Harga Cabai di Jakarta Melonjak 12 Persen pada Awal Juni 2026, Bawang Merah dan Ayam Ikut Naik
Feryanto Hadi June 09, 2026 06:35 PM

 


Laporan wartawan wartakotalive.com, Yolanda Putri Dewanti


WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA -- Sejumlah komoditas pangan di DKI Jakarta mengalami kenaikan harga pada awal Juni 2026.

Cabai menjadi komoditas dengan lonjakan harga tertinggi, disusul bawang merah dan daging ayam. Sementara itu, harga minyak goreng dan gula pasir tercatat mengalami penurunan tipis.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) Provinsi DKI Jakarta, Hasudungan A. Sidabalok, mengungkapkan perkembangan harga pangan pada awal Juni 2026 menunjukkan adanya kenaikan pada sejumlah komoditas utama yang dikonsumsi masyarakat.

Berdasarkan pemantauan harga pangan mingguan, terdapat lima komoditas yang mengalami kenaikan harga tertinggi, dengan kelompok cabai mendominasi daftar tersebut.

Cabai merah keriting menjadi komoditas dengan kenaikan tertinggi, yakni sebesar 11,96 persen atau naik Rp7.153 per kilogram, dari sebelumnya Rp59.801 menjadi Rp66.954 per kilogram.

Selanjutnya, cabai merah TW mengalami kenaikan 11,04 persen atau Rp7.406 per kilogram menjadi Rp74.502 per kilogram.

Harga cabai rawit merah juga meningkat sebesar 6,35 persen atau Rp5.460 per kilogram menjadi Rp91.420 per kilogram. Sementara cabai rawit hijau naik 3,92 persen atau Rp2.390 per kilogram menjadi Rp63.343 per kilogram.

Baca juga: Harga Daging Ayam Naik hingga Rp40 Ribu per Kg, Pedagang Pasar Senen Terpaksa Pangkas Gaji Pegawai 

"Adapun bawang merah tercatat naik 2,22 persen atau Rp1.329 per kilogram menjadi Rp61.127 per kilogram," ucap Hasudungan saat dikonfirmasi Wartakotalive.com, Selasa (9/6/2026).

Selain itu, harga daging ayam juga mengalami kenaikan meski relatif terbatas, yakni sebesar Rp276 per kilogram menjadi Rp42.885 per kilogram.

Untuk komoditas beras, harga Beras IR I (IR 64) tercatat berada pada level Rp15.540 per kilogram.

Hasudungan mengatakan, pihaknya terus memantau perkembangan harga pangan di pasar-pasar Jakarta untuk memastikan ketersediaan pasokan dan menjaga stabilitas harga di tengah meningkatnya kebutuhan masyarakat.

Di sisi lain, terdapat dua komoditas pangan strategis yang mengalami penurunan harga dibandingkan pekan sebelumnya.

Harga minyak goreng turun 0,22 persen atau Rp40 per liter menjadi Rp22.168 per liter. Sedangkan harga gula pasir turun 0,21 persen atau Rp40 per kilogram menjadi Rp18.609 per kilogram.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terus melakukan pengawasan terhadap distribusi dan ketersediaan pangan guna menjaga pasokan tetap aman serta mengantisipasi potensi gejolak harga menjelang periode peningkatan konsumsi masyarakat.


Pedagang Mengeluh


Salah seorang pedagang ayam potong di Pasar Senen, Jakarta Pusat, Suparna (44), mengatakan harga ayam mengalami kenaikan secara bertahap sejak akhir tahun 2025 dan terus berlanjut hingga saat ini.

Menurut dia, lonjakan harga semakin terasa dalam satu bulan terakhir.

"Sebulan kemarin yang bikin lonjak-lonjak terus harganya," kata Suparna saat ditemui di kiosnya.

Ia menjelaskan, harga ayam yang sebelumnya berada di kisaran Rp35.000 per kilogram kini naik menjadi Rp40.000 per kilogram. Bahkan untuk ukuran tertentu bisa mencapai Rp45.000 hingga Rp50.000 per ekor.

"Ya naik terus harganya, kalau harga tergantung ukuran dan per kilonya," ujarnya.

Suparna mengaku kenaikan harga tersebut sangat berpengaruh terhadap usahanya. Meski masih ada pembeli yang datang, keluhan dari pelanggan semakin sering terdengar.

"Kerasa banget. Banyak yang ngeluh, bilang kok sekarang mahal banget," katanya.

Namun demikian, ia tidak memiliki pilihan selain menyesuaikan harga jual dengan harga yang diterima dari pemasok.

"Kita kasihan sama pembeli. Tapi dari sananya kita sudah beli mahal, masa kita jual murah. Nggak mungkin juga," ucapnya.

Menurut Suparna, keuntungan yang diperoleh pedagang saat ini semakin tipis karena tingginya harga pasokan.

"Untungnya tipis sekarang," katanya.

Selain ayam utuh, kenaikan harga juga terjadi pada produk ayam fillet. Jika sebelumnya dijual sekitar Rp40.000 hingga Rp45.000 per kilogram, kini harganya mencapai Rp50.000 hingga Rp60.000 per kilogram.

Ia menilai berbagai faktor memengaruhi kenaikan harga, mulai dari pelemahan rupiah terhadap dolar AS hingga meningkatnya biaya distribusi dan kebutuhan operasional.

"Semuanya naik. Sayuran naik, plastik naik, pokoknya hampir semua naik," tuturnya.

Meski pemerintah disebut rutin melakukan pemantauan ke pasar, Suparna mengaku belum merasakan dampak langsung yang mampu menekan harga di tingkat pedagang.

"Ada pemantauan, ada. Tapi belum terasa efeknya buat kami," katanya.

Ia berharap pemerintah dapat mengambil langkah konkret agar harga ayam kembali stabil sehingga pedagang maupun masyarakat tidak semakin terbebani.

"Harapannya ya supaya harga ayam murah lagi. Biar untung nggak tipis dan pembeli juga nggak keberatan," ujarnya.

Keluhan serupa disampaikan pedagang lainnya, Tin (45). Ia mengaku kenaikan harga ayam dalam beberapa waktu terakhir membuat aktivitas jual beli menjadi lebih sulit.

"Pusing, pusing banget. Harganya naik terus," kata Tin.

Menurutnya, harga ayam yang sebelumnya berada di angka Rp35.000 per kilogram kini sudah mencapai Rp40.000 hingga Rp45.000 per kilogram.

"Biasanya tiga lima, sekarang sudah empat puluh. Tadi saja ada yang empat lima saya jual," ujarnya.

Tin mengatakan kenaikan harga mulai terasa sekitar satu minggu terakhir. Dampaknya langsung dirasakan dari berkurangnya minat pembeli.

"Wah, pembeli banyak komplain. Mereka tanya kenapa mahal banget. Saya bilang memang dari pemasoknya sudah naik, saya cuma mengikuti," katanya.

Ia berharap pemerintah dapat menjaga stabilitas pasokan dan harga ayam di pasaran agar kondisi usaha pedagang kecil tidak semakin tertekan.

"Harapannya harga bisa turun lagi seperti dulu. Kasihan pembeli, kasihan pedagang juga kalau pasar jadi sepi karena harga kemahalan," ucap Tin.(m27)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.