Antrean Panjang di Pabrik Picu Penutupan Timbangan di Pasangkayu, TBS Menumpuk dan Mulai Membusuk
Nurhadi Hasbi June 09, 2026 12:47 PM

 

TRIBUN-SULBAR.COM, PASANGKAYU - Antrean panjang truk pengangkut tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di pabrik kembali berdampak pada aktivitas perdagangan sawit di Kabupaten Pasangkayu, Sulawesi Barat.

Sejumlah timbangan atau tempat pengepul buah sawit memilih menutup sementara operasional karena khawatir mengalami kerugian akibat lambatnya proses pengiriman ke pabrik.

Pantauan Tribun-Sulbar.com, Selasa (9/6/2026), hampir seluruh timbangan di sejumlah wilayah memasang papan bertuliskan “OFF” sebagai tanda tidak menerima pembelian buah sawit dari masyarakat.

Dua di antaranya terlihat berada di Desa Letawa, Kecamatan Sarjo, Kabupaten Pasangkayu.

Baca juga: Nama Raffi Ahmad Muncul di Kasus Suap Bea Cukai, KPK Dalami Fakta di Persidangan

Baca juga: KRONOLOGI 2 Truk Pengangkut Sawit di Mamuju Tengah Adu Banteng HIngga 1 Sopir Tewas

Suasana di lokasi tampak lengang tanpa aktivitas bongkar muat seperti biasanya.

Di halaman timbangan, tumpukan tandan buah segar terlihat mulai menggunung.

Sebagian buah bahkan mulai membrondol, dengan butiran sawit berserakan di sekitar tumpukan akibat terlalu lama menunggu pengiriman ke pabrik.

Kondisi tersebut dikhawatirkan menurunkan kualitas buah sekaligus mengurangi nilai jual.

Timbangan Sawit Tutup Dua Hari, Stok Menumpuk

Akmal, salah seorang admin timbangan, mengatakan penutupan sementara sudah berlangsung sejak dua hari terakhir.

Menurutnya, antrean truk di pabrik yang semakin panjang membuat pengepul kesulitan mengosongkan stok buah di timbangan.

“Sudah dua hari kami tutup. Kalau dipaksakan beli terus, buah hanya menumpuk di sini karena mobil harus antre sangat lama di pabrik,” ujarnya.

Ia menyebut, timbangan sesekali masih dibuka, namun hanya untuk pelanggan tertentu atau kondisi yang benar-benar mendesak.

“Itu pun sangat terbatas,” katanya.

Akmal menjelaskan, terakhir timbangan membeli TBS dari petani dengan harga Rp2.400 per kilogram.

Sementara harga di tingkat pabrik berada di kisaran Rp2.800 per kilogram.

Namun, selisih harga tersebut dinilai tidak mampu menutupi biaya operasional dan risiko kerusakan buah akibat antrean panjang.

Para sopir truk pengangkut sawit bahkan harus menunggu dua hingga tiga hari untuk bisa membongkar muatan di pabrik.

Akibatnya, armada pengangkut terbatas dan timbangan tidak lagi memiliki ruang untuk menerima pasokan baru dari petani.

Kondisi ini membuat aktivitas jual beli sawit di tingkat pengepul praktis terhenti sementara.

Petani juga ikut terdampak karena kesulitan menjual hasil panen.

Para pengepul berharap antrean di pabrik segera teratasi agar distribusi TBS kembali lancar dan aktivitas pembelian di timbangan dapat normal kembali. (*)

Laporan Wartawan Tribun-Sulbar.com, Taufan

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.