Sulaiman Tripa: Dari Pantee Raja ke Mimbar Profesor
Amirullah June 09, 2026 12:23 PM

 

Oleh: Prof. Dr. dr. Rajuddin, SpOG(K), Subsp.FER

Di tengah derasnya arus informasi dan semakin singkatnya rentang perhatian masyarakat terhadap bacaan panjang, masih ada segelintir orang yang memilih bertahan dalam sunyi dunia literasi. Mereka tidak sekadar membaca, tetapi juga menulis. Tidak hanya sesekali, melainkan menjadikannya jalan hidup. 

Salah satu di antaranya adalah Prof. Dr. Sulaiman Tripa, S.H., M.Hum., yang pada 9 Juni 2026 mencapai puncak karier akademiknya setelah dikukuhkan sebagai Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala dalam sidang senat terbuka yang dipimpin oleh Rektor USK, Prof. Dr. Mirza Tabrani, S.E., M.B.A.

Pengukuhan guru besar lazimnya dipahami sebagai puncak karier akademik seseorang. Namun, bagi Sulaiman Tripa, capaian itu tampaknya bukan titik akhir, melainkan salah satu penanda perjalanan panjang yang telah ditempuhnya sejak masa kuliah.

Perjalanan yang dibangun bukan hanya melalui ruang kuliah dan jurnal ilmiah, tetapi juga melalui ribuan halaman tulisan yang lahir dari kegelisahan intelektual dan kepedulian terhadap masyarakat.

Nama Sulaiman Tripa tidak asing bagi pembaca media di Aceh. Sejak masih menjadi mahasiswa pada akhir 1990-an, tulisannya telah menghiasi halaman opini berbagai surat kabar, terutama Serambi Indonesia. Pada masa itu, tidak banyak mahasiswa yang mampu secara konsisten menembus ruang opini di media massa. 

Beliau mampu mempertahankan konsistensi tersebut hingga puluhan tahun kemudian. Menulis bagi Sulaiman bukan aktivitas sambilan. Menulis adalah bagian dari identitas dirinya. Karena itu, tidak mengherankan jika setiap tanggal 2 April, yang merupakan hari kelahirannya, ia memiliki tradisi unik: meluncurkan buku baru. 

Tradisi itu telah berlangsung selama lebih dari dua dekade. Pada ulang tahunnya pada tahun 2026, beliau mempersembahkan buku Bencana Hukum dan Ekologi Berketuhanan. Setahun sebelumnya, menerbitkan "Mengapa Bernegara Hukum". Sebelumnya, puluhan karya lain lahir dari tangannya.

Tradisi tersebut mengandung pesan yang mendalam. Di saat banyak orang merayakan usia dengan pesta dan seremoni, Sulaiman memilih merayakannya dengan gagasan. Beliau menjadikan hari lahir sebagai momentum untuk memberi manfaat bagi publik melalui tulisan.

Jejak kepenulisannya dimulai sejak masa kuliah. Buku pertamanya, Kekerasan Itu Tak Damai Sekalipun, terbit pada tahun 2001. Setahun kemudian menyusul Mencari Bumi yang Tak Gelisah. Kedua buku itu lahir pada masa Aceh masih berada dalam pusaran konflik bersenjata. Di dalamnya tergambar kegelisahan seorang anak muda yang mencoba memahami realitas sosial di sekitarnya.

Barangkali pengalaman hidup di tengah konflik, dinamika sosial, dan pergulatan masyarakat Aceh itulah yang kemudian membentuk sensitivitas intelektualnya terhadap persoalan hukum, keadilan, dan hak-hak masyarakat adat.

Lahir di Pantee Raja, Kabupaten Pidie, pada 2 April 1976, Sulaiman berasal dari keluarga sederhana. Ayahnya, almarhum Teuku Umar bin Ahmad, adalah petani sekaligus dipercaya sebagai khatib di masjid kampungnya. Dari lingkungan keluarga inilah tumbuh nilai-nilai kesederhanaan, ketekunan, dan pengabdian yang kemudian menjadi fondasi perjalanan akademiknya.

Perjalanan pendidikan membawanya dari Universitas Syiah Kuala ke Universitas Diponegoro. Di kampus tersebut beliau menyelesaikan pendidikan magister dan doktoral bidang hukum. Namun, yang menarik, produktivitas intelektualnya justru semakin meningkat selama masa studi. 

