Laporan wartawan wartakotalive.com, Yolanda Putri Dewanti
WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA -- Suara pisau yang memotong ayam masih terdengar dari deretan lapak di Blok III Pasar Senen, Jakarta Pusat, Selasa (9/6/2026). Namun, di balik aktivitas jual beli yang tetap berjalan, para pedagang menghadapi tekanan akibat kenaikan harga ayam yang terus terjadi dalam sebulan terakhir.
Lonjakan harga hingga mencapai Rp60.000 per kilogram membuat pembeli mengeluh, keuntungan pedagang menipis, bahkan sebagian harus memangkas gaji pegawai untuk mempertahankan usaha.
Tin (45) salah seorang pedagang ayam di Pasar Senen, mengaku kenaikan harga membuat usahanya ikut terdampak. Untuk menjaga keberlangsungan usaha, ia terpaksa mengurangi gaji enam orang pegawainya.
“Saya pengurangan (pegawai) enggak. Kita paling, mereka gajinya agak dikurangi,” kata Tin saat ditemui Wartakotalive.com di lapaknya, Selasa (9/6/2026).
Menurut Tin, langkah tersebut dilakukan agar para pegawainya tetap bisa bekerja dan memperoleh penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
“Iya lah, mereka itu kan butuh pemasukan, begitu saja disiasatin,” ujarnya.
Baca juga: Harga Beras Merangkak Naik, Pedagang Pasar Senen Kehilangan Pelanggan: Order Online Turun Drastis
Tin menjelaskan harga ayam yang dijualnya mengalami kenaikan dalam sebulan terakhir. Harga ayam yang sebelumnya berada di kisaran Rp35.000 per kilogram kini mencapai Rp40.000 per kilogram.
Sementara itu, harga ayam fillet mengalami kenaikan lebih tinggi, dari sebelumnya sekitar Rp40.000 per kilogram menjadi Rp50.000 hingga Rp60.000 per kilogram.
“Dari sebulan kemarin yang bikin lonjak-lonjak terus harganya,” kata Sur, salah satu pegawai Tin.
Kenaikan harga tersebut juga dirasakan langsung oleh para pembeli. Menurut Sur, tidak sedikit pelanggan yang mengeluhkan harga ayam yang semakin mahal saat berbelanja di pasar.
Ia menilai kenaikan harga terjadi secara bertahap dan mulai terasa sejak berjalannya program Makan Bergizi Gratis (MBG), ditambah dampak situasi geopolitik global serta pelemahan nilai tukar rupiah.
“Kerasa ya, semenjak ada program MBG gitu ya,” tuturnya.
Tidak hanya ayam, menurut Sur, berbagai kebutuhan pokok lain juga mengalami kenaikan harga dalam beberapa waktu terakhir.
“Semuanya, pokoknya naik semua. Enggak ada yang enggak naik. Sayuran naik, semua naik sayuran,” katanya.
Di sisi lain, kenaikan harga jual ayam tidak serta-merta meningkatkan keuntungan pedagang. Mereka justru mengaku margin keuntungan semakin tipis karena daya beli masyarakat melemah dan harga pasokan terus meningkat.
Sur membandingkan kondisi saat ini dengan periode ketika harga ayam masih berada di kisaran Rp25.000 hingga Rp35.000 per ekor.
Saat itu, menurutnya, penjualan relatif lebih lancar dan pembeli tidak terlalu terbebani oleh harga.
Kini, para pedagang berharap harga ayam dapat kembali stabil agar aktivitas perdagangan di pasar kembali ramai dan daya beli masyarakat dapat pulih.
Sementara itu, Aji salah satu pembeli, membeli satu kilogram dada ayam dan sepuluh pasang ati ampela dengan total belanja sekitar Rp75.000.
Menurut Aji, harga ayam memang mengalami fluktuasi dalam beberapa waktu terakhir. Namun secara umum tren harga masih lebih tinggi dibanding sebelumnya.
"Sebelumnya sempat Rp60.000 sampai Rp65.000 untuk belanja seperti ini. Sekarang agak turun sedikit," ujarnya.
Selain ayam, Aji menilai cabai menjadi komoditas yang paling memberatkan masyarakat saat ini.
"Cabai sih yang parah," katanya.
Ia menyebut harga cabai rawit kini mencapai Rp90.000 per kilogram, padahal sebelumnya masih berada di kisaran Rp60.000 hingga Rp70.000 per kilogram.
"Tadinya Rp60.000 sampai Rp70.000. Sekarang Rp90.000," ucap Aji.
Sementara itu, kenaikan harga minyak goreng menurutnya masih relatif terbatas dibandingkan lonjakan harga cabai.
"Kalau minyak paling naik seribu dua ribu. Nggak separah cabai," katanya.(m27)