Ketahanan Masyarakat Sidoharjo Tepus Gunungkidul Hadapi Kekeringan Lewat Pengelolaan Sumber Daya Air
Muhammad Fatoni June 09, 2026 05:14 PM

TRIBUNJOGJA.COM - Di tengah tantangan kekeringan yang kerap melanda wilayah Kalurahan Sidoharjo, Kapanewon Tepus, Kabupaten Gunungkidul, masyarakat terus berupaya mencari solusi untuk memenuhi kebutuhan air bersih.

Salah satu upaya yang kini menjadi harapan baru adalah pengelolaan sumber mata air lokal menjadi produk air minum yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat.

Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan oleh mahasiswa magang Universitas Amikom Yogyakarta di Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kalurahan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPMKP2KB), kondisi ketersediaan air di Kalurahan Sidoharjo masih menjadi tantangan serius, terutama saat musim kemarau.

Menurut Heru Eko Susilo, masyarakat selama ini bergantung pada sistem distribusi air pompa yang penggunaannya terjadwal. Namun, distribusi air tersebut belum mampu memenuhi kebutuhan masyarakat secara optimal.

“Kalau berbicara tentang kondisi ketersediaan air di wilayah kami, terutama saat musim kemarau seperti ini, memang sangat sulit. Sebagian masyarakat menggunakan air pompa dengan sistem meteran, sementara yang tidak menggunakan harus membeli air tangki,” ujarnya.

Berawal dari Kebutuhan Kesedian Air Minum Bersih

Kondisi kekeringan yang sering terjadi di Kalurahan Sidoharjo mendorong masyarakat untuk mencari alternatif sumber air yang dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan.

Salah satu upaya yang dilakukan adalah pembangunan Sumur Bor Soka yang pada awalnya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan air minum masyarakat.

Namun, dalam perjalanannya pemanfaatan sumur bor tersebut menghadapi kendala biaya operasional yang cukup tinggi sehingga belum dapat berjalan secara optimal.

Untuk memaksimalkan manfaat sumber air yang tersedia, penggunaannya kemudian dialihkan untuk mendukung kebutuhan pertanian masyarakat, terutama pada saat musim kemarau ketika ketersediaan air menjadi semakin terbatas.

Seiring berkembangnya teknologi, masyarakat mulai memahami potensi air tanah di kawasan pesisir dan banyak yang membangun sumur bor secara mandiri.

Kondisi ini membuat pemanfaatan Sumur Bor Soka kembali berkembang mengikuti kebutuhan masyarakat yang terus berubah.

Perkembangan sektor pariwisata di kawasan pesisir Sidoharjo kemudian menjadi babak baru dalam pemanfaatan sumber air tersebut.

Air dari Sumur Bor Soka dimanfaatkan melalui Sistem Penyediaan Air Minum Desa (SPAMDes) untuk memenuhi kebutuhan pelaku usaha wisata di kawasan Pantai Sundak, Pantai Ngandong, dan Pantai Indrayanti, serta masyarakat yang berdomisili di wilayah pesisir.

“Pada awalnya dikelola oleh kelompok masyarakat. Karena berada di tanah kas, pemerintah kalurahan kemudian ikut terlibat dalam pengelolaannya,” jelas Heru.

Keterlibatan pemerintah kalurahan bersama masyarakat membuka peluang pengembangan yang lebih luas.

Melalui kerja sama dengan AKPRIND dan Universitas Gunung Kidul (UGK), sumber air tersebut selanjutnya dikembangkan menjadi air minum siap konsumsi yang memiliki nilai tambah bagi masyarakat dan menjadi salah satu inovasi pengelolaan sumber daya air di Kalurahan Sidoharjo.

Menjadi Produk Air Minum Lokal

Transformasi sumber air menjadi produk air minum bermula dari program kerja sama yang melibatkan perguruan tinggi, yaitu AKPRIND dan Universitas Gunung Kidul (UGK).

Melalui program tersebut, dilakukan proses pengujian kualitas air serta pengadaan teknologi penyulingan agar air layak dikonsumsi masyarakat.

