Nasib Stadion Mandala Krida Tak Kunjung Jelas, Suporter PSIM Bakal Gelar Topo Bisu saat Malam 1 Suro
Muhammad Fatoni June 09, 2026 01:14 PM

 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Nasib dan status Stadion Mandala Krida Yogyakarta hingga saat ini tak kunjung menemui kejelasan.

Pun, belum ada titik terang apakah PSIM Yogyakarta bisa menggunakan Stadion Mandala Krida sebagai homebase di kompetisi Super League musim depan atau tidak.

Para suporter setia PSIM Yogyakarta juga telah bersuara dan menyampaikan aspirasi melalui sejumlah cara terkait harapan agar Laskar Mataram bisa segera kembali bermarkas di Stadion Mandala Krida.

Terbaru, suporter PSIM Yogyakarta berencana menggelar aksi bertajuk Topo Bisu Mandala Krida pada malam 1 Suro 2026 mendatang. 

Aksi tersebut menjadi bentuk aspirasi damai suporter terkait kondisi Stadion Mandala Krida yang hingga kini belum dapat digunakan sebagai kandang utama PSIM di kompetisi Super League 2026/2027.

Kegiatan tersebut dijadwalkan berlangsung pada Selasa (16/6/2026) pukul 21.00 WIB.

Aksi Topo Bisu

Menurut rencana, para peserta aksi akan memulai perjalanan dari Wisma PSIM Yogyakarta sebelum berjalan mengelilingi Stadion Mandala Krida.

Dalam poster yang beredar di media sosial, peserta diminta mengenakan pakaian serba hitam dan mengikuti aksi dengan berjalan dalam diam. 

Penggagas aksi, Andre Miliran, mengatakan topo bisu tersebut merupakan bentuk penyampaian aspirasi secara damai yang ditujukan kepada seluruh pihak yang memiliki kepentingan terhadap masa depan PSIM Yogyakarta maupun Stadion Mandala Krida.

“Ini aksi damai yang kami harapkan mendapat perhatian dari pihak-pihak terkait dan stakeholder PSIM,” ujar Andre, Senin (8/6/2026).

Baca juga: Kabar Baik bagi PSIM Yogyakarta, Sultan Beri Sinyal Kuat Mandala Krida Bisa Digunakan Laskar Mataram

Ia menambahkan, aksi simbolik tersebut berangkat dari kekecewaan suporter setelah PSIM Yogyakarta yang sukses promosi ke kasta tertinggi sepak bola Indonesia justru belum dapat menggunakan Stadion Mandala Krida sebagai kandang utama.

Pelaksanaan Topo Bisu Mandala Krida ini juga bertepatan dengan rangkaian tradisi malam 1 Suro di Yogyakarta. 

Pada malam yang sama, Keraton Yogyakarta juga akan menggelar Kirab Pusaka yang setiap tahun menarik perhatian masyarakat.

Jika Kirab Pusaka Keraton dikenal sebagai tradisi spiritual yang telah berlangsung turun-temurun, Topo Bisu Mandala Krida menjadi bentuk ekspresi modern dari komunitas sepak bola Yogyakarta yang menyuarakan harapan agar stadion kebanggaan mereka segera kembali layak digunakan.

”Melalui aksi ini, para suporter berharap persoalan yang membelit Stadion Mandala Krida dapat segera menemukan solusi sehingga PSIM dapat kembali bermain di rumahnya sendiri pada kompetisi kasta tertinggi sepak bola Indonesia,” tukasnya.

Tim Musafir

Seperti diketahui, PSIM Yogyakarta menjadi tim musafir dalam beberapa waktu terakhir.

Pasalnya, Laskar Mataram belum bisa menggunakan Stadion Mandala Krida sebagai kandang mereka saat berkompetisi di Super League 2025/2026.

Stadion yang selama ini menjadi identitas Laskar Mataram itu dinilai belum memenuhi sejumlah persyaratan kompetisi, terutama terkait fasilitas penerangan. 

Kondisi tersebut membuat PSIM Yogyakarta harus memindahkan laga kandangnya ke Stadion Sultan Agung, Bantul.

Bagi suporter, persoalan ini tidak hanya menyangkut aspek infrastruktur.

Pasalnya, Stadion Mandala Krida dianggap sebagai bagian penting dari identitas klub dan sejarah sepak bola Yogyakarta.

”Karena itu, bermain di luar stadion dinilai mengurangi kedekatan emosional antara tim dan para pendukungnya,” ucap Andre.

KRITIK LEWAT MURAL: Sejumlah suporter PSIM Yogyakarta saat membuat mural di sebidang dinding yang berada di Jalan Ringroad Selatan, Panggungharjo, Sewon, Bantul, Senin (1/6/2026).
KRITIK LEWAT MURAL: Sejumlah suporter PSIM Yogyakarta saat membuat mural di sebidang dinding yang berada di Jalan Ringroad Selatan, Panggungharjo, Sewon, Bantul, Senin (1/6/2026). (Istimewa)

Aspirasi Lewat Mural

Aksi menyuarakan aspirasi terkait Stadion Mandala Krida Yogyakarta juga dilakukan dalam bentuk lain.

Wadah suporter PSIM Yogyakarta yang tergabung dalam Guyub Seni (GS) Mataram menggelar aksi mural di Ringroad Selatan, Panggungharjo, Sewon, Bantul, Senin (1/6/2026). 

