Pemilik Warung di Jambi Keluhkan Harga Sembako Naik, Omzet Turun 50 Persen
Heri Prihartono June 09, 2026 05:11 PM

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Sejumlah pemilik toko kelontong di Kota Jambi mengaku harga beberapa kebutuhan pokok mengalami kenaikan dalam satu bulan terakhir.

Meski demikian, ketersediaan stok barang hingga saat ini masih tergolong aman dan tidak mengalami kelangkaan.

Ayu, pemilik warung kelontong di kawasan Jalan Sumatera, Kota Jambi, mengatakan kenaikan terjadi pada sejumlah komoditas, salah satunya minyak goreng curah.

"Minyak curah sekarang Rp22 ribu per kilogram, sebelumnya Rp21 ribu per kilogram," ujarnya saat ditemui Tribunjambi.com, Selasa (9/6/2026).

Sementara itu, untuk tepung kemasan, ia menyebut belum mengalami kenaikan harga dan masih dijual sekitar Rp14 ribu per kilogram.

Adapun harga gula pasir saat ini berada di kisaran Rp18 ribu per kilogram.

Menurutnya, kenaikan harga tersebut telah terjadi sekitar satu bulan terakhir.

Ia mengaku mengambil pasokan barang dari grosir dan tidak mengetahui secara pasti penyebab kenaikan harga tersebut.

"Kami ambil dari grosiran. Kalau penyebab naiknya kurang tahu juga," katanya.

Meski harga mengalami kenaikan, ia menilai kondisi tersebut belum terlalu memengaruhi daya beli masyarakat.

"Pembeli masih biasa saja," ujarnya.

Hal senada disampaikan pemilik warung lainnya yang akrab disapa Papi.

Ia mengatakan hampir seluruh kebutuhan pokok yang dijual di warungnya mengalami kenaikan harga dalam beberapa pekan terakhir.

"Minyak curah biasanya Rp19 ribu, sekarang sudah Rp21 ribu per kilogram," katanya.

Selain minyak goreng, harga beras juga mengalami kenaikan. Untuk beras kemasan 20 kilogram saat ini dijual di atas Rp300 ribu per karung, padahal sebelumnya masih berada di bawah angka tersebut.

Harga gula pasir juga naik dari sekitar Rp17 ribu menjadi Rp18.500 per kilogram.

Sementara itu, harga tepung terigu turut mengalami kenaikan dari sekitar Rp6.000 per setengah kilogram.

Meski harga mengalami kenaikan, Papi memastikan ketersediaan stok sembako masih aman.

"Kalau minggu ini habis, minggu depan sudah ada lagi. Intinya tidak pernah putus stok," ujarnya.

Namun demikian, kenaikan harga tersebut mulai berdampak terhadap penjualan di warungnya.

Ia mengaku omzet usaha yang dijalankannya mengalami penurunan cukup signifikan.

"Omzet turun sampai 50 persen karena harga barang naik," katanya.

(Tribunjambi.com/M Yon Rinaldi)

Baca juga: Dollar Tembus Rp18.200, Bengkel di Jambi Keluhkan Naiknya Oli Mesin

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.