Dolar AS Melemah, Harga Sembako di Tarakan Naik, Gula Pasir Rp 20 Ribu Per Kg di Pasar Tenguyun 
Junisah June 09, 2026 06:14 PM

TRIBUNKALTARA.COM, TARAKAN – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat yang belakangan menjadi sorotan ternyata turut dirasakan masyarakat di daerah. Adanya kenaikan biaya distribusi dan transportasi perlahan berdampak pada kenaikan harga sembako  di pasaran.

Di Pasar Tenguyun Tarakan, Kalimantan Utara harga sembako seperti gula pasir, cabai, beras hingga tepung terigu mengalami kenaikan harga dalam beberapa pekan terakhir.

Salah seorang pedagang sembako, Erni, mengungkapkan kenaikan harga sebenarnya sudah mulai terjadi sejak sebelum Ramadan dan terus berlanjut hingga setelah lebaran hingga saat ini masuk pekan kedua Juni 2026.

"Kalau gula pasir sudah jelas naik. Gula sekarang harga saya ambil hampir Rp19 ribu. Kalau kita mau jual sekarang ya Rp20 ribu," ujar Erni saat ditemui di Pasar Tenguyun.

Baca juga: Dolar AS Menguat, Harga Kerupuk di Tarakan Naik Rp 5.000, Agen Sebut Terjadi Sejak Maret 2026

Menurutnya, sebelum terjadi kenaikan, gula pasir umumnya dijual sekitar Rp18 ribu per kilogram untuk premium.

"Paling Rp18 ribu sebelumnya. Sebelum puasa banyak yang sudah mulai naik," katanya.

Erni menilai kondisi ekonomi dan kenaikan biaya distribusi turut memberi pengaruh terhadap harga barang yang masuk ke Tarakan. Selain gula, komoditas yang paling terasa mengalami lonjakan harga adalah cabai.

Ia menjelaskan, harga cabai lokal Tarakan atau yang biasa disebut lombok kampung saat ini jauh lebih mahal dibandingkan saat pasokan cabai dari luar daerah masih lancar.

"Kalau lombok kampung biasanya kalau naik sampai Rp120 ribu. Sebelumnya kalau ada cabai kapal masuk ya murah, paling Rp60 ribu sampai Rp70 ribu," ungkapnya.

Saat ini kondisi pasokan dari luar daerah belum stabil sehingga masyarakat lebih banyak bergantung pada cabai lokal.

Baca juga: Nilai Tukar Rupiah Terus Melemah Tembus Rp16.220 per Dolar AS, Bank Indonesia Siap-siap Intervensi

"Cabai sini, Tarakan sini. Mahal sekarang karena tidak ada lombok kapal masuk," katanya.

Bahkan dalam beberapa hari terakhir harga cabai kembali mengalami kenaikan.

"Sekarang Rp150 ribu. Sebelumnya Rp120 ribu. Habis Lebaran ini memang sudah naik," ucap Erni.

Tak hanya cabai dan gula, minyak goreng juga mengalami penyesuaian harga. Menurut Erni, kenaikan minyak goreng sebenarnya sudah berlangsung lebih dulu.

"Kalau minyak memang dari awal lalu kan memang naik," ujarnya.

Untuk minyak goreng kemasan dua liter, harga modal yang sebelumnya sekitar Rp45 ribu kini naik menjadi Rp48 ribu sehingga dijual kembali sekitar Rp50 ribu. Minyak goreng kemasan ukuran lebih besar yang kini dijual sekitar Rp120 ribu, naik dari kisaran Rp110 ribu sebelumnya untuk ukuran 5 liter.

"Sudah lama naiknya. Tidak turun-turun lagi. Sudah susah," katanya.

Ia menambahkan biaya angkut yang meningkat otomatis berpengaruh terhadap harga jual barang di pasar.

"Karena transportasi ya. Dari gudang ke pelabuhan pakai mobil, pakai biaya. Ongkos kirimnya yang bikin naik. Kapal juga kan naik juga, pakai solar kan," tuturnya.

Kemudian ia juga menyebutkan tepung terigu juga mengalami kenaikan harga.
Untuk tepung yang sebelumnya dijual sekitar Rp13 ribu per kilogram, kini sudah mencapai Rp15 ribu.

"Kalau tepung sekarang Rp15 ribu. Sebelumnya Rp13 ribu," kata Erni.

Erni pedagang sembako di Tarakan 02 09062026
ALAMI KENAIKAN - Erni, penjual sembako di Pasar Tenguyun Kota Tarakan saat diwawancarai media, Selasa (9/6/2026)

Berbeda dengan komoditas lain, harga mentega dan kecap masih relatif stabil.
Sementara harga telur justru mengalami penurunan dalam beberapa waktu terakhir.

"Yang turun telur," ujarnya.

Telur ukuran kecil saat ini dijual sekitar Rp50 ribu per rak, sedangkan telur ukuran besar mencapai Rp55 ribu hingga Rp65 ribu per rak tergantung ukuran. Selain itu, harga tomat juga mulai mengalami kenaikan.

"Tomat naik Rp20 ribu, biasanya Rp15 ribu. Baru-baru aja sih naiknya, selama kapal di-dock itu," katanya.

Erni menilai terbatasnya armada kapal yang beroperasi turut memengaruhi kelancaran pasokan bahan pangan ke Tarakan.

"Ini kan kapal masih di-dock satu. Masih belum datang," pungkasnya.

(*)

Penulis: Andi Pausiah

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.