TRIBUNJOGJA.COM - Mengenakan jersey biru PSIM Yogyakarta dipadu kain batik dan blangkon, Aktivis Jogja Corruption Watch (JCW), Baharuddin Kamba menggelar aksi tunggal di depan Kantor Balai Pemuda dan Olahraga (BPO) DIY, Selasa (9/6/26).
Pantauan di lokasi, aksi teatrikal diwarnai dengan penaburan bunga dan uang mainan pecahan Rp20 ribu - Rp100 ribu di atas rumput, serta pembentangan beberapa poster berbunyi kritikan “Kami Berisik Karena Terusik".
Aksi ini sengaja digelar untuk mendesak Pemerintah Provinsi (Pemprov) DIY agar segera memberikan kepastian hukum dan kejelasan nasib kelanjutan renovasi Stadion Mandala Krida.
Utamanya, terkait pengadaan fasilitas lampu stadion agar ke depannya bisa lolos verifikasi dan digunakan kembali sebagai homebase PSIM Yogyakarta di kancah Super League.
"Aksi ini sebagai bentuk dukungan kami terhadap para suporter, manajemen, maupun pemain, agar kasus yang sempat menjerat beberapa pejabat baik swasta maupun yang ada di pemerintah itu agar segera ada kejelasan," tandasnya.
Menurutnya, jika kepastian renovasi fisik pasca-kasus hukum ini terus terkatung-katung, maka pihak yang paling dirugikan adalah manajemen PSIM dan ribuan suporter setianya.
Kamba mengkhawatirkan konsekuensi logis jika klub berjuluk Laskar Mataram tersebut harus mengungsi dan menggunakan Stadion Sultan Agung (SSA) Bantul sebagai markas sementara.
"Yang kami khawatirkan adalah soal anggaran atau biaya operasional yang begitu tinggi. Sehingga penting bagi pemerintah provinsi maupun kota untuk segera memperjelas kelanjutan pembangunan Stadion Mandala Krida, termasuk juga lampu agar segera dibereskan," tegasnya.
"Saya khawatir nanti kalau misalnya fasilitas lampunya tidak ada, suporter-suporter itu kalau PSIM main, datang ke stadion, mereka harus bawa-bawa lilin, senter atau petromaks, begitu ya," sindir Kamba.
Tak hanya menuntut kelayakan infrastruktur, dalam aksi tunggal tersebut Kamba juga menyuarakan kegelisahannya terkait langkah represif oknum tertentu, yang belakangan kerap menghapus mural-mural bernada kritik dari para suporter di ruang publik.
Ia menilai, coretan dinding atau mural merupakan representasi dari kepedulian masyarakat, terutama elemen suporter, terhadap nasib klub kebanggaan mereka yang terhambat sengkarut korupsi masa lalu.
"Saya kira aksi mural itu kritik sosial yang harus dihargai dan dihormati. Tidak perlu dihapus, apalagi ditakuti. Karena suporter juga bagian dari masyarakat yang peduli terhadap PSIM. Tak boleh antikritik pada aspirasi yang muncul dari bawah," tegasnya. (aka)