SURYA.CO.ID - Inilah Profil Muhammad Chatib Basri, Ekonom senior yang diisukan akan menggantikan Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa.
Isu ini sempat dibantah pihak Istana beberapa waktu lalu.
Namun kedatangan Muhammad Chatib Basri, menyambangi Istana Kepresidenan, Jakarta, pada Selasa (9/6/2026) sore ini, kembali memunculkan spekulasi publik.
Chatib tiba di kompleks Istana sekitar pukul 15.35 WIB melalui pintu pilar, Jalan Veteran. Ia tidak datang sendirian, melainkan tampak mendampingi Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan.
Saat turun dari kendaraannya, akademisi kawakan tersebut mengonfirmasi agenda pertemuannya dengan Kepala Negara.
“Ya (ketemu Presiden), tanya pak Luhut. Rame rame,” kata Chatib singkat kepada awak media di lokasi.
Meski demikian, ketika dicecar mengenai rumor namanya yang mencuat sebagai kandidat pengganti Menteri Keuangan saat ini, Purbaya Yudhi Sadewa, Chatib enggan memberikan jawaban definitif.
“Masa,” responsnya pendek sembari tersenyum.
Belakangan, spekulasi beredar bahwa kepulangan Chatib dari Amerika Serikat sengaja dilakukan untuk memenuhi panggilan masuk kabinet.
Namun, hal tersebut segera ia tepis. Chatib menegaskan keberadaannya di tanah air murni karena masa reses akademik di institusi tempatnya mengajar.
“Engga di Harvard itu libur sekarang,” pungkas staf pengajar Universitas Harvard tersebut.
Baca juga: Istana Tepis Rumor Reshuffle Kabinet Prabowo, Termasuk Isu Digantinya Menkeu Purbaya
Nama Muhammad Chatib Basri sebenarnya sudah sangat lekat dengan otoritas fiskal tertinggi Indonesia.
Lahir di Jakarta pada 22 Agustus 1965, ia merupakan putra dari Chairul Basri yang pernah menjabat sebagai Sekjen Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi pada era Soeharto.
Setelah menamatkan pendidikan di Kolese Kanisius, Chatib meraih gelar Sarjana Ekonomi dari Universitas Indonesia (UI) pada tahun 1992.
Chatib kemudian melanjutkan studi S2 (lulus 1996) dan S3 (lulus 2001) di Australian National University (ANU) dengan spesialisasi ekonomi pembangunan.
Karier birokrasinya melesat saat ditunjuk menjadi Wakil Ketua Komite Ekonomi Presiden (2010–2012) dan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) pada 2012.
Puncaknya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memercayainya mengemban tugas sebagai Menteri Keuangan periode 21 Mei 2013 hingga 20 Oktober 2014.
Di luar pemerintahan, Chatib diakui secara luas sebagai teknokrat murni yang independen tanpa afiliasi partai politik.
Keahliannya di bidang makroekonomi, ekonomi politik, dan perdagangan internasional membuatnya sering direkrut menjadi konsultan lembaga keuangan dunia, seperti Bank Dunia, Asian Development Bank (ADB), USAID, hingga OECD.
Hingga saat ini, selain aktif memberikan kuliah di Harvard, Chatib tetap tercatat sebagai staf pengajar dan peneliti senior di Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) FEB Universitas Indonesia.
Karakteristiknya yang tenang, berbasis data, dan analitis menjadikannya figur yang sangat dihormati di pasar keuangan domestik maupun global.
Munculnya nama Chatib ke permukaan didorong oleh fluktuasi nilai tukar rupiah dan tantangan ekonomi global yang sempat memicu rumor perombakan di pos Kementerian Keuangan.
Namun, kabar burung ini sebelumnya telah ditepis secara tegas oleh pejabat terkait.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan bahwa dirinya tetap berkomitmen penuh mengawal APBN dan fokus menyelesaikan program kerja yang ada.
“Saya maju. Mundur? Saya sukanya maju,” tegas Purbaya dalam konferensi pers APBN KiTa di Jakarta, Jumat (5/6/2026) lalu.
Senada dengan hal itu, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi juga menyatakan secara resmi bahwa hingga saat ini pemerintah tidak memiliki agenda ataupun rencana pencopotan di pos anggaran negara tersebut.
Walau posisi Menkeu dinyatakan aman oleh Istana, para pengamat menilai mencuatnya figur Chatib Basri merupakan hal yang wajar mengingat kapasitas yang dimilikinya.
Pengamat politik Rocky Gerung menyebutkan bahwa reputasi akademik internasional dan rekam jejak empiris Chatib menjadikannya alternatif yang sangat kredibel kapan pun dibutuhkan.
“Chatib Basri menurut saya mampu karena saya kenal cara berpikir dia,” ungkap Rocky Gerung.