Dari dua sumber air yang tersedia, salah satu sumber dipilih karena memiliki kualitas yang lebih baik setelah melalui proses pengujian laboratorium.

Langkah ini dilakukan karena air yang tersedia secara alami memiliki rasa payau dan kandungan kapur yang cukup tinggi.

Dengan adanya teknologi penyulingan, air dapat diolah menjadi air minum yang aman dan sehat.

Hasil pengelolaan tersebut kemudian dikembangkan menjadi produk air minum lokal dengan merek Banyu Soka.

Produk ini dipasarkan dalam bentuk air galon isi ulang serta air minum kemasan botol yang dapat dikonsumsi oleh masyarakat maupun wisatawan yang berkunjung ke kawasan pesisir Sidoharjo.

“Tujuan utamanya agar masyarakat bisa mendapatkan air minum yang lebih sehat dari sumber daya yang dimiliki sendiri,” kata Heru.

Baca juga: Sejenak Menepi dari Penatnya Kota, Mengintip Pesona Tahura Bunder Gunungkidul

Mendorong Kemandirian dan Efisiensi Ekonomi

Selain membantu memenuhi kebutuhan air bersih, pengelolaan sumber mata air juga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Produk air minum Banyu Soka dipasarkan melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Maju Bersama sehingga masyarakat dapat memperoleh air minum berkualitas dengan harga yang lebih terjangkau.

Menurut Heru, selama ini banyak depot air minum di wilayah Sidoharjo yang mengambil sumber air dari luar daerah.

Kehadiran Banyu Soka menjadi alternatif produk lokal yang memanfaatkan sumber daya alam setempat sekaligus mendukung kemandirian ekonomi masyarakat.

“Manfaatnya masyarakat bisa memanfaatkan produk lokal yang sumbernya berasal dari wilayah sendiri. Dari sisi ekonomi juga lebih hemat karena harga yang ditawarkan lebih terjangkau,” ungkapnya.

Keberadaan Banyu Soka tidak hanya memberikan akses terhadap air minum yang lebih sehat, tetapi juga menjadi bukti bahwa potensi lokal dapat diolah menjadi produk bernilai ekonomi yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.

Tantangan dan Harapan ke Depan

Meski memberikan banyak manfaat, pengelolaan sumber mata air masih menghadapi sejumlah tantangan.

Salah satunya adalah masih perlunya sosialisasi kepada masyarakat terkait kualitas dan manfaat produk air minum lokal yang dihasilkan.

Menurut Heru, sebagian masyarakat masih belum sepenuhnya percaya terhadap produk lokal tersebut meskipun telah dinyatakan aman dan sehat berdasarkan hasil uji laboratorium.

Ke depan, masyarakat berharap pengelolaan sumber daya air dapat terus dikembangkan sehingga mampu menjangkau lebih banyak wilayah, khususnya padukuhan di kawasan pesisir utara yang saat ini belum sepenuhnya terlayani.

“Harapan kami, sumur yang ada bisa menjangkau wilayah-wilayah lain sehingga manfaatnya semakin luas. Kami juga berharap masyarakat semakin mengenal dan percaya bahwa produk air minum yang berasal dari kalurahan ini memiliki kualitas yang baik dan sehat,” tutupnya.

Melalui pengelolaan sumber daya air yang berkelanjutan, masyarakat Sidoharjo menunjukkan bahwa keterbatasan sumber daya bukanlah penghalang untuk berinovasi.

Dari mata air yang dahulu hanya dimanfaatkan untuk pertanian, kini lahir sebuah harapan baru melalui produk air minum lokal Banyu Soka yang menjadi simbol ketahanan masyarakat dalam menghadapi kekeringan sekaligus mendorong kemandirian ekonomi berbasis potensi desa.

Keberadaan produk ini membuktikan bahwa sumber daya lokal yang dikelola dengan baik dapat memberikan manfaat nyata bagi kesejahteraan masyarakat dan pembangunan Kalurahan Sidoharjo. (*/adv)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.