BANJARMASINPOST.CO.ID- Suasana haru mewarnai pertemuan Fahrian dengan Tri Wibawa di Desa Sungai Batang Hilir, Kecamatan Martapura Barat, Kabupaten Banjar Kalimantan Selatan beberapa waktu lalu
Kucuran air mata begitu saja mengalir dan sesekali diseka keduanya dan disaksikan beberapa anggota keluarga Fahrian yang melihat pertemuan dua sahabat yang terpisah lebih dari 20 tahun ini.
Fahrian yang kini dikarunia empat anak, adalah kuli bangunan untuk bagian pengecatan di Kabupaten Banjar. Sedangkan Tri Wibawa Saat ini menjabat sebagai Kapolsek Pulaulaut Tengah, Kotabaru dengan pangkat Iptu.
Pertemuan di rumah mertua Fahrian ini tidak pernah terbayangkan sebelumnya ataupun direncanakan. Pasalnya sejak masih bersama-sama di sekitaran 2004, keduanya masih tidur beralas karpet lusuh di meja-meja toko kosong di kawasan Kecamatan Cempaka.
Fahrian saat itu bekerja menjaga toko, begitu pula Tri yang saat itu datang merantau ke Banua dari Bantul, Yogyakarta
Baca juga: Jaksa Tangkap Staf ESDM Kalsel, Dugaan Pemerasan Izin Usaha Pertambangan di Tabalong
Baca juga: Diduga Dana Pusat Belum Cair, Dapur MBG di Banjarmasin Ini Setop Sementara Operasional
Sekilas, kisah keduanyaa mirip dengan alur cerita film Bollywood, Billu Barber yang menceritakan suksesnya Syakhrukhan menjadi aktor dan penyanyi berkat pertemanannya dengan Billu sang tukang cukur.
Fahrian dan Tri saat itu serba kekurangan. Keduanya bekerja dan tinggal bersama, kadang makan malam hanya berlauk mi rebus atau gorengan, karena sungkan jika selalu minta nasi kepada bos.
Meskipun sudah diperkenankan. “Begitulah hari-hari kami. Fahrian ini yang selalu mengingatkan saya salat dan bahkan membangunkan untuk salat malam jelang mengikuti seleksi kepolisian,” sebut Tri, Senin (8/6).
Setelah mengikuti proses perekrutan dan lulus, saat masuk pendidikan hingga berdinas, Tri selalu berupaya menemui Fahrian untuk menyampaikan kabar gembira tersebut.
Namun sayangnya kabar bahagia itu belum ujuk sampai hingga berlarut 20 tahun lebih. Karena Fahrian berpindah dan hilang kontak.
Hingga suatu ketika Tri membeli rumah di kawasan Cempaka dan ngobrol dengan kuli bangunan yang mengerjakannya.
“Dari tukang bangunan ini saya dapat info kontak keberadaan Fahrian, setelah mengatakan ciri-ciri perawakannya yang kecil,” ucap Tri.
Sepanjang tahun pencarian sahabatnya, Tri bahkan mengamalkan selalu memanggil nama Fahrian sebelum tidur. “Istilah orang Banjar itu Mangariau, agar yang dicari datang atau dipertemukan,” selorohnya.
Ia pun tak menyangka benar-benar bisa dipertemukan setelah melewati puluhan tahun. Meski telah kesana kemari mencari, termasuk bersama isterinya.
Setelah pertemuan sederhana dengan senyum sambil menyeka air mata, Tri juga memastikan hadiah istimewa untuk Fahrian berangkat umrah pada Oktober ini Namun karena ada halangan dinas, maka diundur Januari 2027 mendatang.
Awalnya kabar ini disampaikan Tri melalui sambungan telepon, namun masih belum meyakinkan Fahrian karena mengira ditipu, hingga ia datang bertamu sekaligus minta izin kepada anak isteri dan keluarganya untuk menemani ke Tanah Suci.
“Tidak ada nazar tidak tahu juga kenapa pengennya membawa sahabat ini untuk umrah, karena saya merasa hidup saya dipermudah,” ucapnya.
Fahrian sendiri mengaku tidak menyangka bisa kembali bersua dengan sahabat perjuangannya.
“Wah terharu, senang sekali tidak menyangka, apalagi akan diberangkatkan umrah. Karena saya saat ini masih bekerja sebagai kuli bangunan,” ucapnya.
Ia tidak mengetahui Tri lulus seleksi dan di waktu itu ia menikah, sehingga hilang kontak, sedangkan komunikasi tidak semudah saat ini. (Muhammad Tabri)