TRIBUNNEWS.COM - Kisah paralel Lionel Messi membutuhkan waktu lama untuk diselesaikan, begitulah anggapan dari Kolumnis BBC Sport, Guillem Balague.
Pada Agustus 2011 silam, Lionel Messi menjadi kapten timnas Argentina.
Waktu berjalan perlahan, namun nasib baik tidak pernah menyelimuti sang ikonik sepak bola dunia yang baru datang di kemudian hari.
Final Piala Dunia 2014, Argentina kalah dari Jerman melalui perpanjangan waktu di Maracana, Brasil.
Lalu pada final Copa Amerika 2015, Lionel Messi cs kalah adu penalti dari Chile.
Satu tahun berikutnya, momen pahit terulang lagi karena Argentina kalah dari Chile dengan skema yang sama di laga final Copa Amerika 2016.
Tiga final dalam tiga tahun selalu berujung dengan kekalahan, dan setiap kekalahan meningkatkan ekspektasi publik terhadap sang megabintang.
Setelah itu, ada periode-periode yang dianggap sebagai masa tenang karena tak begitu menjanjikannya hasil timnas Argentina bersama Lionel Messi.
Baca juga: Uji Coba Mepet Kick-off Piala Dunia 2026, Argentina Tetap Turunkan Messi
Hingga pada Copa Amerika 2019, Lionel Messi memasuki ruang konferensi pers media dan mengkritik keras konfederasi sepak bola Amerika Selatan.
Kondisinya saat itu, Argentina mengalami kekalahan dari tuan rumah Brasil
Dua tahun berselang, setelah pandemi menjadi momen 'pelepasan' yang dianggap Guillem Balague untuk Lionel Messi.
Awal dari kesuksesan Argentina adalah penunjukan Lionel Scaloni sebagai juru taktik yang kemudian melahirkan prestasi demi prestasi dengan Lionel Messi.
Argentina berhasil mengalahkan Brasil di final Copa Amerika 2021. Kemenangan itu terasa sangat berharga untuk mengakhiri penantian 28 tahun meraih gelar juara.
Berbagai laporan menyebutkan, kemenangan itu tidak lepas dari pidato haru Lionel Messi saat di ruang ganti yang membuat para pemain menangis sebelum pertandingan.
Satu tahun berikutnya, di Piala Dunia 2022 Qatar, Lionel Messi menuliskan kisahnya dalam sejarah Argentina yang meraih gelar juara dunia setelah tiga dekade.
Semua dengan Lionel Messi terasa lebih mudah pada masa ini.
"Karena ada Lionel Messi, secara moral dan mental para pemain Argentina lebih percaya diri. Secara taktikal, satu dua sentuhannya masih menjadi yang terbaik di dunia, dan melahirkan momen krusial untuk tim," ujar analis sepak bola asal Semarang, Gigih Windar saat dikonfirmasi Tribunnews pada Selasa (9/6/2026).
"Mindset para pemain Argentina begini, 'Dari 22 pemain yang ada di atas lapangan (jumlah pemain kedua tim), bagi pemain Argentina siapa yang paling jago? Ya Messi'," ungkap Gigih dengan analoginya.
Mau itu Virgil van Dijk dengan kukuhnya tembok pertahanan Belanda, maupun Mbappe dengan kualitasnya bersama Prancis, semua itu tidak berlaku jika ada Messi di atas lapangan.
Semua pemain Argentina sudah tahu bahwa dewa sepak bola berada di kubu mereka, dan mereka percaya diri untuk meraih kemenangan.
Gelandang Argentina, Enzo Fernandez pernah berkata, kalau ada Lionel Messi di atas lapangan, mereka yakin. Yakin yang terbaik pasti akan menang itu Argentina.
Dalam taktikal, peran Lionel Messi mungkin sudah banyak berevolusi dari waktu ke waktu seiring bertambahnya usia.
Namun itu, tidak menutup cara berpikirnya di lapangan, Lionel Messi masih menjadi satu di antara sekian banyak pemain yang memiliki cara pandang berbeda dalam melihat ruang, membaca ruang, dan sentuhan yang klinis.
Messi memang jarang membantu rekannya di lini pertahanan, namun perannya di tengah sebagai sentral lah yang menghidupkan permainan Argentina.
Di Piala Dunia 2022 menurut Guillem Balague, Lionel Messi sebuah sintesis dari semua yang telah ada sebelumnya.
Satu momen di babak semifinal saat melawan Kroasia, Lionel Messi adu lagi dengan Josko Gvardiol di sisi sayap kanan.
Dia mampu melewati Gvardiol dengan mudah untuk masuk ke kotak penalti Kroasia.
Baca juga: Lionel Messi Masuk Daftar, Pelatih Timnas Argentina Buka Opsi Rombak Skuad Piala Dunia 2026
Lalu dalam final melawan Prancis, umpannya membuka jalan bagi Nahuel Molina, lari tanpa bola dan menghasilkan rebound yang kemudian menjadi gol ketiga Argentina yang dicetak oleh Messi.
"Messi terakhir selalu menjadi Messi terbaik," komentar Pablo Aimar, idola masa kecil Lionel Messi.
Dan untuk saat ini, untuk Piala Dunia 2026, kalimat itu mungkin masih berlaku, apa yang telah dicapai Lionel Messi selama dua dekade dengan timnas Argentina bukanlah sekadar akumulasi trofi dan statistik.
"Ini adalah penafsiran ulang tentang apa yang bisa menjadi seorang pesepak bola di setiap tahap kariernya."
"Sang pemain sayap remaja yang memukau Capello. Sang penyerang palsu yang mengubah peta taktik sepak bola Eropa. Sang gelandang bertahan yang belajar membuat orang lain menjadi hebat."
"Sang kapten yang akhirnya menjadi sosok yang dibutuhkan negaranya, pengatur permainan tim juara Piala Dunia. Dan sekarang, sang veteran yang jarang berlari namun tetap melihat segala sesuatu lebih dulu," jelas Guillem Balague dalam tulisannya.
(Tribunnews.com/Sina)