Laporan Wartawan TribunJatim.com, David Yohanes
TRIBUNJATIM.COM, TULUNGAGUNG - Usaha katering di Kabupaten Tulungagung turut terpengaruhi kenaikan nilai tukar dolar Amerika Serikat.
Akibat kenaikan dolar, harga plastik dan kardus yang dibutuhkan untuk tempat menu dalam kotak katering ikut naik.
Baca juga: Pedagang Daging Sapi di Kediri Cemas Pembeli Makin Berkurang, Waspadai Dampak Pelemahan Rupiah
Mereka juga menghadapi kenaikan bahan baku akibat rebutan dengan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG).
"Kalau untuk plastik, bukan naik harga. Tapi sudah ganti harga yang baru," ujar pemilik Katering Cairo, Herlambang Efendi.
Jika dihitung, lonjakan harga bahan plastik ini bisa tiga kali lipat.
Bahan plastik ini biasa dipakai untuk tempat makanan, mulai dari nasi, lauk, dan sayur yang ditempatkan dalam kardus pembungkus.
Selain itu, plastik juga diperlukan untuk pembungkus aneka kue yang juga masuk dalam paket pesanan selain menu nasi.
"Tidak hanya plastik, kardusnya juga ikut naik. Sebelumnya, kemasan ini 100 harganya Rp71.000 menjadi Rp105.000," ungkapnya.
Sebelumnya, komponen plastik tidak menjadi beban biaya produksi.
Bahkan, kantong plastik keresek sebelumnya tidak dihitung, karena harganya sangat murah.
Namun, sekarang kantong plastik masuk komponen yang dihitung, karena harganya hampir Rp1.000 per buah.
"Kalau jumlahnya banyak, akhirnya jadi beban juga. Misalnya 10 kantong plastik untuk wadah kardus makanan, nilainya hampir Rp10.000," papar Pendik, panggilan akrabnya.
Ia mengungkapkan, untuk sekali belanja, kebutuhan plastik dan kardus biasanya habis kurang dari Rp3 juta.
Namun, saat ini kebutuhan belanja plastik dan kardus untuk sekali belanja lebih dari Rp5 juta, dengan jumlah barang yang sama.
Kondisi ini masih ditambah persaingan bahan baku karena bersaing dengan SPPG.
Menurut Pendik, SPPG telah menjalin kontrak, sehingga mereka diutamakan untuk mendapatkan bahan baku seperti sayur mayur.
Pasokan yang di pasaran juga berkurang sehingga harganya lebih mahal.
"Misalnya selada, dapat barangnya susah karena sudah diborong sama SPPG. Kalau ada barang, harganya pasti lebih mahal," katanya.
Untuk mengakali kondisi ini, Pendik mengaku terpaksa mengurangi ukuran menu yang disajikan.
Untuk pesanan makanan, ada pengurangan porsi nasi, ukuran lauk maupun pelengkap lainnya.
Demikian juga pesanan kue, ada pengurangan ukuran agar tidak merugi dan masih bisa mendapatkan untung.
"Mengurangi ukuran porsi, tapi kami upayakan sepantas mungkin, tidak terlalu mencolok."
"Kalau masih pakai ukuran lama, susah dapat keuntungan," tandasnya.