8 Hari Lagi Galungan, Simak Jadwal Rerahinan Hindu Bulan Juni 2026 Sesuai Kalender Bali
Putu Kartika Viktriani June 09, 2026 03:23 PM

TRIBUN-BALI.COM - Hari Raya Galungan 2026 tinggal menghitung hari.

Umat Hindu di Bali pun mulai mempersiapkan berbagai rangkaian upacara dan rerahinan suci yang berlangsung sepanjang Juni 2026.

Menjelang perayaan kemenangan dharma melawan adharma tersebut, terdapat sejumlah rerahinan penting seperti Sugihan Jawa, Sugihan Bali, hingga Penyekeban yang memiliki makna mendalam dalam proses penyucian diri lahir dan batin.

Rangkaian hari suci ini menjadi momentum spiritual yang bisa memperkuat hubungan manusia dengan Tuhan, leluhur, dan sesama.

Suasana religius tentu akan mulai terasa sejak awal Juni 2026 ini. 

 

Umat Hindu akan disibukkan dengan berbagai persiapan upacara, membersihkan tempat suci, membuat penjor, hingga menyiapkan sarana upakara.

Baca juga: Ramalan Otonan Kamis Paing Julungwangi dalam Kalender Bali, Dipercaya Panjang Umur hingga 102 Tahun

Memasuki pertengahan bulan, suasana Bali mulai memasuki persiapan Hari Raya Galungan. 

Rangkaian rerahinannya dimulai pada 11 Juni 2026, dimana umat Hindu merayakan Sugihan Jawa. 

Pada hari ini dimaknai sebagai penyucian bhuana agung atau alam semesta.

Kemudian keesokan harinya, tepatnya pada 12 Juni 2026, dilaksanakan Sugihan Bali yang merupakan penyucian bhuana alit atau diri manusia.

Pada hari yang sama juga jatuh Kajeng Keliwon Uwudan, salah satu rerahinan yang memiliki nuansa spiritual kuat.

Kajeng Keliwon dipercaya sebagai hari untuk menetralisir energi negatif dan memperkuat keseimbangan sekala-niskala.

Rangkaian rerahinan sebelum Hari Raya Galungan kemudian berlanjut pada 14 Juni 2026 dengan Hari Penyekeban.

Tradisi ini identik dengan mulai mematangkan buah-buahan, khususnya pisang, yang akan digunakan sebagai pelengkap upacara.

Pada hari yang sama juga bertepatan dengan Tilem, fase bulan mati yang sering digunakan umat Hindu untuk introspeksi diri dan sembahyang memohon penyucian batin.

Sehari setelahnya, 15 Juni 2026, umat Hindu pun telah memasuki hari Penyajaan Galungan. 

Hari ini biasanya diisi dengan membuat jaja atau jajanan sebagai pelengkap sarana banten. 

Suasana rumah tangga umat Hindu mulai semakin sibuk karena persiapan Galungan mencapai puncaknya.

Kemudian pada 16 Juni 2026 berlangsung hari Penampahan Galungan.

Selain identik dengan tradisi penyembelihan babi atau membuat lawar, hari ini juga dimaknai sebagai simbol kemenangan dharma melawan adharma.

Biasanya, pada hari ini penjor mulai terpasang di depan rumah-rumah warga, menciptakan pemandangan khas Bali yang penuh nuansa religius.

Puncaknya akan berlangsung pada 17 Juni 2026 saat Hari Raya Galungan.

Hari raya ini merupakan simbol kemenangan kebaikan melawan kejahatan.

Umat Hindu melakukan persembahyangan di rumah, pura keluarga, hingga pura kahyangan tiga.

Hari Raya Galungan juga dipercaya sebagai momentum turunnya leluhur ke dunia untuk mengunjungi keturunannya.

Keesokan harinya, 18 Juni 2026, umat Hindu merayakan hari Manis Galungan. 

Hari ini biasanya dimanfaatkan untuk bersilaturahmi, mengunjungi keluarga, dan rekreasi bersama.

Rangkaian suci pun tidak berhenti di sana. 

Pada 20 Juni 2026 terdapat hari Pemaridan Guru yang berkaitan dengan penghormatan kepada guru spiritual.

Lalu 21 Juni 2026 berlangsung Ulihan, yang dimaknai sebagai kembalinya para leluhur setelah beberapa hari berada di rumah keturunannya.

Selanjutnya pada 22 Juni 2026 ada Pemacekan Agung, rerahinan yang dipercaya baik untuk berbagai kegiatan ritual tertentu.

Menjelang Kuningan, umat Hindu kembali disibukkan dengan persiapan upakara.

Pada 24 Juni 2026 jatuh Buda Paing Kuningan yang sering dijadikan momentum persembahyangan memohon keselamatan dan kesejahteraan.

Kemudian 26 Juni 2026 merupakan Penampahan Kuningan.

Berbeda dengan Penampahan Galungan yang berlangsung meriah, suasana Penampahan Kuningan biasanya lebih sederhana namun tetap sakral.

Puncaknya berlangsung pada 27 Juni 2026 dengan Hari Raya Kuningan.

Hari raya ini dipercaya sebagai momen kembalinya para leluhur ke alam niskala setelah sebelumnya turun saat Galungan.

Persembahyangan Kuningan memiliki kekhasan berupa penggunaan nasi kuning dan tamiang sebagai simbol perlindungan dan kemakmuran.

Pada hari yang sama juga bertepatan dengan Kajeng Keliwon Enyitan yang memperkuat nuansa spiritual di Bali.

Rangkaian rerahinan Juni 2026 kemudian ditutup dengan Purnama pada 29 Juni 2026.

Hari bulan penuh ini menjadi waktu suci bagi umat Hindu untuk melakukan persembahyangan dan memohon sinar suci Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Padatnya rerahinan sepanjang Juni 2026 dipastikan membuat nuansa spiritual makin erat terasa pada keluarga dan umat Hindu Bali. 

Penjor yang berjajar di sepanjang jalan serta aroma dupa dari pelinggih keluarga akan menjadi pemandangan khas bulan ini. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.