TRIBUNFLORES.COM, MAUMERE - Yayasan Payung Perjuangan Humanis (PAPHA) menggelar media gathering dengan Aliansi Wartawan Sikka (AWAS) di Aula Suster SCMM, Wairklau, Kota Maumere, Sikka, Nusa Tenggara Timur, Selasa (9/6/2026).
Kegiatan tersebut dihadiri sejumlah jurnalis di Kabupaten Sikka, pengurus Yayasan PAPHA, perwakilan dinas Kesehatan Sikka, perwakilan KKI, perwakilan Yayasan Abdi Kasih, perwakilan dari Kominfo Sikka.
Titon Mau, Project Officer Program BERSAHAJA (Bersama untuk Flores yang Sehat Jiwa) menjelaskan kegiatan ini berangkat dari keprihatinan terhadap isu kesehatan jiwa, khususnya kasus bunuh diri yang angka kejadiannya cukup tinggi di Kabupaten Sikka. Sejak Januari 2026, telah terjadi enam kasus bunuh diri.
Baca juga: Terjadi Lagi di Sikka, Pria di Kewapante Diduga Akhiri Hidup Sendiri, Polisi Lakukan Penyelidikan
Ia mengatakan peran strategis media yang mampu menjangkau masyarakat secara luas, baik di Kabupaten Sikka maupun di luar daerah, dapat menjadi sarana edukasi dalam upaya pencegahan masalah kesehatan jiwa dan kasus bunuh diri.
Selain itu, upaya edukatif, promotif, dan preventif akan terus ditingkatkan dengan melibatkan tidak hanya Yayasan PAPHA, tetapi juga media, Yayasan Abdi Kasih, komunitas, KKI, Kominfo, serta Dinas Kesehatan sebagai pemegang program utama. Kolaborasi tersebut akan dilakukan secara lintas sektor dan berkelanjutan.
"Kami juga akan mendorong penguatan advokasi kepada pemerintah maupun lembaga legislatif dengan melibatkan teman-teman media sebagai mitra strategis,"ujarnya.
Ia berharap melalui upaya bersama ini, persoalan kesehatan jiwa dan kasus bunuh diri dapat ditangani dengan lebih baik sehingga memberikan manfaat yang nyata bagi masyarakat.
"Kami berharap kerja sama ini dapat terus berlanjut dan semakin diperkuat pada masa mendatang,"ujarnya.
Sementara itu ketua AWAS, Mario P. Sina mengapresiasi pelaksanaan kegiatan tersebut.
Menurut Mario, penulisan tentang kasus bunuh sering terlihat vulgar tanpa ada pertimbangan secara psikologi.
Media, kadang mengabaikan kaidah-kaidah jurnalistik.
Selain itu, kata dia dalam penulisan harus ada penulisan disclaimer.
Contoh Disclaimer:
Catatatan Penting:
Jika Anda atau seseorang yang Anda kenal sedang mengalami masa sulit, depresi, atau memiliki pemikiran untuk bunuh diri, segera cari bantuan profesional.
Berikut adalah panduan dan sumber bantuan yang dapat diakses:
Panduan Pencegahan Bunuh Diri (Jangan Putus Asa)
Jika Anda merasa putus asa, ingatlah bahwa depresi dan gangguan kejiwaan dapat disembuhkan dengan bantuan profesional kesehatan mental.
Cari Bantuan Profesional: Segera hubungi psikolog atau psikiater.
Bercerita pada Orang Terpercaya: Jangan memendam masalah sendiri. Ceritakan beban Anda kepada sahabat, keluarga, atau orang yang Anda percayai.
Hindari Kesepian: Saat pikiran negatif muncul, usahakan berada di sekitar orang lain atau hubungi seseorang.
Sumber Bantuan di Indonesia
Into The Light Indonesia: Komunitas pencegahan bunuh diri. Anda dapat mencari informasi atau dukungan melalui situs mereka di www.intothelightid.org/tentang-bunuh-diri.
Layanan Sejiwa 119: Layanan konseling krisis kesehatan jiwa yang disediakan oleh Kemenkes (dapat dihubungi melalui telepon 119).
Rumah Sakit Jiwa atau Puskesmas: Fasilitas kesehatan terdekat biasanya memiliki layanan psikolog atau psikiater.
Tanda-tanda Bahaya (Perlu Waspada)
Jika orang terdekat menunjukkan tanda-tanda ini, mohon berikan perhatian khusus:
Membicarakan tentang keinginan mati atau bunuh diri.
Mengisolasi diri dari teman dan keluarga.
Menunjukkan perubahan suasana hati yang drastis.
Mengungkapkan rasa putus asa atau tidak memiliki jalan keluar.
Bunuh diri bukanlah jalan keluar dan ada banyak pihak yang peduli serta bersedia membantu Anda melewati masa sulit.
Peduli ODGJ
Sementara itu, perwakilan dari Yayasan Abdi Kasih, Tian mengajak insan pers untuk mengedukasi kisah inspiratif para penyitas orang dengan gangguan jiwa (OGDJ).
"Pencegahanya yang baik salah satunya melalui media. Kita harus kampanyekan tentang pentingnya Kesehatan mental, cegah bunuh diri, baik melalui media massa maupun media sosial, kita mengajak agar tidak tidak boleh diskriminasi terhadap mereka. Kita edukasi, promosi dan kita membangun kesadaran bahwa Kesehatan mental itu tanggungjawab kita bersama,"beber Tian.
"Mari kita peduli dengan ODGJ, peduli dengan Kesehatan mental, jangan abaikan. Kalau mau dibilang Sikka darurat bunuh diri, sebenarnya jauh dari itu, artinya sangat genting. Sudah saatnya kita intervensi secara bersama. Setidaknya mengurangi angka kasus bunuh diri,"ujarnya.