Aksi tersebut menjadi bentuk respons sekaligus kritik terhadap lambannya penanganan kasus korupsi dan renovasi Stadion Mandala Krida yang sudah memakan waktu cukup lama.

Perwakilan GS Mataram Wage menjelaskan, gerakan ini dipicu oleh sejumlah pernyataan pejabat setempat yang muncul belakangan. 

Di satu sisi, para suporter mengapresiasi langkah instansi terkait dalam menangani perkara tersebut.

Namun di sisi lain, mereka merasa terusik oleh adanya sindiran yang meminta suporter untuk tidak terlalu berisik di media sosial.

Menurutnya, kondisi itu justru mendorong suporter untuk menyuarakan aspirasi melalui medium lain yang lebih dekat dengan masyarakat.

“Kalau memang tidak boleh berisik di media sosial, kami akan berisik di media lain, yaitu lewat mural. Kami langsung turun ke jalan dan bertemu masyarakat. Kami ingin melihat bagaimana respons warga terhadap kondisi Mandala Krida saat ini,” ujar Wage.

Aksi mural massal ini mengusung satu pesan utama, yakni “Usut Tuntas Korupsi Mandala Krida”. Seluruh laskar dari Brajamusti maupun The Maident secara serentak menyuarakan tuntutan yang sama melalui karya mural di wilayah masing-masing.

Meski mengangkat tema yang seragam, setiap kelompok diberi kebebasan untuk menuangkan ide, konsep visual, dan kreativitasnya sendiri sesuai karakter masing-masing regional.

Renovasi

Sebelumnya, Pemda DIY melalui Balai Pemuda dan Olahraga (BPO) Disdikpora DIY memastikan proses renovasi Stadion Mandala Krida, Yogyakarta, mulai bergerak setelah mengantongi izin dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Seperti diketahui, Stadion Mandala Krida yang merupakan kandang dari PSIM Yogyakarta ini sempat tersandung kasus korupsi pembangunan stadion pada tahun anggaran 2016-2017.

Penanganan kasus tersebut dilakukan KPK sejak akhir 2020 hingga penetapan tersangka pada 2022.

Kini, KPK memberikan lampu hijau agar stadion dapat kembali direnovasi dan digunakan.

Namun, ada syarat utama yang harus dipenuhi, yakni pelaksanaan Mutual Check 0 persen atau MC0 sebelum pekerjaan fisik dimulai.

MC0 merupakan tahapan pemeriksaan dan penghitungan ulang seluruh volume pekerjaan proyek konstruksi guna memastikan kondisi bangunan sesuai data valid sebelum renovasi dilakukan.

Kepala BPO DIY, Arfi Hidananto, mengatakan saat ini proses MC0 masih berjalan bersama Universitas Gadjah Mada (UGM) sebagai pihak yang dilibatkan dalam pengecekan.

“Ini kami masih proses pengumpulan data. Tadi saya juga habis ketemu sama UGM di Mandala Krida. Jadi kami melakukan pertemuan intens, termasuk pengecekan lokasi,” ujar Arfi dihubungi wartawan, Selasa (26/5/2026) lalu.

Menurutnya, Pemda DIY terus menyiapkan berbagai dokumen pendukung agar proses pemeriksaan berjalan maksimal dan sesuai arahan KPK.

“Harapannya UGM bisa mengerjakan dengan data-data yang valid. Kalau hasilnya bagus dan sesuai yang diharapkan KPK, itu bisa menjadi acuan untuk pekerjaan berikutnya,” katanya.

Arfi mengungkapkan, proses pengumpulan dokumen tidak mudah lantaran proyek Mandala Krida telah berjalan sejak 2014 dan melewati beberapa tahap pembangunan. Selain itu, sebagian dokumen sebelumnya juga sempat dibawa KPK saat proses pemeriksaan kasus korupsi berlangsung.

“Kami sekarang mengecek kembali arsip-arsip lama dari 2014 sampai 2018. Kalau memang tidak ada di kami, bisa jadi ada di kontraktor pelaksana atau perencana sebelumnya,” ucapnya.

MEGAH ; Markas tim PSIM Yogyakarta, Stadion Mandala Krida.
Stadion Mandala Krida Yogyakarta

Tentang Stadion Mandala Krida

Pembangunan Awal (1977–1984): 

Stadion Mandala Krida mulai dibangun oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta pada tahun 1977.

Proses pembangunan memakan waktu cukup panjang dan baru selesai pada tahun 1984.  

Saat itu, Stadion Mandala Krida menjadi yang terbesar di Yogyakarta.

Fasilitas Stadion

Menurut data resmi Balai Pemuda dan Olahraga DIY (BPO DIY), fasilitas yang ada di Stadion Mandala Krida antara lain:

  • Lapangan sepak bola dengan lintasan lari.
  • Tribun penonton berkapasitas 25.000 orang.
  • Ruang ganti dilengkapi toilet.
  • Ruang wasit.
  • Fasilitas tambahan di kompleks stadion: lapangan voli pasir, lapangan basket, dinding panjat tebing, musala, toilet, dan area parkir.

Lokasi : 

Jalan Kenari No.6, Semaki, Umbulharjo, Kota Yogyakarta.

(tribunjogja.com/mur/aka)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.