BANJARMASINPOST.CO.ID, MARTAPURA -Pembudidayaan ikan papuyu di Kabupaten Banjar Kalimantan Selatan makin meningkat. Selain di kawasan Karang Intan, Pembudidayaan ikan air tawar jenis ikan papuyu tersebut juga berada di Desa Lok Baintan Luar, Kabupaten Banjar.
Akan tetapi pembudidayaan ikan di lokasi tersebut menggunakan kolam bundar.
Salah satu pembudidaya, Aidi Rahman, sudah berhasil memanen 200 hingga 300 kilogram ikan papuyu.
Namun terlepas dari suksesnya dia membudidayakan diakuinya sempat menghadapi sejumlah kendala selama proses budidaya, terutama saat perubahan cuaca yang memicu munculnya penyakit pada ikan.
Namun berkat pendampingan dan bantuan obat-obatan dari DKPP Banjar, kendala tersebut dapat diatasi.
Baca juga: Kisah Persahabatan Kapolsek di Kotabaru dan Kuli Bangunan, Hadiahkan Umrah setelah Terpisah 20 Tahun
Baca juga: Jaksa Tangkap Staf ESDM Kalsel, Dugaan Pemerasan Izin Usaha Pertambangan di Tabalong
"Kesulitannya waktu cuaca berubah-ubah, kadang hujan kemudian panas. Ada beberapa ikan yang terserang penyakit, tetapi Alhamdulillah mendapat pendampingan dan bantuan dari dinas sehingga bisa ditangani," kata Aidi Rahman, Selasa (9/6/2026).
Aidi Rahman menambahkan, hasil panen perdana tersebut rencananya akan kembali diputar untuk pengembangan usaha budidaya, termasuk pengadaan bibit agar produksi ikan papuyu terus meningkat pada masa mendatang.
"Hasil panen ini insya Allah akan kami gunakan kembali untuk pengembangan budidaya dan penambahan bibit agar hasilnya bisa lebih baik lagi ke depan," katanya.
Keberhasilan pembudidaya ikan di lokasi itu,bmenjadi bagian dari pengembangan inovasi budidaya perikanan lokal yang digagas Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan (DKPP) Kabupaten Banjar yaitu Intan Sikapayu (Inovasi Tangguh Sinergi Kampung Ikan Papuyu), yang dikembangkan dari program sebelumnya, Gerbang Kakapayu.
Kepala Bidang Perikanan Budidaya DKPP Banjar, Bandi Chairullah, membenarkan jika budidaya ikan papuyu melalui kolam bundar merupakan pengembangan dari inovasi Intan Sikapayu atau Inovasi Tangguh Sinergis Kampung Ikan Papuyu dikembangkan di lokasi tersebut.
Program tersebut bertujuan mengangkat potensi ikan lokal yang memiliki nilai ekonomi cukup tinggi di masyarakat.
Menurut Bandi, Desa Lok Baintan Luar menjadi salah satu desa percontohan yang menerapkan transformasi budidaya dari kolam tanah menuju kolam bundar.
"Model tersebut dinilai lebih efisien dan dapat diterapkan oleh masyarakat dengan lahan terbatas. Ini merupakan transformasi dari kolam tanah ke kolam bundar. Budidaya model ini bisa diterapkan pada skala rumah tangga dengan halaman yang tidak terlalu luas serta biaya yang relatif lebih terjangkau," ujar Bandi.
Selain efisien, kolam bundar juga dianggap lebih adaptif terhadap perubahan kondisi cuaca.
Sistem tersebut dinilai mampu meminimalkan risiko kegagalan budidaya akibat banjir maupun kekeringan yang kerap terjadi di sejumlah wilayah.
"Kolam bundar ini menjadi salah satu solusi untuk memitigasi risiko bencana seperti banjir dan kekeringan. Pengelolaan air lebih mudah dan kebutuhan air juga tidak terlalu besar," tambahnya.
Bandi menjelaskan, program Intan Sikapayu saat ini telah direplikasi di sejumlah desa lain di Kabupaten Banjar. Tercatat ada sekitar 10 desa yang mengikuti pengembangan program tersebut, sementara Lok Baintan Luar menjadi salah satu lokasi yang menerapkan model kolam bundar secara intensif.
Ia bersyukur pada panen perdana ini, hasil yang diperoleh diperkirakan mencapai 200 hingga 300 kilogram ikan papuyu.
Menurut Bandi, capaian tersebut cukup baik mengingat budidaya baru berjalan sekitar tujuh bulan dan masih berada pada tahap adaptasi teknologi.
Dukungan terhadap program tersebut juga datang dari Komisi II DPRD Kabupaten Banjar.
Anggota Komisi II, M. Zaini, berharap hasil panen tidak hanya dijual untuk konsumsi, tetapi juga dimanfaatkan sebagai indukan dan sumber benih guna menjaga keberlanjutan budidaya.
"Harapan kami setelah dipanen sebagian bisa dijadikan indukan atau bibit agar budidaya ini terus berlanjut dan berkembang. Jangan sampai berhenti hanya pada panen pertama saja," ujarnya.
M Zaini menilai ikan papuyu memiliki potensi besar sebagai komoditas unggulan daerah karena memiliki cita rasa khas yang berbeda dibandingkan ikan sejenis dari daerah lain.
(Banjarmasin Post/Nurholis Huda)