Tiket Pesawat Naik, DKPP Tarakan Berangkatkan Petani dan Nelayan Pakai Kapal ke Penas di Gorontalo
Junisah June 09, 2026 03:14 PM

TRIBUNKALTARA.COM, TARAKAN- Dampak kenaikan harga dan adanya kebijakan efisiensi anggaran yang diterapkan pemerintah turut memengaruhi pola perjalanan dinas di sejumlah instansi daerah. Salah satunya di Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP)Tarakan.

DKPP Tarakan lebih memilih menggunakan kapal laut untuk memberangkatkan kontingen Pekan Nasional (Penas) Petani Nelayan XVII Tahun 2026 di Gorontalo.

Langkah tersebut diambil setelah tingginya harga tiket pesawat dinilai tidak lagi sebanding dengan kemampuan anggaran yang tersedia, terutama akomodasi bagi peserta yakni petani dan nelayan Tarakan yang mewakili Kalimantan Utara dalam ajang Penas Petani Nelayan XVII di Gorontalo.

Kepala Bidang Penyuluhan dan Pelayanan Usaha DPKP Tarakan, Siti Nurdiyanah, mengungkapkan keputusan menggunakan kapal laut merupakan bentuk penyesuaian terhadap kebijakan efisiensi anggaran yang saat ini diterapkan pemerintah.

"Iya, ini sangat berpengaruh. Karena dengan adanya efisiensi anggaran, kemarin kita anggarkan untuk pesawat. Tapi karena efisiensi anggaran dan harga tiket sangat tinggi sekali, akhirnya kami alihkan ke kapal laut," ujar Hadizah saat ditemui di Pelabuhan Malundung Tarakan.

Ia menjelaskan, rombongan yang akan diberangkatkan terdiri dari 14 orang yang meliputi petani, nelayan, pendamping serta peninjau yang akan mengikuti Penas XVII di Gorontalo.

Baca juga: Gubernur Kaltara Zainal Arifin Paliwang Berikan Motivasi Kontingen Penas Kaltara di Sumatera Barat

Menurutnya, jika tetap menggunakan transportasi udara, anggaran yang tersedia tidak akan mampu mengakomodasi seluruh peserta yang telah dipersiapkan.

"Kegiatan ini kegiatan nasional, Pekan Nasional yang ke-17 yang dilaksanakan di Gorontalo. Kita membawa 14 orang. Nah, itu petani dan nelayan untuk mengikuti kegiatan tersebut. Karena kalau anggaran yang ada saat ini untuk transportasi udara sangat tidak mencukupi, makanya dialihkan ke kapal laut," katanya.

Ia mengungkapkan harga tiket pesawat menuju lokasi kegiatan saat ini mencapai sekitar Rp5 juta per orang.

"Kalau terakhir kemarin sampai Rp5 juta satu orang," ujarnya.

Dengan jumlah peserta yang mencapai 14 orang, biaya perjalanan udara dinilai akan membebani anggaran secara signifikan.

Sebaliknya, biaya perjalanan menggunakan kapal laut jauh lebih rendah. Untuk satu penumpang, tiket kapal hanya berkisar Rp400 ribuan.

"Kalau untuk tiket kapal sangat jauh sekali perbedaannya. Karena kalau tiket kapal hanya Rp400 ribuan lebih," katanya.

Selain harga tiket yang lebih murah, perjalanan laut juga dinilai lebih efisien karena rute yang ditempuh relatif langsung menuju wilayah tujuan.

Baca juga: 75 Orang Ikuti PENAS Petani Nelayan XVI di Padang, Bupati Nunukan: Amati, Tiru, Modifikasi

Hadizah menjelaskan kapal yang digunakan berlayar dari Nunukan dan Tarakan menuju Kuandang, Gorontalo.

"Kapalnya ini dari Nunukan, Tarakan, langsung ke Kuandang. Jadi langsung," ujarnya.

Sementara jika menggunakan pesawat, rombongan harus transit bahkan menginap terlebih dahulu di kota lain seperti Balikpapan atau Makassar sebelum melanjutkan perjalanan ke Gorontalo.

"Nah, sementara kalau naik pesawat itu harus menginap lagi di Makassar ataupun di Balikpapan. Jadi sudah tiket mahal, menginap lagi. Dan juga harus kita mempersiapkan biaya hotel," katanya.

Belum lagi kebutuhan konsumsi selama masa transit yang turut menambah pengeluaran.

"Belum untuk uang makan. Itu sangat-sangat berpengaruh," tambahnya.

Menurutnya, pengalihan moda transportasi dari udara ke laut memberikan dampak besar terhadap jumlah peserta yang bisa diberangkatkan.

Jika menggunakan pesawat, kata dia, kemungkinan hanya dua orang petani yang dapat diikutsertakan karena keterbatasan anggaran.

Namun melalui jalur laut, jumlah peserta yang berangkat bisa mencapai 10 orang petani ditambah pendamping dan peninjau.

"Itu pertimbangan kita. Kita mengambil solusi ini supaya teman-teman petani bisa kita berangkatkan. Kalau menggunakan udara itu hanya bisa dua orang petani. Nah, kalau kita naik kapal laut itu mencapai 10 orang. Artinya sangat banyak sekali perbedaannya. Di samping anggaran, SDM yang kita bawa juga lebih banyak," jelasnya.

Keikutsertaan para petani tersebut dinilai penting mengingat mereka merupakan peserta berprestasi yang berhasil mengharumkan nama Tarakan dalam Pekan Daerah sebelumnya.

SITI NURDIYANAH -Kepala Bidang Penyuluhan dan Pelayanan Usaha DPKP Tarakan, Siti Nurdiyanah saat diwawancarai media usai membeli tiket untuk keberangkatan menggunakan kapal Pelni tujuan Gorontalo.

Hj Siti  mengatakan Tarakan berhasil meraih peringkat kedua pada ajang Pekan Daerah tingkat Kalimantan Utara sehingga mendapatkan kesempatan mengirimkan wakil ke tingkat nasional.

"Karena kemarin Tarakan untuk Pekan Daerah kita juara dan wakili Kaltara. Nah, yang kita bawa ini memang petani yang sudah berprestasi di Pekan Daerah," katanya.

Mereka merupakan peserta yang berprestasi dalam berbagai kategori, mulai dari lomba asah terampil, vokal grup, unjuk tangkas hingga gelar teknologi pertanian.

"Baik dalam lomba asah terampil, vokal grup, unjuk tangkas dan juga gelar teknologi," ujarnya.

Penas XVII sendiri akan berlangsung di Gorontalo pada 20 hingga 25 Juni 2026. Rombongan dari Tarakan dijadwalkan berangkat pada 16 Juni dan diperkirakan tiba pada 19 Juni pagi.

Secara keseluruhan, kontingen Kalimantan Utara yang akan mengikuti Penas XVII berjumlah sekitar 230 orang yang berasal dari berbagai kabupaten dan kota.

"Kaltara itu ada 230 orang. Dari Kabupaten Nunukan, Malinau, Bulungan, Kota Tarakan dan provinsi," ujarnya.

Ia menambahkan peserta juga berasal dari berbagai instansi lingkup Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara, termasuk sektor pertanian, kehutanan dan perikanan.

Melalui langkah efisiensi ini, DPKP Tarakan berharap semakin banyak petani dan nelayan berprestasi yang dapat memperoleh kesempatan mengikuti ajang nasional tanpa terbebani tingginya biaya transportasi udara.

(*)

Penulis: Andi Pausiah

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.