Saman Masuk Sekolah di Busan: Anak-anak Korea Selatan Belajar Kebersamaan dari Tanah Gayo
Sri Widya Rahma June 09, 2026 12:54 PM

Laporan Wartawan Tribun Gayo Fikar W Eda | Busan, Korea Selatan

TribunGayo.com, BUSAN - Pagi itu Aula Chungriyeoul Elementary School di Busan, Korea Selatan, dipenuhi suara riang anak-anak.

Mereka duduk berjejer dengan rasa ingin tahu yang besar.

Di hadapan mereka, para penari Saman memperagakan gerakan demi gerakan yang selama ratusan tahun diwariskan dari dataran tinggi Gayo, Provinsi Aceh, Indonesia.

Workshop Tari Saman di Sekolah Dasar Korea Selatan

Pada Senin (8/6/2026), Tari Saman tidak hanya tampil sebagai tontonan dalam rangkaian Busan International Dance Festival (BIDF).

Untuk beberapa jam, tarian yang telah diakui dunia itu berubah menjadi pelajaran hidup bagi puluhan siswa sekolah dasar Korea Selatan.

Workshop Saman tersebut dipimpin langsung oleh Aminullah Adnan, CEO sekaligus pelatih Duta Saman Institute (DSi), didampingi dua asisten pelatih muda, Khairul Anwar dan Said Ahmad.

Seluruh anggota tim Saman yang hadir di Busan turut terlibat mendampingi para siswa.

Kegiatan dibagi dalam dua sesi. Sesi pertama diikuti siswa kelas satu hingga kelas tiga, sementara sesi kedua diperuntukkan bagi siswa kelas empat hingga kelas enam.

Pembagian itu dilakukan agar setiap anak mendapat kesempatan belajar secara lebih dekat dan nyaman.

Di awal kegiatan, Aminullah memperkenalkan Tari Saman bukan sekadar sebagai tarian tradisional dari Aceh.

Ia menjelaskan bahwa di balik gerakan yang cepat dan kompak, terdapat nilai-nilai kehidupan yang terus dijaga masyarakat Gayo.

"Saman bukan hanya soal indahnya gerak. Melainkan semangat kebersamaan dan saling menjaga," kata Aminullah di hadapan para siswa.

Kalimat sederhana itu menjadi jembatan yang menghubungkan dua budaya yang berbeda.

Baca juga: Sekda Aceh Apresiasi Delegasi Tari Saman di Busan: Wow, Mantap Saman Kita Keren!

Siswa Sekolah Dasar Korea Selatan Belajar Tari Saman

Anak-anak yang semula hanya menyaksikan dengan penuh rasa ingin tahu, perlahan mulai mengikuti instruksi.

Mereka belajar cara duduk berbaris, menjaga posisi tubuh, serta mengikuti irama tepukan yang menjadi ciri khas Saman.

Sesekali, terdengar tawa ketika gerakan mereka belum serempak.

Namun, justru di situlah suasana hangat tercipta.

Para siswa tidak merasa sedang mengikuti pelajaran yang sulit. Mereka menikmati setiap prosesnya sebagai permainan yang menyenangkan.

Para anggota tim Saman dengan sabar mendampingi. Mereka membetulkan posisi tangan, mengajarkan pola tepukan sederhana, dan memberi semangat ketika anak-anak berhasil mengikuti gerakan bersama-sama.

Pemandangan itu menghadirkan sesuatu yang mengharukan. Di sebuah sekolah dasar di Busan, budaya yang lahir ribuan kilometer dari sana menemukan rumah sementara di hati anak-anak Korea.

Bahasa boleh berbeda, tetapi irama kebersamaan ternyata mudah dipahami siapa saja.

Beberapa siswa tampak begitu antusias. Mereka berulang kali mencoba menghafal gerakan yang baru diajarkan.

Ketika satu kelompok berhasil bergerak serempak, tepuk tangan spontan pun terdengar dari teman-teman mereka.

Bagi DSi, workshop tersebut memiliki makna yang lebih besar daripada sekadar pengenalan tari.

Ini adalah bentuk diplomasi budaya yang berlangsung secara alami. Tidak melalui pidato panjang atau pertemuan resmi, melainkan lewat perjumpaan sederhana antara anak-anak yang belajar mengenal dunia melalui seni.

Momentum itu juga menjadi penanda penting bagi perjalanan Tari Saman di panggung internasional.

