Dituduh Pungli Soal Aula Rp1,3 Miliar, MTsN 1 Kota Gorontalo Buka Suara
Fadri Kidjab June 09, 2026 01:47 PM

 

TRIBUNGORONTALO.COM – Polemik terkait pungutan sebesar Rp400 ribu kepada siswa kelas IX di MTSN 1 Kota Gorontalo kembali menjadi perhatian publik. 

Menanggapi hal tersebut, pihak madrasah menegaskan bahwa dana yang dimaksud bukan pungutan liar (pungli), melainkan hasil kesepakatan antara komite sekolah dan orang tua siswa untuk membantu pelunasan pembangunan Aula Al-Kahfi.

Kepala Urusan Tata Usaha (Kaur TU) MTSN 1 Kota Gorontalo, Ismy Salilama, saat diwawancarai pada Selasa (9/6/2026), menjelaskan bahwa pihak sekolah sebelumnya telah berulang kali melakukan konfirmasi kepada komite terkait persoalan tersebut.

Menurut Ismy, isu yang kembali mencuat saat ini sebenarnya sudah pernah dibahas sejak Februari lalu. 

Saat itu, komite sekolah telah memberikan penjelasan kepada orang tua maupun masyarakat mengenai latar belakang pengumpulan dana tersebut.

"Sebelum-sebelumnya kami sudah melakukan konfirmasi dengan pihak komite. Hal ini memang pernah mencuat pada bulan Februari kemarin dan sudah sangat jelas pernyataan dari ketua komite. Karena mungkin masih ada beberapa orang tua yang belum memahami, sehingga persoalan ini kembali muncul,” ujar Ismy saat ditemui Tribun Gorontalo di sekolah.

Dirinya mengatakan, setelah sejumlah media kembali meminta penjelasan, pihak madrasah kembali menghubungi komite untuk memastikan informasi yang berkembang di masyarakat.

Dari hasil komunikasi tersebut, komite menegaskan bahwa dana Rp400 ribu yang dibebankan kepada sebagian orang tua siswa bukan merupakan pungutan liar, melainkan keputusan yang lahir melalui serangkaian rapat antara komite dan wali murid.

"Pihak komite menjelaskan bahwa ini bukan masalah pungli. Ini berdasarkan kesepakatan komite dengan orang tua dan sudah dibahas melalui beberapa kali rapat," katanya.

Pelunasan Pembangunan Aula Al-Kahfi

Aula Al Kahfi MTS Kota Gorontalo yang disebut-sebut jadi pembayaran pungli.
DUGAAN PUNGLI -- Aula Al Kahfi MTS Kota Gorontalo yang disebut-sebut jadi pembayaran pungli. (Sumber Foto: TribunGorontalo.com/Jefri Potabuga)

Lebih lanjut Ismy menerangkan, dana tersebut berkaitan dengan pelunasan pembangunan Aula Al-Kahfi yang selama ini digunakan untuk menunjang berbagai kegiatan siswa di lingkungan madrasah.

Berdasarkan informasi yang diperoleh pihak sekolah dari komite, pembangunan aula tersebut menelan biaya sekitar Rp1,3 miliar. 

Dari jumlah tersebut, sebagian besar telah dibayarkan kepada penyedia, namun masih terdapat sisa kewajiban yang harus diselesaikan.

Sebelumnya, dalam penjelasan komite, disebutkan bahwa pembangunan aula mencapai sekitar Rp1,3 miliar dan masih menyisakan kewajiban pembayaran lebih dari Rp400 juta.


Untuk membantu menyelesaikan kewajiban tersebut, komite bersama orang tua siswa kemudian menggelar rapat dan menyepakati mekanisme pelunasan melalui kontribusi dari wali murid.

"Ini memang murni inisiatif komite dan orang tua guna menunjang kelangsungan pendidikan yang ada di MTSN 1 Kota Gorontalo," beber Ismy.

Ia menegaskan bahwa pihak madrasah tidak terlibat dalam pengelolaan dana pembangunan tersebut karena seluruh proses pembangunan hingga pembiayaan berada di bawah koordinasi komite.

Baca juga: Operasional Sejumlah Dapur MBG Terhenti, Begini Kata Kepala SPPG Sulut-Gorontalo

Dibayar Bertahap Selama Tiga Bulan

Dalam keterangannya, Ismy menjelaskan bahwa nominal sekitar Rp400 ribu tersebut sebenarnya dirancang agar tidak memberatkan orang tua siswa.

