Fenomena SPMB SMA 2026 di Solo Raya, Calon Siswa Rela Berangkat Subuh Demi Kursi SMA
Vincentius Jyestha Candraditya June 09, 2026 03:14 PM

TRIBUNSOLO.COM - Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) SMA/SMK Jawa Tengah 2026 di wilayah Solo Raya tak ubahnya perang bagi calon siswa maupun orang tua siswa. Mereka harus berjibaku dalam antrean panjang sejak sang surya masih malu-malu muncul di ufuk timur. 

Sejumlah sekolah negeri diserbu pendaftar demi mendapatkan antrean verifikasi berkas sejak subuh. Fenomena itu terlihat salah satunya di SMA Negeri 1 Ngemplak yang menjadi salah satu titik paling padat selama proses verifikasi SPMB SMA dan SMK Jawa Tengah 2026.

Tak hanya warga Boyolali, calon murid dari Solo, Sukoharjo hingga Karanganyar turut memadati sekolah tersebut demi mendapatkan layanan verifikasi lebih awal. Bahkan sejak pukul 05.00 WIB, antrean sudah terlihat mengular di depan sekolah meski layanan baru dibuka pukul 08.00 WIB.

Puluhan calon murid bersama orang tua tampak duduk berjejer di halaman sekolah sambil menunggu nomor antrean dipanggil, Senin (8/6). Proses verifikasi dilakukan di enam meja layanan yang masing-masing dilengkapi dua monitor untuk operator dan calon murid.

ANTRE VERIFIKASI - Calon murid SMK dan SMA saat mengantri verifikasi Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2026 di SMA Negeri 1 Ngemplak, Boyolali, Senin (8/6/2026). Tak hanya warga Boyolali, calon murid dari Solo, Sukoharjo hingga Karanganyar turut memadati sekolah tersebut demi mendapatkan layanan verifikasi berkas lebih awal.
ANTRE VERIFIKASI - Calon murid SMK dan SMA saat mengantri verifikasi Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2026 di SMA Negeri 1 Ngemplak, Boyolali, Senin (8/6/2026). Tak hanya warga Boyolali, calon murid dari Solo, Sukoharjo hingga Karanganyar turut memadati sekolah tersebut demi mendapatkan layanan verifikasi berkas lebih awal. (TribunSolo.com/Tri Widodo)

SPMB tahun ini dilaksanakan secara daring. Calon murid diwajibkan membuat akun, mengunggah dokumen, lalu melakukan verifikasi di sekolah negeri mana pun, meski bukan sekolah tujuan pendaftaran.

Kondisi itu membuat antrean terus memanjang setiap hari. Rata-rata satu proses verifikasi memakan waktu sekitar lima menit per siswa.

Kepala SMA Negeri 1 Ngemplak, Teguh Rahayu Slamet, mengatakan tingginya jumlah pendaftar dipengaruhi posisi sekolah yang berada di kawasan strategis perbatasan Solo Raya.

“Masyarakat kadang ada kepanikan. Tadi pagi saja jam 05.00 WIB sudah ada antri yang didepan itu,” ujarnya.

Baca juga: SPMB 2026, SMAN 1 Ngemplak Boyolali Diserbu Pendaftar dari Solo Hingga Karanganyar Sejak Subuh

Menurut Teguh, sekolahnya menjadi satu-satunya SMA negeri di Kecamatan Ngemplak sehingga banyak dipilih masyarakat untuk melakukan verifikasi berkas.

“Ada calon murid dari Kartasura, Sukoharjo; Colomadu, Karanganyar dan Solo,” jelasnya.

Untuk mengurai antrean, sekolah bahkan tetap membuka layanan pada hari Sabtu.

“Bahkan Sabtu yang biasanya libur, juga masuk untuk melakukan verifikasi. Bahkan ada pelayanannya sampai jam 15.00 lebih,” katanya.

Situasi serupa juga terjadi di SMA Negeri 1 Surakarta. Antrean panjang mewarnai proses verifikasi hingga membuat sejumlah orang tua harus datang berkali-kali ke sekolah.

Salah seorang wali murid, Sumarti, mengaku sudah tiga kali datang bersama putrinya, Christin Larasati.

“Saya hari ini ketiga kalinya. Ada pembetulan. Baru hari ini mau verifikasi. Kuotanya sudah full jadi kembali hari ini,” jelas Sumarti.

Ia mengatakan, kedatangan pertama dilakukan untuk membuat akun pendaftaran. Namun karena terjadi kesalahan pengisian data, dirinya kembali datang pada hari kedua untuk melakukan pembetulan.

Baca juga: Hari Pertama SPMB SMP 2026 di Sukoharjo, Bupati Etik Tegaskan Tak Ada Titip-titipan

“Akun sudah. Hari pertama pembuatan akun. Terus ada kesalahan. Hari kedua pembetulan. Mau verifikasi sekalian sudah penuh. Kembali lagi hari ini. Kemarin ngisi datanya ada kesalahan. Seharusnya yang dimasukkan data dokumen kependudukan. Tapi ini yang dimasukkan kelulusan,” jelasnya.

