TRIBUNNEWSMAKER.COM - Jika banyak orang mengenal Candi Plaosan sebagai destinasi terbaik untuk menikmati suasana pagi, ternyata pesona kawasan bersejarah ini justru memiliki wajah lain yang tak kalah memukau saat senja mulai turun.
Menjelang matahari tenggelam, hamparan lanskap di sekitar Candi Plaosan berubah menjadi pemandangan yang begitu menenangkan mata.
Langit perlahan berganti warna dari biru cerah menjadi gradasi jingga, keemasan, hingga semburat merah muda yang membentang di cakrawala.
Di saat itulah siluet megah Candi Plaosan berdiri kokoh seakan menantang perjalanan zaman yang telah berlangsung selama lebih dari seribu tahun.
Pemandangan tersebut menjadi salah satu daya tarik yang membuat banyak wisatawan sengaja datang pada sore hari.
Dari area persawahan yang mengelilingi kompleks candi, pengunjung dapat menikmati perpaduan sempurna antara warisan sejarah, bentang alam pedesaan, dan panorama senja yang sulit ditemukan di tempat lain.
Baca juga: Mengenang Olivia Dewi, Model Meninggal Kecelakaan Nissan Juke, Ternyata Kakak Aktor, Ziarah ke Makam
Semilir angin yang berembus pelan di antara hamparan padi menambah suasana terasa semakin syahdu.
Ketika cahaya matahari mulai meredup, bayangan candi perlahan memanjang di atas rerumputan dan persawahan di sekitarnya.
Momen tersebut kerap menjadi waktu favorit para pemburu foto maupun wisatawan yang ingin menikmati ketenangan setelah seharian beraktivitas.
Tak sedikit pengunjung yang memilih duduk santai di tepi area candi hanya untuk menyaksikan proses matahari tenggelam di balik horizon.
Suasana yang tercipta menghadirkan pengalaman berbeda dari destinasi wisata pada umumnya.
Di tengah derasnya perkembangan zaman, Candi Plaosan tetap mempertahankan pesonanya sebagai ruang yang mampu menghadirkan ketenangan sekaligus kekaguman.
Landscape Plaosan seolah menjadi bukti bahwa keindahan alam dan sejarah dapat berpadu dalam satu bingkai yang harmonis.
Keistimewaan Candi Plaosan tidak hanya terletak pada panorama alamnya.
Kompleks candi ini merupakan salah satu peninggalan bersejarah dari abad ke-9 yang berada di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.
Baca juga: 3 Perusahaan Giorgio Antonio Pacar Sarwendah yang Ngaku CEO, Jual Parfum Lokal, Ada yang Bangkrut
Candi Plaosan dikenal luas sebagai "Candi Kembar" sekaligus simbol toleransi dan kisah cinta yang melintasi perbedaan keyakinan.
Sejarah mencatat bahwa pembangunan candi ini berkaitan dengan Raja Rakai Pikatan yang menganut Hindu Siwa dan permaisurinya, Pramodhawardhani, yang beragama Buddha Mahayana dari Wangsa Syailendra.
Perpaduan dua latar belakang tersebut kemudian melahirkan salah satu kompleks candi paling unik di Pulau Jawa.
Dilansir dari berbagai sumber Selasa (9/6/2026) secara keseluruhan, kawasan Candi Plaosan terbagi menjadi dua bagian utama.
Pertama adalah Candi Plaosan Lor atau Plaosan Utara yang menjadi area paling terkenal karena memiliki bangunan candi induk kembar yang ikonik.
Pada candi induk bagian utara terdapat relief yang didominasi tokoh perempuan, sementara candi induk selatan didominasi relief tokoh laki-laki.
Sementara itu, Candi Plaosan Kidul atau Plaosan Selatan memiliki ukuran yang lebih kecil dengan satu candi utama yang dikelilingi bangunan-bangunan perwara berbentuk stupa dan candi kecil.
Lokasinya berada di Jalan Candi Plaosan, Dukuh Plaosan, Desa Bugisan, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.
Letaknya pun sangat strategis karena hanya berjarak sekitar satu kilometer dari kawasan Candi Prambanan.
Selain menawarkan nilai sejarah yang tinggi, kawasan wisata ini juga dilengkapi berbagai fasilitas seperti area parkir, pemandu lokal, warung makanan, hingga beragam spot foto yang menarik.
Namun bagi banyak pengunjung, daya tarik terbesar Candi Plaosan tetaplah panorama alamnya saat senja.
Ketika matahari perlahan tenggelam dan langit berubah menjadi kanvas warna-warni, kompleks candi yang berdiri sejak abad ke-9 itu tampak semakin megah.
Sebuah pemandangan yang mengingatkan bahwa keindahan tidak selalu harus dicari jauh-jauh. Kadang, ia hadir dalam bentuk siluet candi kuno, hamparan sawah yang tenang, dan matahari yang perlahan berpamitan di ufuk barat.
(Tribunnewsmaker.com/Candra)