ADA SEBUAH rasa yang tertinggal di kerongkongan setiap kali ingatan saya terbang kembali ke tahun 2012. Rasa itu adalah pahit-manis cà phê sữa đá yang diaduk tergesa di atas trotoar Saigon, berbaur dengan deru ribuan sepeda motor yang membelah kota seperti aliran darah yang tak pernah surut.
Di sanalah, di antara riuh rendah kota yang bertumbuh pesat, saya pertama kali meletakkan kaki dan menyerahkan sekeping hati saya pada keramahan sekelompok anak muda Vietnam.
Bagi seorang asing yang baru pertama kali menginjakkan kaki di tanah Indochina, Saigon—atau yang kini akrab disebut Kota Ho Chi Minh—bisa menjadi tempat yang mengintimidasi.
Namun, kecemasan itu menguap begitu saja saat saya bertemu dengan mereka. Mereka adalah perwujudan dari Saigon yang sebenarnya: muda, penuh semangat, enerjik, namun memiliki kehangatan yang tulus.
Tanpa ada sekat kecurigaan, mereka menyambut saya layaknya seorang sahabat lama yang baru kembali dari perantauan jauh.
Pertemuan kami dimulai dari obrolan-obrolan ringan di pinggir jalan. Duduk di atas kursi plastik pendek yang ikonik, kami melarutkan malam dalam cangkir-cangkir kopi.
Di bawah lampu kota yang temaram, mereka bercerita tentang mimpi-mipi mereka, tentang musik yang mereka sukai, dan tentang kecintaan mereka pada kota ini. Meski bahasa kadang menjadi pembatas, senyuman dan tawa renyah mereka menjadi penerjemah terbaik.
Di atas trotoar yang berdebu itu, saya menyadari satu hal: persahabatan tidak membutuhkan tata bahasa yang sempurna, ia hanya butuh hati yang terbuka.
Hari berikutnya menjadi petualangan yang tak akan pernah terkikis oleh waktu. Mereka mengajak saya menjelajahi sisi lain dari sejarah negeri mereka.
Kami menaiki sebuah bus kecil, berdesakan dengan penduduk lokal, membelah jalanan pinggiran kota menuju Terowongan Cu Chi (Địa đạo Củ Chi).
Di dalam bus yang bergoyang-goyang itu, lagu-lagu lokal mengalun dari radio tua, diselingi candaan anak-anak muda yang tak ada habisnya. Keseruan itu membuat perjalanan yang jauh terasa begitu singkat.
Sesampainya di Cu Chi, atmosfer seketika berubah. Kami berjalan di bawah rindangnya pepohonan yang menyembunyikan jejak-jejak perang masa lalu. Ketika tiba waktunya untuk masuk ke dalam terowongan tanah yang sempit dan gelap, rasa ngeri sempat menyergap.
Namun, tangan-tangan ramah mereka selalu siap mengulurkan bantuan. Kami merangkak bersama di dalam perut bumi, merasakan pengap dan pekatnya sejarah.
Di dalam kegelapan terowongan itu, saya tidak merasa takut, karena saya tahu ada sahabat-sahabat baru yang berjalan di depan dan di belakang saya.
Usai keluar dari perut bumi dengan peluh yang bercucuran, sebuah kesederhanaan yang magis menanti kami. Kami duduk melingkar, menikmati hidangan khas para gerilyawan zaman dahulu: singkong rebus yang dicocol dengan campuran garam, gula, dan kacang tumbuk.
Di tengah kelelahan, singkong sederhana itu terasa begitu nikmat karena disantap bersama. Tak ada sekat, tak ada perbedaan bangsa; yang ada hanyalah sekelompok anak muda yang merayakan kehidupan.
Petualangan hari itu ditutup dengan sempurna di tepi Sungai Saigon. Angin sore berembus pelan, membawa aroma air dan kehidupan pelabuhan. Di sebuah kedai sederhana di tepi sungai, kami memesan semangkuk Phở Vietnam yang mengepul hangat.
Kaldu sapinya yang kaya rempah, berpadu dengan segarnya daun ketumbar dan perasan jeruk nipis, seolah membasuh seluruh lelah kami. Sambil memandang riak air sungai yang memantulkan cahaya senja, kami makan dalam diam yang damai, sebuah momen kontemplasi atas indahnya persahabatan interkultural ini.
Lima hari berlalu seperti kedipan mata. Saigon yang bising dan sibuk kini terasa seperti rumah yang nyaman. Namun, setiap perjalanan selalu memiliki batas ruang dan waktu.
Di hari terakhir, saat kota masih terlelap dalam pelukan malam yang dingin, fajar baru mulai membayang di ufuk timur.
Dalam keheningan dini hari itu, seorang frater lokal yang menjadi bagian dari lingkaran sahabat baru saya, dengan setia mengantarkan saya menuju terminal bus. Jalanan Saigon yang biasanya padat, pagi itu tampak lengang dan melankolis.
Ada rasa berat yang menggelayut di dada saat saya harus melangkah naik ke atas bus yang akan membawa saya menyeberang perbatasan menuju Phnom Penh, Kamboja.
Dari balik jendela bus yang mulai berjalan perlahan, saya melambaikan tangan. Sosok frater dan bayangan sudut-sudut kota Saigon perlahan mengecil dan menghilang di balik tikungan jalan. Bus bergerak menjauh, meninggalkan sejuta kenangan yang tertanam kuat di benak saya.
Tahun 2012 telah lama berlalu, dan Saigon pasti telah banyak berubah menjadi kota metropolitan yang jauh lebih modern.
Namun, bagi saya, Saigon akan selalu menjadi kota di mana secangkir kopi di pinggir jalan, semangkuk Phở di tepi sungai, dan ketulusan hati muda-mudinya telah mengajari saya tentang arti sejati dari sebuah keramahtamahan.
Persahabatan singkat itu adalah sebuah puisi indah yang ditulis oleh takdir di sepanjang jalan-jalan Saigon, dan baris-barisnya akan tetap abadi dalam ingatan.