Injil Katolik Misa Rabu 10 Juni 2026 Lengkap Mazmur Tanggapan
Gordy Donovan June 09, 2026 03:42 PM

TRIBUNFLORES.COM, MAUMERE - Mari simak Injil Katolik misa Rabu 10 Juni 2026.

Injil katolik misa lengkap mazmur tanggapan dan renungan harian Katolik.

Rabu 10 Juni 2026, merupakan hari Rabu Biasa X, Santo Henrikus Balzano, Pengaku Iman yang Rendah Hati, dengan warna liturgi hijau.

Adapun bacaan liturgi Katolik hari Rabu 10 Juni 2026 adalah sebagai berikut:

Baca juga: Bacaan Injil Katolik Rabu 10 Juni 2026 Lengkap Renungan Harian Katolik

Bacaan Pertama 1Raj. 18:20-39

Ahab mengirim orang ke seluruh Israel dan mengumpulkan nabi-nabi itu ke gunung Karmel. Lalu Elia mendekati seluruh rakyat itu dan berkata: "Berapa lama lagi kamu berlaku timpang dan bercabang hati? Kalau TUHAN itu Allah, ikutilah Dia, dan kalau Baal, ikutilah dia." Tetapi rakyat itu tidak menjawabnya sepatah katapun.

Lalu Elia berkata kepada rakyat itu: "Hanya aku seorang diri yang tinggal sebagai nabi TUHAN, padahal nabi-nabi Baal itu ada empat ratus lima puluh orang banyaknya. Namun, baiklah diberikan kepada kami dua ekor lembu jantan; biarlah mereka memilih seekor lembu, memotong-motongnya, menaruhnya ke atas kayu api,

tetapi mereka tidak boleh menaruh api. Akupun akan mengolah lembu yang seekor lagi, meletakkannya ke atas kayu api dan juga tidak akan menaruh api. Kemudian biarlah kamu memanggil nama allahmu dan akupun akan memanggil nama TUHAN. Maka allah yang menjawab dengan api, dialah Allah!" Seluruh rakyat menyahut, katanya: "Baiklah demikian!"

Kemudian Elia berkata kepada nabi-nabi Baal itu: "Pilihlah seekor lembu dan olahlah itu dahulu, karena kamu ini banyak. Sesudah itu panggillah nama allahmu, tetapi kamu tidak boleh menaruh api."


Mereka mengambil lembu yang diberikan kepada mereka, mengolahnya dan memanggil nama Baal dari pagi sampai tengah hari, katanya: "Ya Baal, jawablah kami!" Tetapi tidak ada suara, tidak ada yang menjawab. Sementara itu mereka berjingkat-jingkat di sekeliling mezbah yang dibuat mereka itu.

Pada waktu tengah hari Elia mulai mengejek mereka, katanya: "Panggillah lebih keras, bukankah dia allah? Mungkin ia merenung, mungkin ada urusannya, mungkin ia bepergian; barangkali ia tidur, dan belum terjaga."

Maka mereka memanggil lebih keras serta menoreh-noreh dirinya dengan pedang dan tombak, seperti kebiasaan mereka, sehingga darah bercucuran dari tubuh mereka. Sesudah lewat tengah hari, mereka kerasukan sampai waktu mempersembahkan korban petang, tetapi tidak ada suara, tidak ada yang menjawab, tidak ada tanda perhatian.

Kata Elia kepada seluruh rakyat itu: "Datanglah dekat kepadaku!" Maka mendekatlah seluruh rakyat itu kepadanya. Lalu ia memperbaiki mezbah TUHAN yang telah diruntuhkan itu. Kemudian Elia mengambil dua belas batu, menurut jumlah suku keturunan Yakub. ?Kepada Yakub ini telah datang firman TUHAN: "Engkau akan bernama Israel." ?

Ia mendirikan batu-batu itu menjadi mezbah demi nama TUHAN dan membuat suatu parit sekeliling mezbah itu yang dapat memuat dua sukat benih. Ia menyusun kayu api, memotong lembu itu dan menaruh potongan-potongannya di atas kayu api itu.

