Mafia Berkeley Sang Pengendali Kebijakan-kebijakan Ekonomi Orde Baru
Moh. Habib Asyhad June 09, 2026 04:34 PM

Mafia Berkeley dianggap sebagai arsitek utama kebijakan-kebijakan ekonomi Orde Baru. Meski begitu, tak semua golongan menyukai mereka.

---

Intisari hadir di whatsapp channel, follow dan dapatkan berita terbaru kami di sini

---

Intisari-Online.com -Mafia Berkeley sejatinya adalah sebuah olok-olokan. Yang pertama mencetuskannya adalah seorang penulis-aktivis kiri Amerika Serikat bernama David Ranson dalam majalah Ramparts, edisi 4 1970.

Frasa Mafia Berkeley merujuk pada sekelompok menteri bidang ekonomi dan keuangan yang menentukan kebijakan ekonomi Indonesia pada masa Orde Baru, pada masa pemerintahan Presiden Soeharto.

Secara garis besar, Mafia Berkeley beranggotakan para ekonom lulusan University of California, Berkeley yang kalau di-Indonesia-kan menjadi Universitas California Berkeley, AS. Bisa dibilang, mereka adalah para penentu jalannya kebijakan perekonomian zaman Orde Baru.

Gerbong Mafia Berkeley ini disebut berhasil menyelamatkan perekonomian Indonesia yang carut-marut yang diwariskan Orde Lama-nya Bung Karno. Mengutip Kompas.com, sebagian besar menteri-menteri “anggota” Mafia Berkeley adalah lulusan doktor atau master dari University of California at Berkeley pada 1960-an.

Nama-nama populer yang menjadi anggota Mafia Berkeley di antaranya sebagai berikut:

- Widjojo Nitisastro

Menteri Perencanaan dan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS) (1967-1983), Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Keuangan, dan Industri (1973-1983), Penasihat BAPPENAS (1983-1998), Penasihat Ekonomi Presiden (1993-1998).

- Ali Wardhana

Menteri Keuangan (1973-1983), Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Keuangan, dan Industri (1983-1988).

- Mohammad Sadli

Menteri Pertambangan di Kabinet Pembangunan Kedua.

- JB Sumarlin

Staf Ahli Menteri Keuangan (1968-1969), Sekretaris Dewan Moneter (1970-1973), Deputi Ketua Bappenas Bidang Fiskal dan Moneter (1969-1973), Anggota MPR (1972-1988), Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional (1983-1988), Menteri Keuangan Kabinet Pembangunan V (1988-1993).

- Emil Salim

Wakil Ketua BAPPENAS (1967-1971), Menteri Aparatur Negara (1971-1973), Menteri Perhubungan, Komunikasi, dan Pariwisata (1973-1978), Menteri Pengawasan Pembangunan dan Lingkungan Hidup (1978-1983), Menteri Kependudukan dan Lingkungan (1983-1993).

Di antara nama-nama itu, Widjojo Nitisastro—dan Soemitro Djojohadikoesoemo—kerap dianggap sebagai ketua kelas atau pemimpin Mafia Berkeley. Kita tahu, keduanya adalah arsitek utama perekonomian Orde Baru.

Nama Dorodjatun Kuntjoro-Jakti, yang juga lulus dari Berkeley, terkadang juga dimasukkan sebagai anggota kelompok ini.

Awalnya Proyek California

Menurut JB Sumarlin, dikutip dari Kompas.com, asal-usul Mafia Berkeley dapat ditelusuri dari usaha penguatan institusi pendidikan Fakultas Ekonomi UI (FE UI) sekitar 1950-an. Ketika itu, FE UI mengirimkan dosen-dosen terbaiknya belajar ke Amerika Serikat dengan dana bantuan Ford Foundation.

Ada sekitar 40 dosen FE UI dikirim ke berbagai perguruan tinggi di AS untuk mengikuti pendidikan magister dan doktor antara 1957-1964. Inisiatif yang dikenal dengan sebutan Proyek California ini mengirim dosen FE UI dalam empat tahapan.

Misalnya, JB Sumarlin. Dia tergabung dalam angkatan II bersama Ali Wardhana, Marsudi Djojodipoero, Kwik Kian Kiat (Budi Paramita), Ang Giok Goen (Gunawan Arie Wardhana), Harun Zain, dan Hariri Hadi.

Widjojo Nitisastro, yang dianggap sebagai leader Mafia Berkeley, masuk rombongan pertama. Sementara Soemitro, Dekan FE UI sejak 1951, menurut David Ransom, adalah perintis awal Mafia Berkeley.

Pada 1960-an, seluruh mahasiswa yang telah pulang dari AS itu kemudian ditugaskan mengajar di Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (SESKOAD).

Lewat Supersemar, Soeharto mengambil alih kekuasaan dari tangan Bung Karno. Dia kemudian membangun dasar-dasar pemerintahan yang nantinya disebut sebagai rezim Orde Baru.

Akhir Agustus 1966, Soeharto mengadakan seminar di SESKOAD untuk mendiskusikan masalah ekonomi dan politik. Juga tentang bagaimana Orde Baru akan mengatasi permasalahan negara kala itu.

