Nakes RSUD dr Koesnadi Bondowoso Dipukul Keluarga Pasien, Dokter Yusdeny Ungkap Fakta
Rendy Nicko Ramandha June 09, 2026 12:40 PM

TRIBUNJATIMTIMUR.COM, BONDOWOSO - Viral video seorang perawat diduga dipukul oleh keluarga pasien. Video tersebut diunggah di akun media sosial dokter spesialis di RSUD dr Koesnadi, Yusdeny Lanasakti, pada Senin (8/6/2026).

Diketahui perawat tersebut berinisial AP, yang bertugas di Ruang Dahlia RSUD dr Koesnadi Bondowoso.

Dalam keterangan videonya, Yusdeny menerangkan kronologi sebelum terjadinya insiden dugaan pemukulan tersebut.

Salah seorang kakak pasien sempat menghubunginya untuk menyampaikan keluhan terkait layanan seorang perawat via pesan WhatsApp pada 30 Mei 2026. Kemudian, Yusdeni berinisiatif menjembatani masalah tersebut dengan meneruskannya kepada Kepala Ruangan.

Baca juga: Pria di Bondowoso Gendong Ibu dan Istri Sakit saat Rumahnya dan Kakaknya Ludes Terbakar

Pasien merupakan seorang perempuan berusia 18 tahun yang sedang dirawat akibat kecelakaan.

Diketahui, keluarga pasien ini mengeluhkan infus yang terlepas. Karena pemasangan infus dinilai sulit, keluarga sempat meminta agar tidak dipasang infus terlebih dahulu.

"Saya sampaikan pada kepala ruangan," ujarnya seperti dikutip dalam video.

Namun ternyata seminggu setelah itu, Yusdeny baru mendengar kabar bahwa keluhan tersebut berbuntut panjang.

Ayah pasien datang ke kantor sambil marah-marah, sempat dilerai oleh perawat lainnya, dan mengancam akan menunggu saat kepulangan pasien. Ternyata ancaman itu terbukti, ayah pasien sengaja menunggu di area parkir.

Karena perawat tersebut tidak ingin memperpanjang masalah, ia mencoba menghindar dengan membelokkan mobilnya ke halaman RSUD. Namun, ayah pasien sempat mengejar. Saat bertemu, tanpa bicara apa-apa, ayah pasien diduga langsung memukul korban sebanyak dua kali sebelum akhirnya dilerai.

Usai kejadian itu, korban dan perawat lainnya berinisiatif melaporkan dugaan pemukulan tersebut ke Polres Bondowoso.

"Disertai visum ya," jelasnya.

Baca juga: Pria di Bondowoso Gendong Ibu dan Istri Sakit saat Rumahnya dan Kakaknya Ludes Terbakar

Yusdeny menyayangkan karena dirinya baru mengetahui kejadian ini. Karena itu, ia sempat menunggu klarifikasi dan kronologi lengkap dari perawat yang bersangkutan.

Setelah mendengar penjelasan korban, Yusdeny mengaku miris sekaligus dongkol. Sebab, keluhan medis dan pelayanan pasien sebenarnya memiliki ranah pengaduannya sendiri. Mulai dari ranah etik hingga ranah disiplin pekerjaan. Bahkan, nakes juga dibatasi, diawasi, dan diancam oleh UU Praktik Kedokteran yang hukumannya tidak main-main.

"Tapi itu (kekerasan) bukan lagi hal yang dibenarkan. Kalau keluarga pasien atau siapa pun itu memukul atau melakukan kekerasan terhadap nakes," jelasnya.

Yusdeny merasa makin miris karena kasus ini lama tidak terdengar. Ia menduga ada kesengajaan untuk memendam atau menutupi kejadian ini agar tidak muncul ke permukaan.

"Supaya tak muncul ke permukaan. Karena ternyata dari pihak manajemen kita sendiri (berusaha) meredam kasus ini, dengan tujuan supaya tak merembet ke mana-mana, supaya polisi juga tak datang. Itu alasannya," jelasnya.

"Tapi pertanyaan saya sebagai seorang anak yang bekerja di rumah sakit besar. Untuk diketahui saja, saya pernah menyelesaikan kasus seperti ini dua kali. Pertama tahun 2017," terangnya.

Dia terkejut ketika menemukan fakta lanjutan bahwa perawat ini diduga dipaksa membuat surat pernyataan yang isinya adalah meminta maaf kepada pihak rumah sakit atas perlakuan yang tidak menyenangkan. Sekaligus, diminta meminta maaf kepada ayah pasien yang notabene merupakan terduga pelaku pemukulan.

"Ini yang sangat mengusik nurani ya," ujarnya.

Menurut Yusdeny, perawat ini berada dalam posisi terjepit karena statusnya masih sebagai tenaga kontrak. Korban kemudian dihadapkan pada tekanan untuk terpaksa berdamai dan mencabut laporan di kepolisian.

Sebelum itu sempat beredar flyer dari DPD PPNI Bondowoso yang berisi tulisan dukungan pada 5 Juni 2026. Flyer tersebut bertuliskan "DPD PPNI Bondowoso mengecam kekerasan kepada perawat".

Sementara itu dikonfirmasi terpisah Plh Direktur RSUD dr Koesnadi Moh Jasin, dan Tim Hukum RSUD dr Koesnadi, Gigih B. Soepranoto enggan memberikan komentar.

Moh Jasin mengatakan sedang tak enak badan. Sementara, Gigih mengaku tak bisa memberikan komentar karena yang bersangkutan sudah saling memaafkan. 

(Sinca Ari Pangistu/TribunJatimTimur.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.