TRIBUNNEWS.COM - Pemerintah Amerika Serikat (AS) menegaskan akan tetap melanjutkan upaya mencapai kesepakatan terkait program nuklir Iran.
Hal ini terlepas dari sikap Israel terhadap langkah diplomatik tersebut.
Wakil Presiden AS JD Vance menyampaikan hal itu dalam wawancara dengan Fox News pada Senin (8/6/2026) waktu setempat.
Menurutnya, perkembangan konflik dalam beberapa bulan terakhir justru membuka peluang bagi Washington untuk mendorong penyelesaian jangka panjang terhadap isu nuklir Iran.
“Presiden percaya, dan saya pikir dia benar, bahwa kita dapat mencapai penyelesaian jangka panjang untuk kesepakatan nuklir Iran,” kata Vance, mengutip Anadolu Agency, Selasa (9/6/2026).
Ia menambahkan bahwa langkah tersebut diambil berdasarkan kepentingan nasional AS, terlepas dari apakah Israel menyetujui kebijakan tersebut atau tidak.
Baca juga: Israel Bombardir Beirut, Iran Balas Rudal ke Israel Utara
Pernyataan Vance menjadi sinyal terbaru adanya potensi ketegangan hubungan antara AS dan Israel.
Sebelumnya, Presiden Donald Trump dikabarkan meminta Israel agar tidak membalas serangan rudal Iran pada Minggu lalu, namun seruan itu diabaikan.
Situasi kawasan semakin memanas setelah Israel melancarkan serangan udara ke Beirut, Lebanon, meski gencatan senjata masih berlangsung.
Iran kemudian membalas dengan meluncurkan rudal ke wilayah utara Israel.
Israel selanjutnya kembali menggempur Iran melalui beberapa gelombang serangan udara, sementara Teheran merespons dengan serangan rudal tambahan.
Militer Iran pada Senin pagi menyatakan menghentikan sementara serangan terhadap Israel, namun memperingatkan akan memberikan respons “menghancurkan” apabila Israel terus menyerang Lebanon.
Media Israel juga melaporkan bahwa pemerintah Israel disebut telah menyetujui penghentian serangan udara terhadap Iran, tetapi tetap melanjutkan operasi militer di Lebanon selatan.
Baca juga: China Kritik Aksi Militer AS-Israel-Iran: Perang Tak Akan Pernah Jadi Solusi
Kawasan Timur Tengah sendiri terus berada dalam ketegangan sejak AS dan Israel melancarkan serangan udara ke Iran pada akhir Februari lalu.
Serangan tersebut memicu aksi balasan Iran terhadap Israel dan sejumlah negara regional yang menampung aset militer AS.
Meski sempat tercapai gencatan senjata sementara pada 8 April, negosiasi damai kembali mandek akibat perbedaan pandangan mengenai pelaksanaan kesepakatan dan dinamika konflik regional.
Iran menegaskan bahwa pembahasan terkait program nuklirnya hanya bisa dilakukan setelah perang benar-benar berakhir sepenuhnya.
(*)