagian utara Selat Malaka, mulai dari perairan Pidie/Pidie Jaya hingga Lhokseumawe/Aceh Utara.
Kawasan ini terdiri atas sejumlah wilayah kerja (WK) migas atau blok migas yang menjadi target eksplorasi berbagai perusahaan energi internasional.
Baca juga: Eksplorasi Blok Andaman Dinilai Berpotensi Ulangi Trauma Arun, ACPD Desak Bangun Sistem Islanding
Setidaknya terdapat enam blok migas utama di kawasan tersebut, yaitu Andaman I, Andaman II, Andaman III, Central Andaman, South Andaman, dan South West Andaman.
Blok yang paling dekat dengan daratan Aceh adalah Andaman III yang berada di lepas pantai Pidie Jaya. Blok ini sebelumnya sempat dikelola oleh Repsol, perusahaan asal Spanyol.
Sementara itu, blok yang letaknya paling jauh dari daratan Aceh adalah Andaman I yang berada mendekati wilayah perbatasan maritim Malaysia dan Thailand.
Dari enam blok tersebut, lima berada di bawah naungan SKK Migas, karena lokasinya berada di luar 12 mil laut.
Adapun Andaman III merupakan satu-satunya blok yang berada di bawah kewenangan Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA), karena terletak di dalam wilayah 12 mil laut dari garis pantai Aceh.
Saat ini, BPMA sudah menawarkan Andaman III kepada calon investor dari Jepang, yaitu Japex dan Jogmec, untuk mendorong kegiatan eksplorasi dan menemukan sumber daya migas baru di kawasan tersebut. Pihak Jepang pun sudah menyatakan minatnya.
Dari seluruh blok yang ada di Cekungan Andaman, baru dua blok yang telah membuktikan keberadaan cadangan gas melalui pengeboran eksplorasi, yaitu Andaman II dan South Andaman.
Andaman II dioperasikan oleh perusahaan asal Inggris, Harbour Energy bersama mitranya sebagai pemegang hak, yaitu perusahaan inggris lainnya, BP dan Mubadala Energy.
Sementara South Andaman dioperasikan oleh Mubadala Energy dengan Harbour Energy sebagai mitra.
• Prof Humam Dorong KEK Arun Jadi Pusat Petrokimia Nasional Berbasis Gas Andaman
Keberhasilan eksplorasi di kawasan Andaman dimulai pada Juli 2022, ketika Harbour Energy mengumumkan penemuan gas di Sumur Timpan-1 yang berada di Blok Andaman II. Lapangan gas ini merupakan yang terjauh, berjarak 120 Km dari daratan Aceh.
Penemuan ini menjadi tonggak penting karena membuktikan keberadaan cadangan yang aktif di kawasan tersebut.
Dalam proyek ini, Harbour Energy bertindak sebagai operator dengan kepemilikan saham sebesar 40 persen, sedangkan Mubadala Energy dan BP masing-masing memiliki partisipasi sebesar 30 persen.
Setahun kemudian, tepatnya pada Desember 2023, giliran Mubadala Energy mengumumkan penemuan gas berukuran besar di Sumur Layaran-1 yang berada di Blok South Andaman.
Lokasi sumur ini relatif lebih dekat ke daratan Aceh dibandingkan sejumlah prospek lainnya di kawasan Andaman, karena berjarak 80 km dari daratan.
Potensi sumber daya gas yang ditemukan di Layaran diperkirakan mencapai lebih dari enam triliun kaki kubik. Temuan tersebut bahkan disebut sebagai salah satu penemuan gas laut dalam terbesar di dunia.
Keberhasilan di Layaran semakin memperkuat keyakinan Mubadala Energy bahwa South Andaman memiliki sistem akumulasi gas dalam skala raksasa.
Oleh karena itu, perusahaan melanjutkan eksplorasi ke Sumur Tangkulo-1 yang masih berada dalam blok yang sama.
Baca juga: South Andaman dan Nasib Aceh: Mengapa Sikap Mualem Harus Didukung Penuh?
Hasilnya kembali positif. Pada Mei 2024, Mubadala Energy mengumumkan penemuan gas baru lagi di Tangkulo dengan potensi sumber daya lebih dari dua triliun kaki kubik. Sumber gas ini semakin potensial, karena jaraknya hanya 65 km dri daratan Aceh.
Dengan demikian, total potensi sumber daya yang telah ditemukan di South Andaman diperkirakan mencapai sekitar delapan triliun kaki kubik gas.
Angka-angka potensi gas tersebut menjadikan South Andaman sebagai salah satu wilayah eksplorasi gas paling menjanjikan di Indonesia saat ini.
Bahkan saat itu, Presiden Prabowo Subianto mengapresiasi Mubadala Energy yang menemukan cadangan gas besar di Andaman. Penemuan cadangan gas ini disebut Prabowo dapat membantu Indonesia meraih swasembada energi pada 2028 atau 2029.
"Mubadala temukan ladang gas, salah satu yang terbesar, di Andaman. Di Asia tenggara mungkin ini ladang terbesar yang selama beberapa puluh tahun, mereka laporkan 10 TCF. Ini luar biasa. Ini saya kira 2028-2029 kita akan target kita ya swasembada energi," sebut Prabowo di IPA Convex 2025 di ICE BSD, Tangerang Selatan, Rabu (21/5/2025).
Selain South Andaman, Mubadala Energy juga memiliki pemegang hak di Andaman I. Namun hingga kini kegiatan eksplorasi di blok tersebut masih terbatas.
Terbaru, Perusahaan ini juga memperoleh hak pengelolaan South West Andaman yang merupakan wilayah baru hasil pengembangan kawasan eksplorasi di sekitar Andaman.
Saat ini fokus utama Mubadala Energy masih tertuju pada South Andaman yang telah menghasilkan dua penemuan gas besar, yakni Layaran dan Tangkulo.
Secara keseluruhan, dari enam blok yang berada di kawasan Cekungan Andaman, baru dua yang telah membuktikan adanya cadangan gas melalui pengeboran eksplorasi.
Sementara empat blok lainnya, yakni Andaman I, Central Andaman, South West Andaman, dan Andaman III, masih menyimpan peluang besar untuk menemukan cadangan migas baru pada masa mendatang.(*)