Perry Warjiyo Ungkap Alasan BI Tiba-tiba Naikkan BI Rate Jadi 5,50 Persen
Sanusi June 09, 2026 05:38 PM

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengungkap alasan di balik keputusan BI yang secara mendadak menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate, sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,50 persen pada Selasa (9/6/2026).

Menurut Perry, keputusan tersebut diambil setelah BI melakukan evaluasi rutin terhadap perkembangan ekonomi dan pasar keuangan yang dilakukan setiap pekan.

Ia menjelaskan, dalam pelaksanaan tugasnya, BI tidak hanya mengandalkan Rapat Dewan Gubernur (RDG) bulanan untuk memantau kondisi ekonomi. Setiap hari Selasa, BI juga melakukan evaluasi berkala terhadap hasil kebijakan yang telah dijalankan.

Baca juga: Bank Indonesia Tiba-tiba Naikkan BI Rate Jadi 5,50 Persen

"Sesuai undang-undang dan praktek selama ini, pengambilan keputusan kalau kebijakan-kebijakan BI itu setiap rapat Dewan Gubernur bulanan," ucap Perry di Gedung DPR RI, Selasa.

"Nah, tentu saja waktu membuat keputusan itu kan ada proyeksi-proyeksi. Nah, setiap minggu, setiap hari Selasa, setiap hari Selasa itu BI melakukan evaluasi pelaksanaannya gimana. Apakah proyek ini sejalan atau enggak," sambungnya.

Perry mengatakan, pada RDG sebelumnya yang digelar pada 19-20 Mei 2026, BI telah menaikkan BI Rate sebesar 50 bps. Saat itu, keputusan diambil berdasarkan berbagai proyeksi ekonomi dan pasar yang tersedia.

Namun dalam evaluasi terbaru, BI menemukan bahwa pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat berlangsung lebih dalam dibandingkan perkiraan sebelumnya.

Atas dasar tersebut, BI memutuskan mengambil langkah lebih cepat dengan menggelar RDG dan menaikkan BI Rate sebelum jadwal rapat reguler yang semula direncanakan pada 17-18 Juni 2026.

"Dalam berbagai evaluasi hari ini kita melihat loh kok pelemahan rupiah melebih yang kita proyeksikan dulu, dan karenanya tadi judulnya adalah langkah-langkah kebijakan lanjutan untuk penguatan stabilitas nilai tukar rupiah," jelasnya.

Baca juga: Ekonom Ungkap Tiga Syarat Agar Kenaikan BI-Rate Efektif Stabilkan Rupiah

Sebelumnya, Bank Indonesia (BI) menaikkan BI-Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,50 persen, pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada Selasa (9/6/2026).

Keputusan ini diambil lebih cepat dari jadwal RDG reguler BI yang semula direncakan berlangsung pada 17-18 Juni 2026.

Selain itu, kenaikan BI-Rate ini dilakukan untuk merespons pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang melemah beberapa waktu terakhir. 

"Rapat Dewan Gubernur memutuskan untuk kembali menaikkan BI-Rate sebesar 25 bps menjadi 5,50 persen, suku bunga Deposit Facility sebesar 25 bps menjadi 4,50 persen, dan suku bunga Lending Facility sebesar 25 bps menjadi 6,25 persen," kata Gubernur BI Perry Warjiyo, dalam keterangannya, Selasa. 

Perry menyatakan, kenaikan BI rate 25 bps sebagai langkah lanjutan untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar Rupiah dari dampak tingginya gejolak global akibat perang di Timur Tengah serta sebagai langkah pre-emptive untuk menjaga inflasi pada tahun 2026 dan 2027 agar tetap berada dalam kisaran sasaran 2,5±1 persen yang ditetapkan Pemerintah. 

"Kebijakan ini juga ditujukan untuk meningkatkan imbal hasil bagi daya tarik masuknya aliran masuk investasi portfolio asing ke Indonesia," tutur Perry.

Menurut Perry, sejak sejak RDG sebelumnya tanggal 18-19 Mei 2026, nilai tukar Rupiah menunjukkan perkembangan yang lebih lemah dari yang diperkirakan. Kondisi tersebut disebabkan oleh gejolak global yang terus berlanjut dan tingginya permintaan valuta asing dalam negeri, pelemahan juga didorong oleh aliran keluar investasi portfolio asing dari Indonesia. 

"Sehubungan dengan itu, Bank Indonesia memandang perlu untuk menempuh langkah-langkah lanjutan untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar Rupiah dengan meningkatkan kembali imbal hasil dan sejumlah insentif lain dalam operasi moneter untuk mendorong masuknya aliran investasi asing," kata Perry.

"Stabilisasi nilai tukar Rupiah dimaksud juga ditempuh agar ketahanan eksternal ekonomi Indonesia tetap terjaga dan sasaran inflasi tahun 2026 dan 2027 tetap tercapai," imbuhnya menegaskan.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.