Tangan Tuhan Tidak Minta Maaf
Abd Rahman June 09, 2026 02:47 PM

 

Oleh: Ahmad Faisal (Albiceleste Garis Keras)

 

TRIBUN-SULBAR.COM- “Saya mencetak gol dengan kepala, tetapi tangan Tuhan yang memasukkannya. Itu adalah pembalasan bagi penjajah.”

-Diego Armando Maradona-

Banyak orang menganggap sepak bola hanyalah permainan. Sembilan puluh menit di lapangan, sebelas lawan sebelas, lalu semuanya selesai. Namun saya tidak pernah percaya bahwa sepak bola sesederhana itu. Bagi saya sepak bola adalah produk kebudayaan, dan seperti semua produk kebudayaan, ia tidak pernah netral.

Di dalamnya tersimpan sejarah, identitas, kepentingan kelas, bahkan ideologi. Sebuah pertandingan bisa menjadi metafora perang, dan sebuah gol bisa menjadi pembalasan atas dekade penindasan. Karena itu, ketika seseorang memilih sebuah tim, ia tidak hanya memilih warna jersey. Ia sedang memilih narasi besar yang ingin diyakininya.

Ia sedang memilih kelas sosial yang ingin dibelanya. Pilihan itu jarang rasional secara statistik; ia selalu emosional, dan di situlah politik bekerja. Maka dengan sadar, tanpa malu, dan tanpa berpura-pura netral, saya memilih Argentina. Dan saya tidak akan meminta maaf untuk itu.

Saya tidak memilih Argentina karena Lionel Messi atau tiga trofi Piala Dunia. Saya memilih Argentina karena negeri itu mewarisi tradisi yang terusik oleh status quo. Tradisi yang menjadikan sepak bola sebagai senjata simbolik bagi mereka yang tak bersuara. Di zaman ketika sepak bola menjadi mesin uang raksasa, tradisi ini adalah anomali yang membahagiakan.

Dari Che ke Maradona: Sepak Bola sebagai Senjata Simbolik

Argentina adalah tanah yang melahirkan Ernesto Che Guevara. Seorang revolusioner yang mengajarkan bahwa diam di hadapan penindasan adalah bentuk persetujuan. Che percaya bahwa manusia tidak boleh hidup tanpa keberpihakan. Mungkin sekilas ini terdengar jauh dari lapangan hijau, tetapi Diego Maradona membuktikan sebaliknya.

Maradona bukan hanya pesepak bola, ia adalah anak miskin dari Villa Fiorito. Ketika dunia memujanya sebagai bintang, ia tetap lantang tentang kemiskinan, Amerika Latin, dan ketimpangan global. Ia menato wajah Che di lengannya dan tak pernah menyembunyikan kritiknya terhadap dominasi negara-negara besar. Baginya, sepak bola adalah harga diri rakyat kecil.

Puncaknya adalah Piala Dunia 1986, ketika Argentina mengalahkan Inggris di perempat final. Dua gol tercipta. Tangan Tuhan yang kontroversial, dan aksi solo melewati lima pemain, gol tersebut kemudian dikenal dengan nama (Gol Abad Ini). Bagi Maradona, gol pertama bukanlah kecurangan. Ia menyebutnya sebagai "pembalasan simbolik" atas Perang Falklands empat tahun sebelumnya, di mana Argentina kalah dan ratusan tentara mudanya tewas.

Setelah pertandingan, Maradona menyatakan bahwa ia mempersembahkan kemenangan itu untuk rakyat Argentina. Juga untuk rakyat Inggris yang tidak menginginkan perang. Ia menolak hadiah resmi dari FIFA. Baginya, trofi tidak berarti apa-apa jika tidak berpihak pada mereka yang menderita. Tangan Tuhan tidak minta maaf karena ia sedang membela yang benar.

Tradisi Maradona tidak berhenti bersamanya. Ia menjadi arketipe pemberontak dengan bola di kakinya. Saya mendukung Argentina karena saya percaya bahwa sejarah berpihak pada yang tertindas. Bukan pada yang sedang menang. Itulah mengapa tangan Tuhan tidak pernah, dan tidak akan pernah meminta maaf.