Sesudah itu ia berkata: "Penuhilah empat buyung dengan air, dan tuangkan ke atas korban bakaran dan ke atas kayu api itu!" Kemudian katanya: "Buatlah begitu untuk kedua kalinya!" Dan mereka berbuat begitu untuk kedua kalinya. Kemudian katanya: "Buatlah begitu untuk ketiga kalinya!" Dan mereka berbuat begitu untuk ketiga kalinya,

sehingga air mengalir sekeliling mezbah itu; bahkan parit itupun penuh dengan air. Kemudian pada waktu mempersembahkan korban petang, tampillah nabi Elia dan berkata: "Ya TUHAN, Allah Abraham, Ishak dan Israel, pada hari ini biarlah diketahui orang, bahwa Engkaulah Allah di tengah-tengah Israel dan bahwa aku ini hamba-Mu dan bahwa atas firman-Mulah aku melakukan segala perkara ini.

Jawablah aku, ya TUHAN, jawablah aku, supaya bangsa ini mengetahui, bahwa Engkaulah Allah, ya TUHAN, dan Engkaulah yang membuat hati mereka tobat kembali." Lalu turunlah api TUHAN menyambar habis korban bakaran, kayu api, batu dan tanah itu, bahkan air yang dalam parit itu habis dijilatnya.

Ketika seluruh rakyat melihat kejadian itu, sujudlah mereka serta berkata: "TUHAN, Dialah Allah! TUHAN, Dialah Allah!"

Demikianlah Sabda Tuhan.

U. Syukur Kepada Allah.

Jagalah aku ya Allah, sebab pada-Mu aku berlindung. Aku berkata kepada Tuhan, “Engkaulah Tuhanku.”
Bertambahlah kesedihan orang-orang yang mengikuti allah lain; aku tidak akan ikut mempersembahkan kurban curahan mereka, juga tidak akan menyebut-nyebut nama mereka dengan bibirku.

Ya Tuhan, Engkaulah bagian warisan dan pialaku, Engkau sendirilah yang meneguhkan bagian yang diundikan kepadaku. Aku senantiasa memandang kepada Tuhan; karena Ia berdiri di sebelah kananku, aku tidak goyah.

Bait Pengantar Injil: Alleluya
Ref. Alleluya.

Tunjukkanlah lorong-Mu kepadaku, ya Tuhan, bimbinglah aku menurut sabda-Mu yang benar.

Bacaan Injil: Mat. 5:17-19

Dalam khotbah di bukit Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.

Karena Aku berkata kepadamu: Sungguh, selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi.

Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah Taurat sekali pun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat-tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Surga.

Tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Surga.”.

Demikianlah Injil Tuhan.

U. Terpujilah Kristus.

Renungan Harian Katolik

“Yesus Datang untuk Menggenapi”

“Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.” (Mat. 5:17)

Pengantar

Dalam kehidupan sehari-hari, sering kali manusia melihat aturan sebagai beban. Perintah dianggap membatasi kebebasan, hukum dipandang mengikat langkah, dan tuntutan iman terasa berat untuk dijalani. Namun dalam Injil hari ini, Yesus menunjukkan perspektif yang berbeda. Ia tidak datang untuk menghancurkan hukum Allah, tetapi untuk menggenapinya dengan kasih.

Renungan Katolik hari ini mengajak kita memahami bahwa hukum Tuhan bukanlah rantai yang mengekang manusia, melainkan jalan menuju kehidupan yang penuh kasih, damai, dan keselamatan. Di tengah dunia modern yang sering menolak nilai-nilai iman, Sabda Tuhan hari ini mengingatkan bahwa kekudusan tetap relevan dan penting.

Melalui renungan harian Katolik ini, kita diajak merenungkan bagaimana hidup kita dapat menjadi penggenapan kasih Allah di tengah keluarga, pekerjaan, sekolah, dan masyarakat.

