Trump Ancam Tinggalkan Israel jika Benjamin Netanyahu Terus Picu Perang
Darwin Sijabat June 09, 2026 04:04 PM

 

TRIBUNJAMBI.COM – Gencatan senjata April antara Amerika Serikat (AS) dan Iran terancam hancur total. 

Untuk pertama kalinya pasca-kesepakatan, Iran dan Israel kembali terlibat aksi saling serang yang sengit pada Senin (8/6/2026). 

Gejolak ini pun langsung memukul perekonomian Indonesia akibat lonjakan harga minyak dunia imbas konflik di Selat Hormuz.

Merespons eskalasi ini, Presiden Amerika Serikat Donald Trump langsung melayangkan peringatan keras kepada Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu. 

Trump menegaskan bahwa Washington tidak akan ragu menarik dukungan jika Tel Aviv terus memicu perang baru.

"Saya berkata, 'Bibi, sebaiknya kau berhati-hati, atau kau akan sendirian dalam waktu dekat,'" ungkap Donald Trump dalam wawancara telepon eksklusif dengan Axios, Senin (8/6/2026) waktu setempat.

Axios melaporkan Trump sempat menelepon Benjamin Netanyahu pada Minggu malam, mendesaknya agar tidak membalas serangan Iran. 

Donald Trump juga mengeluhkan sikap militer Israel yang terlambat memberikan notifikasi kepada Gedung Putih terkait serangan balasan mereka.

Baca juga: Iran Siap Perang Jangka Panjang, Klaim AS-Israel Salah Strategi

Baca juga: Curhat Pilu Dokter Tifa: 7 Bulan Wajib Lapor Sambil Ujian S3, Segera Disidang Bareng Roy Suryo

"Mereka sudah dalam perjalanan. Tetapi akhirnya saya membatasi (serangan Israel)," klaim Trump.

Di sisi lain, Trump mengaku dihubungi oleh para pemimpin dari lima negara regional yang cemas dan memintanya untuk menghentikan Netanyahu.

"Negara-negara ini sangat prihatin. Mereka menyukai kesepakatan yang telah kami negosiasikan," tambah Trump.

Upaya de-eskalasi sebenarnya sempat terbuka setelah Teheran mengirim pesan ke Washington pada Senin pagi, yang menyatakan kesediaan gencatan senjata timbal balik.

"Mereka menghubungi kami dan mengatakan bahwa mereka tidak akan melakukan serangan lagi serta meminta kami memberi tahu Israel agar tidak melakukan serangan lagi," papar Donald Trump.

Teguran Diplomasi: Gunakan Penilaian Sendiri

Dalam wawancara terpisah dengan Kepala Koresponden ABC News di Washington, Jonathan Karl, Donald Trump meminta Benjamin Netanyahu tidak merusak cetak biru perdamaian dengan Iran yang sedang digodok matang oleh Amerika Serikat.

"Saya tidak ingin melakukan apa pun yang akan merusak kesepakatan itu, tetapi saya berkata, 'Kau harus menggunakan penilaianmu sendiri.' Pergilah dan gunakan penilaianmu sendiri, tetapi saya tidak ingin kesepakatan itu dirugikan," kata Trump.

Trump optimistis bahwa AS memegang kendali penuh dalam meja diplomasi dengan Teheran.

"Sebenarnya cukup sederhana. Yang berkuasa adalah yang menang. Kita memiliki semua kekuasaan," ujarnya penuh percaya diri.

Bagi Trump, opsi mengerahkan militer AS dalam skala besar akan sangat mahal dan berdampak buruk bagi global, termasuk penutupan Selat Hormuz yang bisa berlarut-larut selama berbulan-bulan. 

Melalui media sosialnya, Donald Trump memperingatkan bahwa pembicaraan damai bisa gagal hanya karena faktor "ketidaktahuan atau kebodohan."

Baca juga: Iran Ancam Luncurkan Serangan Lebih Besar Jika Israel Kembali Menyerang

Baca juga: Sidang Suap Bea Cukai: Nama Raffi Ahmad Disebut, Titip iPhone 17 dan Laptop dari AS

"Jika orang-orang bodoh, kita akan berakhir pada situasi di mana kita harus menghancurkan seluruh infrastruktur suatu negara, dan saya rasa itu bukan hal yang baik, karena seseorang harus membangunnya kembali," jelas Trump kepada ABC News.

Gimik Perang: 'Marshall Plan' Barter Minyak

Jika perang besar terpaksa terjadi hingga menghancurkan infrastruktur Iran, Trump mengindikasikan AS kemungkinan harus membiayai pembangunan kembali negara tersebut, yang diproyeksikan menelan biaya hingga satu triliun dolar AS atau lebih untuk jembatan hingga pembangkit listrik baru.

Saat Jonathan Karl menanyakan apakah skenario rekonstruksi tersebut akan mirip dengan Marshall Plan—program bantuan ekonomi raksasa AS tahun 1948 senilai 13 miliar dolar AS (setara 180 miliar dolar AS saat ini) untuk membangun kembali Eropa Barat pasca-Perang Dunia II sekaligus membendung komunisme—Trump mengonfirmasinya dengan sebuah syarat transaksional.

"Ya," jawab Trump singkat, sebelum dengan cepat menambahkan, "Tapi kita akan mendapatkan setengah dari minyak mereka."

Baca juga: Anak Wakil Wali Kota Pilih Jadi Kuli Bangunan, Pesan Sang Ayah Jadi Sorotan, Sempat Viral 2019

Baca juga: Pelayanan KTP-el di Batang Hari Kembali Normal, Disdukcapil Dapat Tambahan Ribbon

Baca juga: Cegah Kenakalan Remaja, Siswa SMK di Jambi Dibekali Pemahaman Psikologi, Hukum, dan Agama

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.