Zanetti dan Messi: Dua Wajah Perlawanan yang Berbeda

Jika Maradona adalah api yang menyala-nyala, maka Javier Zanetti adalah air yang mengalir tenang. Namun keduanya sama-sama menghunjam ke dasar perlawanan. Pada tahun 2004, kapten Inter Milan ini secara terbuka mendukung gerakan Zapatista di Chiapas, Meksiko. Kelompok pemberontak pribumi yang menolak globalisasi neoliberal pasca-NAFTA.

Zanetti meyakinkan petinggi Inter Milan untuk mengumpulkan dana 5.000 euro dari denda pemain. Uang itu ia sumbangkan bersama sebuah ambulans dan perlengkapan olahraga kepada komunitas Zapatista.

Ia juga mengirim surat tulisan tangan yang berisi pernyataan tegas, ”Creemos en un mundo mejor, un mundo sin globalización, enriquecido por las diferencias culturales y costumbres de todos los pueblos.” Jika di terjemahkan secara bebas, maka artinya. “Kami percaya pada dunia yang lebih baik, dunia tanpa globalisasi.”

Subkomandan Marcos, pemimpin Zapatista, menyambut hangat surat itu. Ia bahkan menantang Inter Milan untuk bertanding persahabatan dengan Maradona sebagai wasit. Meski tak pernah terealisasi, gestur Zanetti menunjukkan bahwa seorang atlet papan atas bisa memilih sisi. Zanetti tumbuh di lingkungan miskin El Docke, Buenos Aires. Baginya, membela Zapatista adalah membela masa kecilnya sendiri.

Sementara Zanetti berbicara dengan surat dan donasi, Lionel Messi memilih cara yang sunyi. Ia tidak berpidato. Ia tidak meneriakkan slogan. Ia tidak menjadikan dirinya simbol perlawanan secara eksplisit. Namun kisah hidupnya tetap menyimpan muatan sosial yang kuat. Messi adalah anak keluarga pekerja dari Rosario. Pada usia 11 tahun, ia didiagnosis defisiensi hormon pertumbuhan.

Klub-klub besar Argentina menolak membiayai pengobatannya. Alasan mereka, risiko terlalu tinggi. Dalam logika pasar yang memuja kesempurnaan, Messi seharusnya tersisih. Namun Barcelona, jauh di seberang lautan, bersedia mengambil risiko. Messi hijrah dan membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah takdir. Yang lebih menarik, ia tidak pernah melupakan asal-usulnya.

Ia tetap membawa la pausa (ritme lambat khas Argentina) ke tengah sepak bola Eropa yang serba cepat dan terukur. Ia menolak menjadi pesepak bola robotik yang didikte algoritma data.

Jika Che mengajarkan keberanian melawan ketidakadilan struktural, dan Maradona melawan dominasi geopolitik, maka Messi mengajarkan keberanian melawan logika homogenisasi. Tiga wajah berbeda, satu tradisi. Sekali lagi, tangan Tuhan tidak minta maaf, dan tangan-tangan lain pun ikut terangkat.

El Pibe dan Mengapa Dunia Memilih Argentina

Antropolog Eduardo Archetti menangkap esensi semua hal di atas dalam satu konsep. El pibe. El pibe adalah anak jalanan Argentina yang cerdik, nakal, dan tak kenal menyerah. Ia tidak memiliki fasilitas mewah. Tidak ada nutrisi terukur. Tidak ada pelatih lisensi UEFA. Yang ia punya hanyalah bola, imajinasi, dan tekad untuk membuktikan bahwa dirinya ada.

El pibe adalah antitesis dari pesepak bola terlatih ala Eropa. Ia bukan patuh pada taktik korporat. Ia adalah simbol akal-sehat rakyat jelata yang mampu mengakali sistem. Maradona adalah el pibe yang menang dengan tangan Tuhan. Messi adalah el pibe yang diam-diam membongkar pertahanan. Zanetti adalah el pibe yang telah dewasa dan menemukan bahasa politiknya.