Yesus dan Penggenapan Hukum Allah
Hukum Taurat dalam Pandangan Orang Yahudi

Bagi bangsa Israel, hukum Taurat adalah pusat kehidupan. Taurat bukan hanya sekadar aturan moral, melainkan tanda perjanjian antara Allah dan umat-Nya. Namun seiring waktu, banyak ahli Taurat lebih menekankan aturan lahiriah daripada pertobatan hati.

Mereka sibuk menghitung kewajiban, tetapi lupa akan kasih. Mereka menjaga ritual, tetapi kehilangan belas kasih terhadap sesama.

Ketika Yesus datang, banyak orang mengira Ia hendak membatalkan tradisi lama. Cara Yesus berbicara, menyembuhkan pada hari Sabat, dan makan bersama para pendosa membuat banyak orang salah paham.

Namun Yesus berkata dengan jelas:

“Aku datang bukan untuk meniadakan, melainkan untuk menggenapi.”

Artinya, Yesus membawa hukum Allah kepada makna yang paling sempurna: kasih.

Kasih sebagai Inti Hukum Tuhan

Yesus mengajarkan bahwa seluruh hukum Taurat mencapai kepenuhannya dalam kasih kepada Allah dan sesama.

Perintah tanpa kasih akan menjadi legalisme. Aturan tanpa belas kasih akan melahirkan penghakiman. Tetapi hukum yang dihidupi dalam cinta akan membawa manusia kepada keselamatan.

Refleksi Sabda Tuhan hari ini mengingatkan kita bahwa menjadi Katolik bukan hanya soal menjalankan kewajiban agama secara lahiriah. Tuhan melihat hati. Tuhan melihat ketulusan.

Kita mungkin rajin mengikuti misa, doa novena, atau pelayanan Gereja, tetapi apakah hati kita sungguh dipenuhi kasih?

Apakah kita mengampuni?
Apakah kita membantu yang lemah?
Apakah kita jujur dalam pekerjaan?
Apakah kita setia dalam keluarga?
Di situlah hukum Allah digenapi.

Renungan Injil Matius 5:17-19 dalam Kehidupan Sehari-hari
Tuhan Memanggil Kita Hidup Setia

Yesus berkata bahwa satu iota pun dari hukum Allah tidak akan ditiadakan. Sabda ini menunjukkan bahwa Allah menghargai kesetiaan dalam hal-hal kecil.Kekristenan

Kadang kita berpikir dosa kecil tidak penting. Kebohongan kecil dianggap biasa. Kemarahan kecil dianggap wajar. Namun hati yang terus membiarkan dosa kecil perlahan menjadi jauh dari Tuhan.

Renungan Injil hari ini mengajak kita untuk kembali memperhatikan kehidupan rohani sehari-hari:

Kesetiaan berdoa
Kesabaran kepada keluarga
Kejujuran dalam pekerjaan
Kerendahan hati
Kesediaan mengampuni
Kekudusan sering tumbuh dari hal-hal kecil yang dilakukan dengan cinta besar.

Kekristenan Bukan Sekadar Formalitas
Banyak orang menjalani agama hanya sebagai kebiasaan. Datang ke Gereja, tetapi hati kosong. Berdoa, tetapi tanpa relasi dengan Tuhan.

Yesus menolak iman yang hanya tampak di luar.

Ia menghendaki hati yang sungguh mengasihi Allah.

Renungan harian Katolik ini menjadi pengingat bahwa Tuhan tidak mencari kesempurnaan palsu, melainkan hati yang mau bertobat dan terus belajar mengasihi.

Ketika kita gagal, Tuhan tidak langsung menghukum. Ia mengundang kita kembali. Ia membimbing kita sedikit demi sedikit menuju kekudusan.

“Kesetiaan kepada Tuhan tidak bergantung pada penerimaan manusia.”

Tantangan Menjadi Murid Kristus di Zaman Modern
Dunia yang Semakin Relativis

Saat ini banyak nilai iman dianggap kuno. Kejujuran dianggap kelemahan. Kesucian dianggap tidak relevan. Kesetiaan dianggap membosankan.

