– Kondisi geopolitik dan ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali membara setelah militer Iran meluncurkan serangan rudal balistik secara langsung ke wilayah Israel.
Aksi penembakan rudal oleh Teheran tersebut dilakukan sebagai bentuk respons maklum atas serangan udara yang dilancarkan militer Israel (IDF) di kawasan Dahieh, Beirut Selatan, Lebanon.
Pihak IDF menyatakan bahwa operasi udara ke wilayah Dahieh itu sengaja dilakukan untuk menargetkan titik infrastruktur serta posisi yang diklaim terkait erat dengan kelompok Hizbullah.
Kendati demikian, gempuran udara tersebut menyulut reaksi keras dari pihak Iran yang menilai bahwa tindakan sepihak Israel telah melewati batas dan mengancam stabilitas kawasan regional.
Tidak berselang lama setelah insiden di Beirut, Iran langsung melepaskan rentetan rudal balistik, hingga memicu bunyi sirene peringatan dini di berbagai wilayah utara Israel serta mengaktifkan sistem pertahanan udara.
Pihak militer Israel mengklaim sebagian besar rudal kiriman Teheran tersebut berhasil dicegat oleh sistem pertahanan mereka sehingga tidak menimbulkan kerusakan dalam skala besar.
Namun, aksi saling serang ini tercatat menjadi konfrontasi militer secara langsung yang pertama kali terjadi antara Iran dan Israel sejak kesepakatan gencatan senjata tercapai pada April 2026 lalu.
Korps Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC menegaskan, serangan rudal balistik tersebut menjadi peringatan keras agar Israel segera menghentikan seluruh operasi militernya di wilayah Lebanon.
Menanggapi serangan rudal Iran, pihak Israel langsung melancarkan serangan balasan seketika ke sejumlah target militer di wilayah Iran bagian barat dan tengah, termasuk kota Teheran dan Isfahan.
Eskalasi pertempuran yang dinamis ini langsung memicu kekhawatiran dunia internasional terkait potensi meluasnya perang regional, bahkan sempat memicu kenaikan harga minyak dunia di pasar global.