Gubernur BI Yakin Rupiah Bangkit Tahun 2027 , Ungkap 5 Faktor Pendorong: Fundamental Ekonomi Baik
Listusista Anggeng Rasmi June 09, 2026 06:44 PM

TRIBUNNEWSMAKER.COM - Di tengah tekanan hebat yang masih membayangi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo justru menyampaikan optimisme besar untuk masa depan perekonomian nasional.

Saat rupiah masih berada di kisaran Rp18.000 per dolar AS, Perry meyakini kondisi tersebut tidak akan berlangsung selamanya.

Menurutnya, berbagai indikator ekonomi menunjukkan peluang penguatan rupiah pada tahun 2027 seiring membaiknya kondisi ekonomi global dan domestik.

Keyakinan tersebut juga didukung oleh proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang dinilai akan lebih tinggi dibandingkan capaian saat ini.

Pada triwulan pertama 2026, ekonomi Indonesia tercatat tumbuh 5,61 persen, sebuah angka yang menjadi modal penting untuk menghadapi tantangan global.

“Ini kisaran kami, 5,1 sampai 5,9 persen (tahun 2027). Tapi kami yakin akan lebih ke batas atas,” kata Perry dalam Rapat Kerja Penyampaian Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM & PPKF) Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) dan Rencana Kerja Pemerintah (RKP) 2027 di Gedung DPR RI, Jakarta, Selasa, (9/6/2026).

Perry memperkirakan kurs rupiah pada tahun 2027 akan bergerak di rentang Rp16.800 hingga Rp17.500 per dolar AS, jauh lebih kuat dibanding posisi saat ini.

Ia menjelaskan bahwa ada lima faktor utama yang diyakini mampu menjadi mesin penggerak penguatan rupiah dalam beberapa tahun ke depan.

Faktor pertama adalah membaiknya ekonomi dunia yang diprediksi tumbuh hingga 3,1 persen pada 2027.

Baca juga: Rupiah Melemah, Purbaya Sebut Pedagang Tahu Tempe Tertekan, Tapi Daya Beli Tak Turun: Kita Pelajari

RUPIAH DIPREDIKSI BANGKIT - Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyampaikan paparannya dalam Rapat Kerja Penyampaian Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM & PPKF) Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) dan Rencana Kerja Pemerintah (RKP) 2027 di Gedung DPR RI, Jakarta, Selasa, (9/6/2026). Perry memprediksi rupiah akan bangkit tahun 2027.
RUPIAH DIPREDIKSI BANGKIT - Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyampaikan paparannya dalam Rapat Kerja Penyampaian Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM & PPKF) Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) dan Rencana Kerja Pemerintah (RKP) 2027 di Gedung DPR RI, Jakarta, Selasa, (9/6/2026). Perry memprediksi rupiah akan bangkit tahun 2027. ((Ist)/Tribunnews.com/DPR RI)

Perbaikan tersebut diharapkan mampu mendorong aliran modal asing kembali masuk ke negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.

“Yang kedua, yang selalu disampaikan Pak Menteri Keuangan dan saya mengulang-ulangi, fundamental ekonomi yang baik akan mendukung penguatan nilai tukar rupiah. Pertumbuhan ekonomi tinggi, inflasinya rendah, defisit transaksi berjalan juga rendah, imbal hasilnya menarik. Terus cadangan devisa juga lebih dari cukup,” ujarnya menjelaskan.

Selain itu, Perry menilai kebijakan ekspor satu pintu yang digagas Presiden Prabowo Subianto melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia akan memperkuat devisa negara dan meningkatkan daya tahan rupiah.

Bank Indonesia juga berkomitmen menjaga stabilitas nilai tukar melalui berbagai instrumen kebijakan, termasuk intervensi di pasar keuangan jika diperlukan.

“Yang kelima, koordinasi erat kebijakan fiskal moneter, kebijakan fiskal pemerintah, dan kebijakan moneter Bank Indonesia. Termasuk dari waktu ke waktu, sekarang kami berdua difokuskan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah,” ucap dia.

“Kemarin kita sudah umumkan bersama bagaimana fiskal moneter sama-sama menstabilkan nilai tukar rupiah, yaitu meningkatkan daya tarik imbal hasil investasi asing dan menjaga kecukupan likuiditas.”

Dengan berbagai faktor tersebut, Perry kembali menegaskan keyakinannya bahwa rupiah memiliki peluang besar untuk bangkit dan kembali menguat pada 2027, meskipun saat ini berdasarkan data BI per 9 Juni 2026 nilai tukar rupiah masih berada di level Rp18.261 untuk kurs jual dan Rp18.080 untuk kurs beli terhadap dolar AS.

RUPIAH MELEMAH - Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo (KIRI dan KANAN). ((Ist)/Kompas.com/Kompas.com)

Pengamat: Rupiah makin tertekan

Sementara itu, pengamat ekonomi Ibrahim Assuaibi memprediksi rupiah justru akan makin tertekan karena belum adanya kebijakan yang membuat investor percaya terhadap ekonomi Indonesia.

Menurut Ibrahim, investor atau pasar saat ini gelisah dengan agenda pengeluaran besar-besaran Presiden Prabowo Subianto terhadap Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih, yang membuat defisit neraca transaksi berjalan melebar. 

Baca juga: Rupiah Kian Tersungkur! Dollar AS Sentuh Rp 18.200, Apa yang Akan Terjadi Selanjutnya?

"Pelebaran defisit tersebut, terjadi seiring menyusutnya surplus perdagangan Indonesia," ujar Ibrahim  yang menjadi Direktur PT Traze Andalan Futures, dikutip Selasa, (9/6/2026). 

Pada kuartal I-2026, transaksi berjalan Indonesia sudah mencatat defisit sekitar 4 miliar dolar AS. Ke depan, tekanan diperkirakan semakin besar apabila harga minyak dunia tetap tinggi dan nilai tukar rupiah terus melemah

Menurutnya, pelemahan rupiah membuat pemerintah harus menghitung ulang subsidi bahan bakar minyak (BBM) yang begitu besar akibat lonjakan harga minyak mentah.

"Harga minyak yang tinggi membuat kebutuhan dolar AS tinggi dan membuat utang pemerintah semakin membengkak," papar Ibrahim.

Mengenai faktor eksternal yang menekan kurs rupiah, Ibrahim menyebut masih datang dari tensi geopolitik Timur Tengah yang kembali memanas usai serangan Israel ke Lebanon dan Iran. 

"Suara ledakan terdengar di Teheran, Tabriz, dan Isfahan, menurut laporan media lokal pada Senin pagi. Ini mengikis harapan akan segera berakhirnya perang yang lebih luas dan dimulainya kembali aliran minyak mentah melalui Selat Hormuz," paparnya.

(Tribunnewsmaker.com/ Tribunnews/Febri/Seno Tri Sulistiyono)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.