Kuliah tidak membuatnya berhenti menulis. Sebaliknya, ruang akademik menjadi lahan subur bagi lahirnya gagasan-gagasan baru. Produktivitas tersebut tidak hanya terlihat dari jumlah buku yang ditulis, tetapi juga dari kontribusinya dalam membangun tradisi akademik. Salah satu contoh penting adalah ketika beliau dipercaya mengelola Kanun Jurnal Ilmu Hukum. 

Setelah tsunami Aceh, jurnal tersebut mengalami masa sulit dan kehilangan akreditasi. Melalui kerja keras yang tidak mudah, jurnal itu berhasil bangkit kembali dan memperoleh pengakuan nasional sebagai jurnal bereputasi. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa membangun institusi akademik sering kali membutuhkan ketekunan yang sama besarnya dengan menulis sebuah buku. 

Sebab, yang dibangun bukan hanya dokumen, tetapi budaya akademik yang berkelanjutan. Tidak mengherankan jika tema yang diangkat dalam pidato pengukuhan guru besarnya juga mencerminkan konsistensi perhatian akademiknya. 

Dalam pidato berjudul Reorientasi Paradigmatik Pengakuan Hukum Tanah Adat dalam Masyarakat yang Sedang Membangun, beliau mengajak publik untuk meninjau kembali posisi masyarakat hukum adat dalam sistem hukum nasional. Menurutnya, pengakuan terhadap masyarakat hukum adat telah memperoleh dasar konstitusional melalui Pasal 18B ayat (2) Undang-Undang Dasar 1945. 

Namun, implementasi pengakuan tersebut masih menghadapi banyak hambatan. Berbagai aturan sektoral membuat proses pengakuan tanah adat menjadi panjang, rumit, dan sering kali melelahkan bagi masyarakat. Dalam konteks Aceh, persoalan ini memiliki makna yang lebih luas. Tanah bukan sekadar aset ekonomi. Tanah adalah ruang hidup, identitas budaya, dan bagian dari memori kolektif masyarakat. 

Karena itu, pendekatan hukum yang terlalu administratif sering kali gagal memahami dimensi sosial dan historis yang melekat pada tanah adat. Melalui pidatonya, Sulaiman menawarkan bahwa perubahan masyarakat hukum adat bukan hanya sebagai objek untuk membuktikan keberadaannya, melainkan sebagai bagian integral dari bangsa yang hak-haknya wajib dihormati dan dilindungi.

Gagasan tersebut sesungguhnya tidak hanya relevan bagi masyarakat adat. Beliau juga menjadi pengingat bahwa hukum pada akhirnya harus hadir bagi manusia. Hukum tidak boleh terjebak dalam formalitas yang menjauh dari rasa keadilan masyarakat.

Di balik capaian akademik yang diraihnya hari ini, terdapat pelajaran penting yang patut direnungkan. Guru besar bukanlah gelar yang lahir dalam semalam. Beliau merupakan hasil akumulasi disiplin, konsistensi, dan ketekunan yang dijaga dalam jangka panjang.

Dalam era ketika banyak orang ingin memperoleh hasil secara instan, perjalanan Prof. Sulaiman Tripa menunjukkan jalan yang berbeda. Beliau membuktikan bahwa karya yang terus ditulis, gagasan yang terus dirawat, dan pengabdian yang dilakukan tanpa henti pada akhirnya akan menemukan pengakuan sendiri.

Dari Pantee Raja hingga mimbar guru besar Universitas Syiah Kuala, perjalanan itu bukan hanya kisah tentang seorang akademisi yang berhasil mencapai puncak kariernya. Lebih dari itu, beliau adalah kisah tentang kekuatan literasi, keteguhan dalam menjaga tradisi intelektual, dan keyakinan bahwa perubahan selalu dimulai dari gagasan yang ditulis dengan jujur dan diperjuangkan dengan sabar.

 

Penulis adalah Guru Besar Universitas Syiah Kuala; Ketua IKA UNDIP Aceh; Sekretaris ICMI Orwil Aceh. (email:rajuddin@usk.ac.id)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.