Jika selama ini Saman lebih sering tampil sebagai pertunjukan festival, kali ini ia hadir sebagai materi pembelajaran di lingkungan sekolah.

Sebuah Langkah Kecil yang Menyimpan Makna Besar

Di ruang kelas dan aula sekolah itulah, anak-anak Busan mengenal Indonesia-Aceh untuk pertama kalinya.

Mereka mungkin belum pernah mendengar nama Gayo sebelumnya.

Namun, melalui tepukan tangan yang ritmis, gerakan yang kompak, dan pesan tentang kebersamaan, mereka mulai memahami nilai yang hidup di balik Tari Saman.

Ketika workshop berakhir, para siswa masih tampak bersemangat menirukan gerakan yang baru mereka pelajari.

Sementara para penari Saman bersiap meninggalkan sekolah, mereka membawa sebuah kenangan yang sulit dilupakan.

Hari itu, Saman tidak hanya dipentaskan di Korea Selatan.

Saman diajarkan, dipelajari, dan untuk sesaat menjadi bagian dari kehidupan anak-anak Busan.

Sebuah pertemuan budaya yang sederhana, tetapi menyimpan harapan bahwa persahabatan antarbangsa dapat tumbuh dari gerakan tangan, senyum, dan semangat kebersamaan yang sama.

Baca juga: Dari Pasir Tripe Jaya ke Panggung Dunia Busan: Jejak Said Ahmad Menjaga Warisan Saman

Undangan Panitia BIDF kepada Kelompok Seni Indonesia

Sebelumnya, tim kesenian tradisi Tari Saman Gayo, dari Provinsi Aceh tersebut hadir ke Korea Selatan untuk tampil di ajang panggung dunia, mewakili Indonesia dalam ajang bergengsi Busan International Dance Festival, pada 2 hingga 9 Juni 2026 di Busan, Korea Selatan (Korsel).

Ketua Lembaga Seni Budaya Gayo Aceh (Lesbuga), M Aris kepada waratwan TribunGayo.com Fikar W Eda saat di Jakarta, Senin (4/5/2026), menegaskan bahwa Tari Saman Gayo bukan sekadar pertunjukan seni, melainkan identitas budaya yang sarat nilai kebersamaan, disiplin dan spiritualitas.

“Saman adalah wajah Indonesia yang utuh. Ia lahir dari kearifan lokal, tumbuh dengan kekuatan kolektif, dan telah diakui dunia,” ujarnya.

Panitia Busan International Dance Festival (BIDF), dalam surat undangannya yang ditujukan kepada Lesbuga, menyampaikan bahwa festival tersebut mengundang kelompok seni dari berbagai negara untuk menampilkan karya tari tradisional maupun kontemporer sebagai bagian dari pertukaran budaya global dan penguatan jejaring seni pertunjukan internasional.

Panitia juga menegaskan bahwa mereka memberikan ruang bagi karya-karya yang merepresentasikan identitas budaya yang kuat, memiliki keunikan, serta mampu menyampaikan pesan universal kepada publik internasional.

Menanggapi hal tersebut, M Aris menilai bahwa Tari Saman sangat memenuhi kriteria yang dimaksud.

“Apa yang diminta oleh panitia festival itu ada pada Saman. Keunikan, kekuatan, dan pesan universal semuanya menyatu dalam satu tarian,” katanya.

Tari Saman sendiri telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda oleh UNESCO.

Pengakuan ini menjadi dasar kuat bahwa Saman memiliki legitimasi untuk tampil di forum internasional.

Menurut M Aris, partisipasi Saman dalam festival internasional bukan hanya soal pertunjukan, tetapi juga diplomasi budaya.

“Ketika Saman tampil, dunia tidak hanya melihat gerak yang serempak, tetapi juga merasakan pesan persatuan, harmoni, dan kekuatan tradisi Indonesia,” ujarnya.

Jadwal Pertunjukan Tim Saman di BIDF 2026

  • Jumat (5/6/2026): Pembukaan Busan International Dance Festival di Busan Cultural Centre
  • Sabtu (6/6/2026) dan Minggu (7/6/2026): Penampilan Saman pertama di Handeu Beach Stage
  • Senin (8/6/2026): Workshop Saman di Chungriyeoul Elementary School
  • Selasa (9/6/2026): Penampilan terakhir di Geoje Arts Centre Grand Theater, sekaligus penutupan BIDF. (*) 

Baca juga: Pertunjukan Saman Hipnotis Penonton Busan International Dance Festival

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.