Demo Guru Hantam Meksiko, Presiden Sheinbaum Janji Pembukaan Piala Dunia 2026 Lancar
Drajat Sugiri June 09, 2026 03:30 PM

 

TRIBUNNEWS.COM - Meksiko bakal menggelar pembukaan Piala Dunia 2026 pada Kamis, 11 Juni 2026, mendatang dengan mengambil lokasi di Mexico City Stadium.

Venue itu juga akan menjadi tempat digelarnya pertandingan antara Meksiko melawan Afrika Selatan yang digelar di hari yang sama.

Presiden Meksiko, Claudia Sheinbaum, menjanjikan pembukaan Piala Dunia 2026 di Meksiko akan berjalan lancar dan meriah.

Selain itu, Meksiko juga memberikan garansi keamanan dan kenyamanan kepada para penggemar yang datang menyaksikan dan merayakan pesta sepak bola empat tahunan ini.

Padahal, situasi di Meksiko saat ini sedang cukup genting.

Bahkan pada hari pembukaan nanti, akan ada rencana demo besar-besaran.

Baca juga: Tak Ada Tiket Starter Gratis di Timnas Inggris, Termasuk untuk Jude Bellingham di Piala Dunia 2026

Demo itu dilakukan Koordinator Tenaga Pendidik Nasional atau CNTE Meksiko.

CNTE adalah salah satu serikat guru terbesar yang ada di negara tersebut.

Para guru itu menuntut kesejahteraan dan alokasi dana pendidikan yang lebih besar.

Mereka menyayangkan pemerintah Meksiko malah lebih fokus ke Piala Dunia saat dunia pendidikan Meksiko sedang tak baik-baik saja.

Presiden Sheinbaum menanggapi isu itu sebagai salah satu upaya sabotase dari para lawan politiknya.

Ia melihat para lawan politiknya ingin memberikan citra buruk kepadanya dengan menimbulkan kegaduhan dan ketidakpastian saat event penting tersebut berlangsung.

PRESIDEN MEKSIKO - Tangkapan Layar YouTube WION yang diambil pada Kamis (30/1/2025). Menunjukkan Presiden Sheinbaum saat konferensi pers pada hari Rabu (29/1/2025) untuk memberikan tanggapan terkait perubahan nama Teluk Meksiko di Google Maps.
PRESIDEN MEKSIKO - Tangkapan Layar YouTube WION yang diambil pada Kamis (30/1/2025). Menunjukkan Presiden Sheinbaum saat konferensi pers pada hari Rabu (29/1/2025) untuk memberikan tanggapan terkait perubahan nama Teluk Meksiko di Google Maps. (Tangkapan Layar YouTube WION)

Namun Sheinbaum tak gentar dengan itu.

Ia yakin Meksiko akan bisa menjadi tuan rumah yang baik untuk menyelenggarakan Piala Dunia 2026.

"Ada beberapa kelompok yang ingin melakukan provokasi, dan mereka sebenarnya bukan guru. Hal yang mereka inginkan adalah kondisi darurat," kata Sheinbaum dikutip dari Bernama.

"Kami akan memastikan pembukaan Piala Dunia berjalan lancar, damai, dan tenang," paparnya.

Optimisme Presiden Sheinbaum ini datang tak lama dari sorotan negatif yang tertuju ke Meksiko.

Salah satu contoh kasusnya adalah seperti yang dialami Jepang saat menjalani pemusatan latihan di Monterrey.

Apes bagi mereka, kondisi lapangan tempat latihan yang digunakan Timnas Jepang berada dalam tahap yang cukup buruk.

Terdapat beberapa bagian lapangan yang menghitam, bahkan menguning dan berbeda dari permukaan lainnya.

Jepang sampai harus berpindah ke dua lokasi berbeda untuk bisa berlatih dengan abaik.

Pada akhirnya, tim liga Meksiko, Tigre, turun tangan menyambut Jepang di tempat latihannya.

Dengan itu, Timnas Jepang bisa melanjutkan agenda mereka untuk Piala Dunia 2026.

Mereka akan langsung menuju Amerika Serikat setelah menyelesaikan rangkaian persiapan di Meksiko ini.

Tim Samurai Biru juga tak akan memiliki agenda uji coba yang akan digelar pada Juni, sebagaimana yang dilakukan banyak tim lainnya.

Jepang menjalani laga uji coba pada FIFA Matchday akhir Maret hingga awal April lalu.

Di mana mereka berhasil mengalahkan Skotlandia dan Inggris.

Selain itu, Jepang juga berhasil menggulung Islandia pada pertandingan uji coba pada akhir Mei kemarin.

Risiko di Piala Dunia 2026

Sebenarnya, faktor risiko yang dihadapi selama Piala Dunia 2026 berlangsung tak hanya soal keamanan dan ketertiban umum saja.

Faktor dari dalam permainan sepak bolanya itu sendiri juga memiliki risiko besar yang harus ditanggung.

Salah satunya adalah soal padatnya jadwal kompetisi yang dimainkan selama Piala Dunia 2026.

Para pemain harus intens beraksi bagi negara masing-masing selama kurang lebih 30 hari.

Bisa dibilang, para pemain hanya memiliki jeda istirahat kurang lebih dua hingga tiga hari saja untuk selanjutnya tampil lagi bersama timnas masing-masing.

Menurut Adrian dari Spieltag Indonesia, hal tersebut bisa meningkatkan risiko para pemain itu terkena cedera karena minimnya waktu pemulihan.

"Menurut saya, menimbulkan risiko cedera pemain. Kita sih berharap tidak ada cedera selama turnamen karena hal tersebut memengaruhi kekuatan tim dan berdampak pada kualitas persaingan secara keseluruhan," katanya dalam podcast Super Taktik Tribunnews.

(Tribunnews.com/Guruh)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.