Wamendagri: Otda Lahirkan Pemimpin Populer Tingkat Lokal dari Jokowi, KDM hingga Sherly Tjoanda
Theresia Felisiani June 09, 2026 02:38 PM

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya menilai otonomi daerah mampu melahirkan pemimpin-pemimpin populer di tingkat lokal.

Menurut Bima, perkembangan otonomi daerah telah melahirkan beberapa generasi pemimpin lokal dengan karakteristik yang berbeda-beda sesuai tantangan zamannya.

"Salah satu yang sangat fenomenal dari otonomi adalah tampilnya pemimpin-pemimpin populer di tingkat lokal. The Rise of Local Leaders," kata Bima pada Diskusi dan Launching Buku Decentralization, Democracy and Local Politics in Indonesia di Populi Center, Jakarta, Selasa (9/6/2026).

Dirinya membagi kemunculan pemimpin lokal tersebut ke dalam tiga generasi. 

Generasi pertama diwakili oleh Presiden Joko Widodo yang sempat memimpin Kota Solo dan Jakarta.

Pemimpin daerah pada masa ini muncul di awal era desentralisasi.

"Kalau saya membagi generasi pemimpin lokal ini ada tiga. Pertama, generasi Pak Jokowi, ada Pak Untung. Nah, ini generasi pertama ketika saya masih menjadi pengamat," ujarnya.

Baca juga: Quo Vadis Pendulum Otonomi Daerah?

Menurut Bima, generasi pertama pemimpin lokal lebih banyak berfokus pada isu-isu mendasar yang langsung dirasakan masyarakat.

Isu mendasar tersebut, adalah aspek kesehatan, pendidikan, dan perekonomian.

"Mereka itu dulu fokus pada isu-isu mendasar; kesehatan, pendidikan, perekonomian. Ini first batch of popular local leaders," katanya.

Selanjutnya muncul generasi kedua kepala daerah yang ditandai dengan hadirnya figur-figur seperti Ridwan Kamil, Tri Rismaharini, dan Abdullah Azwar Anas. 

Pada periode ini, kata Bima, inovasi daerah mulai berkembang ke arah ekonomi kreatif dan konsep kota cerdas atau smart city.

"Second batch-nya muncullah Kang Emil, kemudian Ibu Risma, termasuk juga Mas Azwar Anas. Mulailah masuk isu-isu ekonomi kreatif, kemudian smart city. Jadi inovasi-inovasi ini menggambarkan generasi kedua kepala daerah," ujarnya.

Sementara itu, Bima menyebut saat ini Indonesia memasuki generasi ketiga pemimpin lokal. 

Dirinya mencontohkan sejumlah kepala daerah seperti Sherly Tjoanda dan Kang Dedi Mulyadi (KDM).

GUBERNUR SHERLY TJOANDA - Foto Sherly Tjoanda usai diwawancarai KOMPAS.com di kawasan Menteng, Jakarta Pusat pada 20 Februari 2025. Berikut rekam jejak Gubernur Maluku Utara terpilih periode 2025 hingga 2030.
GUBERNUR SHERLY TJOANDA - Foto Sherly Tjoanda usai diwawancarai KOMPAS.com di kawasan Menteng, Jakarta Pusat pada 20 Februari 2025. Berikut rekam jejak Gubernur Maluku Utara terpilih periode 2025 hingga 2030. (KOMPAS.com/Antonius Aditya Mahendra)

Bima menilai masih terlalu dini untuk menilai karakter generasi ketiga tersebut secara utuh. 

Namun, ada satu perbedaan mendasar dibanding generasi sebelumnya, yakni besarnya tanggung jawab untuk mengawal program-program strategis nasional.

"Hari ini mungkin generasi ketiga. Apa karakternya? Too early to judge or to assess. Tapi kira-kira yang membedakan adalah hari ini generasi pemimpin-pemimpin lokal ini diberikan tanggung jawab untuk mengawal program strategis nasional yang lebih besar daripada periode sebelumnya," katanya.

Akibatnya, indikator keberhasilan kepala daerah saat ini lebih banyak dikaitkan dengan pelaksanaan program nasional. 

Kondisi tersebut, menurut Bima, membuat ruang diskresi kepala daerah tidak sebesar yang dimiliki generasi pertama maupun generasi kedua.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.