Dana itu dibagi ke dalam tiga kali pembayaran masing-masing sekitar Rp137 ribu per bulan selama Januari, Februari, dan Maret tahun 2026.

"Rp409 ribu itu dibagi tiga bulan. Januari Rp137 ribu, Februari Rp137 ribu dan Maret Rp137 ribu. Jadi supaya lebih ringan dibayar oleh orang tua," jelasnya.

Menurutnya, skema tersebut telah dibahas dalam rapat komite bersama wali murid sebelum diterapkan.

Namun demikian, ia mengakui tidak semua orang tua memiliki kemampuan ekonomi yang sama. 

Maka karena itu, komite juga membuka ruang bagi wali murid yang merasa keberatan untuk mengajukan keringanan.

"Kalau yang merasa berat, tinggal dilaporkan saja ke pihak komite. Justru pada waktu itu diberikan peluang bagi orang tua yang keberatan atau tidak mampu. Bahkan sampai ada pembebasan untuk tidak membayar,” ungkapnya.

Aula Dibangun Atas Usulan Orang Tua dan Komite

Selanjutnya, Ismy menjelaskan bahwa pembangunan Aula Al-Kahfi berawal dari kebutuhan sarana pendukung kegiatan siswa.

Sebelum aula tersebut dibangun, banyak kegiatan sekolah harus dilaksanakan di lapangan terbuka yang sangat bergantung pada kondisi cuaca.

Ketika cuaca panas, aktivitas siswa menjadi kurang nyaman. 

Begitu pula saat hujan turun, sejumlah kegiatan terpaksa tertunda atau dipindahkan.

Kondisi itulah yang kemudian mendorong komite dan orang tua siswa untuk mencari solusi dengan membangun aula serbaguna yang dapat digunakan untuk berbagai aktivitas pendidikan.

"Karena mengingat keterbatasan anggaran di madrasah, komite dan orang tua berinisiatif membangun aula serbaguna yang diberi nama Aula Al-Kahfi. Tujuannya untuk menunjang kegiatan pembelajaran siswa," katanya.

Menurut Ismy, sebelum pembangunan dilakukan, terlebih dahulu digelar pertemuan antara komite dan wali murid guna membahas rencana tersebut, termasuk kebutuhan anggaran yang diperlukan.

"Ada pertemuan pihak komite dengan orang tua untuk membahas rencana pembangunan Aula Al-Kahfi. Dari situlah lahir kesepakatan untuk membangun aula yang manfaatnya bisa dirasakan anak-anak," jelasnya.

Ia mengaku turut mengetahui proses tersebut karena selain sebagai pegawai madrasah, dirinya juga merupakan orang tua siswa yang pernah mengikuti sejumlah rapat komite.

Madrasah Tegaskan Tidak Ada Pungli

Menjawab pertanyaan mengenai bantuan pemerintah, Ismy mengatakan pembangunan Aula Al-Kahfi tidak menggunakan anggaran pemerintah.

Menurutnya, bantuan yang pernah diterima madrasah hanya berupa pembangunan ruang kelas baru (RKB) pada tahun-tahun sebelumnya.

"Kalau untuk Aula Al-Kahfi ini tidak ada bantuan pemerintah. Ini murni komite dan orang tua," tegasnya.

Di akhir wawancara, Ismy menyampaikan apresiasi kepada masyarakat yang memberikan perhatian terhadap dunia pendidikan, khususnya di MTSN 1 Kota Gorontalo.

Ia menyebut berbagai masukan yang berkembang akan menjadi bahan evaluasi bagi pihak sekolah ke depan.

"Terima kasih kepada masyarakat atas perhatiannya kepada madrasah kami. Adapun kekurangan-kekurangan tentu akan menjadi bahan evaluasi. Yang jelas kami menegaskan dari pihak madrasah tidak ada pungli," pungkasnya.

MTSN 1 Kota Gorontalo, terletak di JL. Poigar Kel.Molosipat, Kecamatan Sipatana, Kota Gorontalo, merupakan lembaga pendidikan yang telah berdiri sejak tahun 1978. 

Berstatus sebagai sekolah negeri di bawah naungan Kementerian Agama, MTSN 1 KOTA GORONTALO memiliki luas tanah yang cukup luas, yaitu 8.264 m⊃2;.(*/Jefri)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.