Para filsuf seperti Antonio Gramsci dan Pierre Bourdieu membantu kita memahami mengapa konsep ini penting. Gramsci menyebut kebudayaan sebagai arena perebutan hegemoni. Di arena itu, kelas berkuasa berusaha meyakinkan masyarakat bahwa nilai-nilai mereka adalah wajar. Sepak bola modern adalah contoh sempurna, klub jadi korporasi, pemain jadi aset ekonomi, suporter jadi konsumen.

Dalam logika ini, banyak orang mendukung tim seperti memilih produk di supermarket. Mereka berbondong-bondong ke klub terkaya. Manchester City, PSG, Real Madrid. Jarang yang bertanya, nilai apa yang sebenarnya saya beli? Kelas sosial mana yang saya perkuat? Mereka tidak berani memilih sisi. Tangan mereka diam saja. Tangan Tuhan tidak minta maaf. Tangan mereka? Tidak terlihat.

Sebagian besar legenda Argentina tidak lahir dari kemewahan akademi elite. Maradona, Messi, Zanetti, Di María (anak penambang batu bara), De Paul (dari daerah kumuh Sarandí), mereka tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan kekurangan. Mereka membuktikan bahwa sejarah tidak hanya milik mereka yang lahir dengan privilese. Maka tak heran jika Argentina dicintai di tempat-tempat yang jauh dari Buenos Aires.

Di desa-desa Afrika. Di gang-gang sempit Asia Tenggara. Di favela Brasil sendiri. Di kampung-kampung nelayan Indonesia. Di wilayah-wilayah pinggiran yang dilupakan pusat kekuasaan, orang-orang melihat refleksi diri mereka.

Mereka melihat perjuangan tanpa jaminan kemenangan. Mereka melihat luka yang tidak sembuh. Dan mereka melihat kemungkinan bahwa yang kecil bisa mengalahkan yang besar. Setidaknya untuk sembilan puluh menit. Setidaknya cukup lama untuk mengingatkan bahwa manusia tidak bisa direduksi menjadi angka. Mereka memeluk Argentina karena Argentina tidak minta maaf.

Keberpihakan Adalah Kemenangan yang Sebenarnya

Karena itu, saya tidak pernah percaya bahwa sepak bola adalah urusan netral. Cara kita memilih tim mencerminkan cara kita memandang dunia. Apakah kita berdiri bersama mereka yang hanya memiliki kekuatan karena modal? Apakah kita memuja yang kaya karena mereka kaya? Ataukah kita memilih tradisi yang percaya bahwa rakyat biasa dapat menjadi pelaku sejarah?

Saya memilih yang kedua. Saya memilih Argentina. Bukan karena Messi. Bukan karena trofi. Saya memilih Argentina karena di balik garis biru-putih itu, saya melihat sesuatu yang semakin langka di zaman yang mencekik dengan efisiensi dan keberpihakan terselubung kepada yang kaya. Saya melihat keberanian untuk memihak kepada manusia biasa. Dan tidak minta maaf karenanya.

Saya melihat Maradona yang meludahi FIFA. Saya melihat Zanetti yang mengirim surat cinta untuk para pemberontak di hutan Chiapas. Saya melihat Messi yang diam-diam membawa la pausa melawan mesin. Mereka tidak minta maaf. Mengapa saya harus minta maaf? Itu bukan sekadar sepak bola. Itu adalah pernyataan bahwa di dunia yang ingin menyamaratakan dan mengkotakkan, kita masih bisa memilih.

Dan pilihan itu tidak pernah netral. Maka dengan dada penuh, tanpa setengah hati, saya katakan. Tangan Tuhan tidak minta maaf. Dan tangan kita, jika berani memilih sisi, juga tidak perlu minta maaf.

Karena di dunia yang kejam ini, keberpihakan kepada yang lemah adalah satu-satunya kemenangan yang tidak pernah menyesakkan dada. Dan bagi saya, itulah alasan terbaik untuk mencintai sepak bola.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.