Laporan Wartawan TribunJatim.com, Melia Luthfi Husnika
TRIBUNJATIM.COM, KEDIRI - Pedagang daging sapi di Pasar Setono Betek Kota Kediri menyoroti kondisi daya beli masyarakat.
Pasalnya, pedagang mulai merasakan perubahan pola belanja konsumen yang dinilai tidak seramai tahun-tahun sebelumnya, meski harga daging sapi saat ini relatif stabil.
Baca juga: Harga Bumbu Dapur di Pasar Tradisional Jombang Kian Meroket, Pedagang Tak Tahu Penyebabnya
Salah satu pedagang daging sapi, Supartini, warga Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri, mengaku, telah belasan tahun berjualan di Pasar Setono Betek.
Ia menilai, aktivitas perdagangan daging sangat dipengaruhi oleh momentum tertentu, terutama musim hajatan.
"Harga daging sapi saat ini masih sekitar Rp120 ribu per kilogram," kata Supartini saat ditemui di lapaknya, Selasa (9/6/2026).
Menurutnya, permintaan daging akan meningkat ketika banyak kegiatan hajatan di masyarakat.
Sebaliknya, saat tidak ada acara besar, jumlah pembeli cenderung berkurang.
"Kalau tidak ada orang hajatan biasanya sepi. Tapi kalau musim hajatan ramai pembeli yang datang," terangnya.
Supartini mengatakan penjualan sempat melambat saat momentum Iduladha lalu.
Namun, kondisi tersebut tidak berlangsung lama karena permintaan kembali meningkat seiring banyaknya agenda hajatan warga.
"Kemarin waktu Iduladha agak sepi pembelian. Setelah itu momen hajatan mulai ramai lagi sehingga penjualan ikut meningkat," tuturnya.
Selain masyarakat umum yang menggelar hajatan, pelanggan tetapnya juga berasal dari pelaku usaha kuliner seperti penjual bakso dan soto.
Belakangan, ia juga menerima tambahan pesanan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
"Yang sering beli itu penjual bakso dan soto. Sekarang juga ada tambahan pemesanan dari SPPG," jelasnya.
Dalam kondisi ramai, Supartini mampu menjual hingga 600 kilogram daging sapi per hari.
Bahkan, ia mulai berjualan sejak pukul 02.00 WIB dini hari dan baru menutup lapaknya sekitar pukul 17.00 WIB.
"Kalau sedang ramai bisa sampai 600 kilogram sehari. Saya jualan mulai jam dua dini hari sampai jam lima sore," ungkapnya.
Meski demikian, Supartini berharap harga daging sapi bisa turun agar konsumsi masyarakat meningkat.
Ia khawatir isu kenaikan harga sapi hidup akan berdampak pada harga jual daging dalam waktu dekat.
"Harapan saya, harga daging turun supaya pembeli rumah tangga semakin banyak. Tapi sekarang malah ada isu harga akan naik," katanya.
Ia juga menilai kondisi ekonomi belakangan ini turut memengaruhi daya beli masyarakat.
Menurutnya, konsumen menjadi lebih selektif dalam berbelanja kebutuhan pangan.
"Kalau melihat kondisi sekarang, daya beli masyarakat memang terasa menurun. Mungkin karena ekonomi sedang lesu sehingga orang lebih berhitung saat belanja," ujarnya.
Terkait pelemahan nilai tukar rupiah, Supartini mengaku belum merasakan dampak langsung terhadap usahanya.
Namun, ia tetap mewaspadai kemungkinan kenaikan harga sapi yang pada akhirnya akan memengaruhi harga daging di tingkat pedagang.
"Kalau soal rupiah yang merosot, kami penjual daging sapi belum terdampak langsung. Tapi kalau nanti harga sapi naik, otomatis harga daging juga bisa naik."
"Semoga kondisi segera normal dan tidak berdampak ke kami," harapnya.
Sementara itu, seorang pembeli yang rutin membeli daging sapi untuk kebutuhan katering rumah sakit, Anis, berharap harga tetap stabil agar pengeluaran tidak semakin membengkak.
"Kalau harga daging naik tentu biaya yang kami keluarkan juga bertambah. Kami berharap harga tetap stabil karena kebutuhan daging untuk konsumsi sehari-hari dan suplai makanan di rumah sakit cukup besar," ujarnya.