TRIBUNKALTARA.COM, TARAKAN- Menguatnya nilai tukar Dolar Amerika Serikat berdampak pada kenaikan sejumlah kebutuhan pokok dirasakan pula pada komoditas makanan ringan di Tarakan, Kalimantan Utara. Salah satunya kerupuk.
Kini kerupul mengalami kenaikan harga di tingkat agen sebelum didistribusikan ke pedagang pasar dan pengecer. Kenaikan harga kerupuk dibenarkan Jefri agen kerupuk di Jalan Yos Sudarso, Kelurahan Sebengkok, Tarakan.
Jefri mengaku, sejumlah jenis kerupuk mengalami kenaikan harga sejak awal Maret 2026 atau sebelum Ramadan dan Idul Fitri 2026. Kenaikan harga bervariasi, rerata naik di kisaran Rp 5 ribu per karung.
"Rata-rata naik Rp5 ribu. Hampir semua jenis kerupuk ada kenaikan," ujar Jefri, agen kerupuk yang melayani distribusi ke pedagang di berbagai pasar di Tarakan, saat ditemui TribunKaltara.com di salah satu penjualan sembako Pasar Tenguyun, Selasa (9/6/2026).
Baca juga: Tiket Pesawat Naik, DKPP Tarakan Berangkatkan Petani dan Nelayan Pakai Kapal ke Penas di Gorontalo
Misalnya harga kerupuk potato yang sebelumnya dijual ke pedagang seharga Rp 115 ribu kini menjadi Rp120 ribu per kemasan. Begitu pula kerupuk bawang yang naik dari Rp100 ribu menjadi Rp105 ribu.
Kemudian kerupuk taro kembung mengalami kenaikan dari Rp130 ribu menjadi Rp135 ribu. Sementara salah satu produk yang cukup diminati masyarakat yakni kerupuk Inol juga mengalami penyesuaian harga dari Rp115 ribu menjadi Rp120 ribu.
Kenaikan paling signifikan terjadi pada kerupuk udang. Jika sebelumnya produk tersebut dijual seharga Rp176 ribu per kemasan 5 kilogram, kini naik menjadi Rp180 ribu.
"Itu harga dari agen ke penjual, belum harga eceran ke masyarakat," jelasnya.
Jefry mengatakan, harga yang berlaku saat ini merupakan harga distribusi dari agen kepada para pedagang pasar. Karena itu, bukan tidak mungkin harga yang diterima konsumen akhir akan lebih tinggi setelah ditambah margin penjualan masing-masing pedagang. Ia menjelaskan, kenaikan harga tersebut mulai diterapkan sejak awal Maret 2026.
"Awal bulan tiga naiknya, sebelum Lebaran," katanya.
Baca juga: Nilai Tukar Rupiah Terus Melemah Tembus Rp16.220 per Dolar AS, Bank Indonesia Siap-siap Intervensi
Meski mengalami kenaikan, distribusi kerupuk ke pedagang di Tarakan sejauh ini masih berjalan normal. Permintaan dari pasar juga disebut tetap ada karena kerupuk menjadi salah satu pelengkap makanan yang banyak dikonsumsi masyarakat sehari-hari.
Fenomena kenaikan harga kerupuk ini menambah daftar komoditas yang mengalami penyesuaian harga di tengah gejolak ekonomi global. Penguatan dolar yang berdampak pada biaya produksi dan distribusi sejumlah bahan pangan ikut dirasakan hingga ke tingkat pedagang dan konsumen di daerah.
Jefry berharap kondisi harga dapat kembali stabil sehingga daya beli masyarakat tetap terjaga dan aktivitas perdagangan berjalan normal.
"Kalau permintaan masih ada, cuma memang harga sekarang sudah naik dibanding sebelumnya," pungkasnya.
(*)
Penulis: Andi Pausiah