Belajar dari pengalaman sebelumnya, Sumarti memilih datang lebih pagi sejak pukul 07.00 WIB agar mendapat kesempatan verifikasi.

“Dari jam 7. Pengalaman kemarin datang jam 10. Jadi sekarang harus lebih pagi. Mudah-mudahan dapat,” terangnya.

Ia mendaftarkan putrinya ke SMA Negeri 1 Surakarta melalui jalur domisili.

MEMBLUDAK. Suasana penerimaan murid baru di SMA N 1 Surakarta pada Sabtu (6/6/2026). Terlihat antrean panjang terjadi.
MEMBLUDAK. Suasana penerimaan murid baru di SMA N 1 Surakarta pada Sabtu (6/6/2026). Terlihat antrean panjang terjadi. (TribunSolo.com/Ahmad Syarifudin)

“Karena yang terdekat. Mudah-mudahan diterima. Saya dari Ketelan. Yang terdekat antara 1 dan 2. Anak milih 1. Lulusan SMPN 4,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah VII Jawa Tengah, Agung Wijayanto, mengakui antrean panjang memang terjadi di sejumlah sekolah selama proses penerimaan murid baru berlangsung.

Menurutnya, masyarakat cenderung memadati sekolah pada awal masa pelayanan meski jadwal verifikasi sebenarnya cukup panjang.

Baca juga: Verifikasi PPDB di SMA Solo Bikin Antrean Mengular, Orang Tua Sampai Berkali-kali Datang ke Sekolah

“Ini kita beri jadwal kan longgar jadi mulai tanggal 4 sampai dengan tanggal 13 untuk verifikasi ini. Karena masyarakat kan terlalu ini ya memaksakan untuk di awal-awal,” ungkap Agung.

Ia menjelaskan, sebenarnya pembuatan akun dapat dilakukan secara mandiri dari rumah. Namun banyak masyarakat tetap meminta bantuan sekolah.

“Jadi setelah pengajuan akun-akun itu sebenarnya bisa dibuat di rumah oleh siswa atau orang tua secara mandiri. Tapi realita di lapangan masih banyak masyarakat kita itu yang minta bantuan sekolah,” jelasnya.

Agung juga menegaskan bahwa verifikasi tidak wajib dilakukan di sekolah tujuan.

“Bahkan verifikasi itu tidak harus daftarnya di sekolah yang tempat verifikasi. Artinya verifikasi ini tidak harus sekolah yang dituju. Carilah sekolah yang di dekat saja yang di dekat rumah atau yang kira kira sepi jadi tidak harus milih semuanya ke sekolah yang dianggap favorit karena ini hanya sekedar verifikasi berkas,” tuturnya.

Website Palsu Mengintai

Di tengah situasi antrean panjang yang sudah membuat pening, calon siswa dan orang tua siswa juga dihadapkan pada ancaman website palsu SPMB yang beredar di internet.

Situs dengan domain spmbsolo.com diduga digunakan untuk modus penipuan berkedok pendaftaran sekolah berbayar yang mengatasnamakan Pemerintah Kota Solo. Sebelumnya juga sempat muncul situs lain dengan domain spmb.smpn1surakarta.id.

Padahal seluruh proses penerimaan murid baru resmi dilakukan melalui satu portal pemerintah dan tidak dipungut biaya.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Solo, Dwi Ariyatno, menyebut kemunculan situs tersebut diduga merupakan upaya scamming terhadap masyarakat.

“Ada upaya scamming. Sebenarnya sudah sejak kemarin. Terakhir sebelum PPDB mulai SMPN 1. Seakan-akan membuka pendaftaran dengan biaya. Padahal di SPMB atau PPDB prosesnya jadi satu semua sekolah baik SMP, SD maupun PAUD satu portal,” ungkapnya.

Menurut Dwi, masyarakat harus lebih teliti mengenali domain resmi pemerintah.

“Setiap mencari SPMB spmbsolo.com. Kalau akhiran dot com dipastikan scamming palsu. Kita hanya menggunakan domain resmi pemerintah surakarta.go.id. Kalau tidak menggunakan itu dipastikan fiktif scamming,” terangnya.

Ia memastikan hingga kini belum ada laporan masyarakat yang mengalami kerugian finansial. Namun sejumlah orang tua sempat menghubungi dinas untuk memastikan keaslian situs tersebut.

“Kalau keluar uang enggak kebetulan ragu karena tampilannya tidak sesuai bukan gambarnya Pak Respati. Konfirmasi ke Dinas Pendidikan. Kita pastikan yang resmi spmb.surakarta.go.id,” jelasnya.

Dinas Pendidikan Kota Solo pun mengimbau masyarakat lebih berhati-hati dan memastikan hanya mengakses portal resmi pemerintah dalam proses SPMB agar terhindar dari potensi penipuan. (twd/amd)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.