WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA- Siswa kelas 8 SMP Labschool Cirendeu, Tangerang Selatan menampilkan pementasan drama sebagai bagian dari Penilaian Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila
(P5/P7) yang dikolaborasikan dengan pembelajaran Bahasa Indonesia,Selasa (9/6/2026).
Kegiatan ini dihadiri Wali Kota Tangerang Selatan Benyamin Davnie. Ia ikut berinteraksi bersama para siswa dan menekankan pentingnya tumbuh menjadi manusia yang bernilai.
Menurutnya, pementasan drama ini patut diapresiasi sebagai bentuk pembelajaran yang sangat baik, bukan hanya di bidang kesenian, namun juga literasi, kreativitas, kolaborasi, komunikasi, serta kecintaan pada karya sastra Indonesia.
"Luar biasa, penampilan seni ini bukan hanya sekedar ekspresi dari kemampuan mereka, murid belajar as usual, tapi menjadi seseorang yang mampu menggambarkan sebuah cerita dalam bentuk drama yang tidak sederhana. Saya yakin sutradaranya repot, penulis skenario-nya repot, pengatur lakunya, termasuk anak-anak pemainnya juga," ujarnya.
Menurutnya, peran sekolah memang bukan sekedar memberikan nilai dan meluluskan anak-anak menjadi alumni, tetapi juga membekali siswa dengan fondasi-fondasi yang kuat di luar keilmuan.
"Saya bergembira Labschool sudah selalu menjadi pionir dalam berbagai hal. Termasuk penyumbang rerata angka lama sekolah di Tangerang Selatan yang sekarang sudah mendekati 13 tahun, standar undang-undangnya 12 tahun, tapi kita sudah mendekati 12 tahun. Dan harapan lama sekolah kita di Tangsel adalah 14,6 tahun," ujarnya.
Baca juga: Revisi UU Kehutanan, Komisi IV DPR Dorong Aturan Tegas soal Reklamasi Tambang dan Transparansi Lahan
Kepala SMP Labschool Cirendeu Yudhi Rochman menambahkan, pementasan drama ini merupakan kegiatan rutin tahunan yang melalui proses alih wahana dari karya-karya pilihan menjadi pertunjukan panggung yang menarik dan bermakna.
"Setiap pementasan dikonsep, dirancang, dan dilaksanakan secara mandiri oleh masing-masing kelas yang terdiri atas 32 siswa. Seluruh siswa terlibat aktif dalam berbagai peran, mulai dari penulis naskah
adaptasi, sutradara, penata artistik, penata musik, penata kostum, tim publikasi, hingga para pemeran di atas panggung. Melalui proses yang berlangsung selama beberapa minggu, siswa belajar bekerja sama,
memecahkan masalah, mengelola waktu, dan bertanggung jawab terhadap tugas yang diemban," jelasnya.
Totalnya ada enam kelas yang menampilkan drama berbeda. Pementasan ini disaksikan oleh orang tua siswa, tamu undangan, serta masyarakat yang membeli tiket pertunjukan.
Kehadiran para penonton memberikan dukungan dan apresiasi yang luar biasa kepada para siswa yang telah bekerja keras mempersiapkan setiap detail pertunjukan. Antusiasme penonton terlihat
dari respons positif yang diberikan sepanjang acara berlangsung.
Mengusung tema alih wahana karya sastra berupa puisi dari sastrawan nusantara, setiap kelas menghadirkan interpretasi unik terhadap karya yang dipilih.
Kelas 8A menampilkan drama berjudul “Temporarium”, yang diadaptasi dari karya Ekstase Waktu karya Afrizal Malna. Kelas 8B membawakan “Arthanada”, hasil adaptasi dari Tangga ke Mahawu karya Acep Zamzam Noor. Kelas 8Cmenampilkan “Separuh Kebenaran”, yang terinspirasi dari karya Cut Nyak Dien karya Helvy Tiana Rosa.
Selanjutnya, kelas 8D menghadirkan “Suara Terakhir”, yang diadaptasi dari karya Para Pengungsi dari Tenda yang Terlalu Terang karya Afrizal Malna. Kelas 8E menampilkan “Anarkatra”, hasil alih wahana
dari karya Negeri yang Terbelah karya Helvy Tiana Rosa. Sementara itu, kelas 8F membawakan “Antara Titik dan Koma”, yang diadaptasi dari karya Pelabuhan Ampenan karya Acep Zamzam Noor.
Baca juga: Charles Honoris Dorong Program MBG Beralih ke Dapur Berbasis Sekolah
Pria yang biasa disapa Yuro ini mengatakan, melalui pementasan ini, siswa tidak hanya belajar memahami isi dan nilai-nilai yang terkandung dalam karya sastra.
"Melainkan juga mengembangkan kemampuan berpikir kritis, berempati, serta mengekspresikan gagasan secara kreatif. Kegiatan ini menjadi bukti bahwa pembelajaran dapat berlangsung secara menyenangkan, bermakna, dan memberikan pengalaman nyata yang membekas bagi seluruh peserta didik," jelasnya.
Pementasan drama Angkatan 5 ini, lanjut dia, menjadi salah satu bentuk perayaan hasil belajar yang menunjukkan semangat, dedikasi, dan kerja keras seluruh siswa. Diharapkan pengalaman berharga ini dapat menjadi bekal bagi mereka untuk terus berkarya, berkolaborasi, dan mengembangkan potensi diri di masa depan.