Dunia modern menawarkan kebebasan tanpa batas, tetapi sering kehilangan arah moral.

Dalam situasi seperti ini, Sabda Tuhan menjadi terang.

Yesus tidak meminta kita mengikuti arus dunia. Ia memanggil kita menjadi terang dan garam dunia.

Menjadi murid Kristus memang tidak selalu mudah. Ada saat kita harus berbeda dari lingkungan sekitar. Ada saat kita harus mempertahankan iman meski ditertawakan.

Namun justru di sanalah kesaksian hidup Kristiani menjadi nyata.

Kesetiaan Kecil yang Mengubah Dunia

Sering kita berpikir bahwa menjadi kudus berarti melakukan hal besar. Padahal Tuhan bekerja melalui kesetiaan sederhana.

Seorang ibu yang sabar mendidik anak.

Ayah yang bekerja jujur.
Pelajar yang menolak mencontek.
Anak muda yang menjaga kemurnian hati.
Seseorang yang tetap berdoa meski lelah.
Semua itu adalah cara menggenapi hukum kasih Allah.

Refleksi Sabda Tuhan hari ini mengajak kita menyadari bahwa setiap tindakan kasih memiliki nilai kekal di hadapan Tuhan.

Yesus adalah Kepenuhan Hukum
Salib sebagai Puncak Kasih
Penggenapan terbesar hukum Allah terjadi di kayu salib.

Di sana Yesus menunjukkan cinta yang sempurna:

Mengampuni musuh
Menanggung penderitaan
Menyerahkan hidup demi keselamatan manusia
Hukum Taurat mencapai kesempurnaannya dalam pengorbanan Kristus.

Karena itu, hidup Kristiani bukan terutama soal takut hukuman, tetapi menjawab kasih Allah dengan kasih.

Ketika kita menyadari betapa besar cinta Tuhan, kita akan lebih mudah menaati kehendak-Nya.

Belajar Mengasihi Seperti Kristus

Renungan Katolik hari ini mengundang kita bertanya:

Apakah aku menjalani iman hanya sebagai kewajiban?
Apakah aku sungguh mengasihi Tuhan?
Apakah hidupku mencerminkan kasih Kristus?
Yesus tidak meminta kita sempurna seketika. Ia hanya meminta hati yang mau dibentuk.

Hari demi hari, Tuhan menguduskan kita melalui doa, Sakramen, dan pengalaman hidup.

Refleksi Sabda Tuhan Hari Ini

Matius 5:17-19 mengingatkan bahwa iman Kristiani bukan sekadar aturan kosong. Yesus datang untuk membawa hukum Allah kepada kesempurnaan kasih.

Tuhan memanggil kita untuk hidup setia, bahkan dalam hal-hal kecil. Kesabaran, kejujuran, pengampunan, dan kasih sehari-hari adalah bentuk nyata penggenapan Sabda Tuhan.

Di tengah dunia yang berubah cepat, kita dipanggil tetap teguh dalam iman. Bukan dengan kekerasan atau penghakiman, melainkan dengan cinta yang lembut dan rendah hati seperti Kristus.

Semoga melalui renungan Injil hari ini, kita semakin memahami bahwa hukum Tuhan bukan beban, melainkan jalan menuju sukacita sejati.

Doa Penutup

Tuhan Yesus, Engkau datang bukan untuk meniadakan hukum Allah, tetapi menggenapinya dalam kasih yang sempurna. Ajarlah kami untuk hidup setia kepada-Mu, bukan hanya dengan kata-kata, tetapi melalui tindakan nyata setiap hari.

Bentuklah hati kami agar semakin sabar, rendah hati, jujur, dan penuh belas kasih. Di tengah dunia yang sering menjauh dari-Mu, mampukan kami menjadi saksi cinta-Mu.

Semoga hidup kami memuliakan nama-Mu dan menjadi berkat bagi sesama. Amin. (Sumber the katolik.com/kgg).

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.