Saat itu inflasi di Indonesia sudah mencapai angka 650 persen dan sedang menanggung beban neraca pembayaran luar negeri sebesar Rp714 miliar. Ekonom-ekonom FE UI yang diketuai oleh Widjojo Nitisastro pun ikut dalam seminar dan mempresentasikan ide mereka serta rekomendasi kebijakan kepada Soeharto.

Soeharto lalu terkesan dengan presentasi itu dan dengan cepat meminta mereka jadi Tim Ahli di Bidang Ekonomi dan Keuangan. Tim inilah yang berisi para ekonom lulusan University of California, Berkeley, dan menjadi arsitek utama perekonomian Indonesia pada 1960-an, atau kemudian disebut sebagai Mafia Berkeley.

Revrisond Baswir mengatakan bahwa Mafia Berkeley adalah sekelompok ekonom Indonesia yang dibina oleh Amerika Serikat (AS) untuk membelokkan arah perekonomian Indonesia ke jalan ekonomi pasar neoliberal. Sementara menurut JB Sumarlin, mereka disebut mafia karena pemikirannya dianggap sebagai bagian dari rencana CIA untuk membuat Indonesia sebagai boneka Amerika.

Memang benar, kebijakan-kebijakan ekonomi Mafia Berkeley berlandaskan pada ekonomi liberal dan pasar bebas yang mewujud dalam Penanaman Modal Asing.

Untuk mengatasi perekonomian Indonesia yang kacau balau, mereka berfokus pada pengendalian inflasi dan menyeimbangkan anggaran. Hal itu terbukti membuat kondisi ekonomi di Indonesia jauh lebih stabil.

Inflasi yang awalnya sebesar 650 persen pada 1966, turun menjadi hanya 13 persen pada 1969. Saat Pak Harto akhirnya resmi menjadi presiden pada 1968, Mafia Berkeley segera diberi berbagai jabatan menteri.

Dan sejak itu, Mafia Berkeley memiliki pengaruh kuat dalam kebijakan ekonomi dan membawa perekonomian Indonesia ke tingkat pertumbuhan yang sangat tinggi. Bahkan Mafia Berkeley mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi di Indonesia.

Tingkat pertumbuhannya tinggi, rata-rata sekitar 6,5 persen per tahun. Tak hanya itu, program yang dicanangkan Mafia Berkeley juga bertujuan untuk rehabilitasi infrastruktur serta pengembangan sektor pertanian.

Di waktu bersamaan, sebuah program internasional juga dibentuk untuk mendukung pemulihan ekonomi di Indonesia. Namanya Inter-Governmental Group on Indonesia (IGGI).

Meskipun begitu, Mafia Berkeley bukan tanpa kritik. Bahkan ada beberapa kelompok yang kurang menyukai geng ini.

Di sepanjang sejarah Orde Baru, tantangan yang dihadapi oleh Mafia Berkeley berasal dari kalangan militer seperti Ali Murtopo, Ibnu Sutowo, dan Ali Sadikin. Mereka lebih pro pada pendekatan ekonomi secara nasionalis.

Karena itulah mantan Dirut Pertamina, Ibnu Sutowo, mulai mempelopori nasionalisme ekonomi pada 1970-an. Saat itu harga minyak dunia berhasil melonjak dan uang hasil jual-beli minyak bumi masuk ke kantong pemerintah.

Ibnu Sutowo pun membangun berbagai hal dengan uang tersebut, seperti industri bahan, rumah sakit modern, lapangan golf, hingga pabrik pupuk terapung. Berkat keberhasilan tersebut, Soeharto pun mulai berpaling ke kelompok ekonomi nasionalis, sehingga kekuatan Mafia Berkeley mulai dikurangi.

Tapi pada pertengahan 1980-an, kondisi pertumbuhan ekonomi di Indonesia kembali terhambat karena turunnya harga minyak. Soeharto pun kembali kepada Mafia Berkeley.

Sekali lagi, Mafia Berkeley melakukan liberalisasi dan deregulasi. Sebagai hasilnya, pertumbuhan ekonomi di Indonesia kembali meningkat.

Namun, saat perekonomian Indonesia sudah mulai tumbuh, Mafia Berkeley kembali menghadapi oposisi politik. Jika sebelumnya dari kalangan militer, kini berasal dari Sudharmono dan Ginandjar Kartasasmita, yang menginginkan nasionalisasi ekonomi. Tak hanya itu, BJ Habibie juga menginginkan perkembangan ekonomi berbasis teknologi.

Karena itulah posisi Mafia Berkeley semakin melemah ketika krisis finansial Asia Tenggara terjadi pada 1997. Meski begitu, Mafia Berkeley masih tetap ada setelah Orde Baru tumbang.

Hanya pemerintahan Gus Dur yang tidak ada Mafia Berkeley-nya. Meski begitu, nama mereka kembali disebut-sebut setiap ada pergantian tim ekonomi kabinet. Sekuat itukah pengaruh Mafia Berkeley?

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.