Dampak Rupiah Melemah, Inflasi di Lumajang Capai 0,77 Persen pada Awal Juni 2026
Luky Setiyawan June 09, 2026 06:57 PM

TRIBUNJATIMTIMUR.COM, Lumajang - Inflasi di Kabupaten Lumajang Jawa Timur di awal Juni 2026 mencapai 0,77 imbas pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Hal tersebut berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS) Lumajang indeks perkembangan harga pada minggu pertama Juni 2026.

Kepala Kantor BPS Lumajang Mochamad Sonhaji mengatakan, dari survei harga 20 komoditas, tiga di antaranya, bawang merah, daging ayam ras dan cabai merah menjadi penyumbang inflasi diawal Juni tahun ini.

"Sebagian besar ini karena faktor suplai and diman. Biasalah permintaanya banyak, dan itu musiman. Bisanya itu tahun baru, ramadan, idul fitri termasuk Idul Adha. Kalau Idul Adha paling banyak itu daging," ujarnya, Selasa (9/6/2026).

Baca juga: Lepas 1.161 Petugas Sensus Ekonomi di Lumajang, Bupati Indah: Harus Pandai Rayu Responden

Meski inflasi kali ini cenderung kecil, menurutnya hal tersebut tetap jadi peringatan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lumajang agar tetap menjaga daya beli pemerintah ditengah rupiah terus melemah terhadap dolar AS.

"Mana yang terlalu tinggi inflasinya, harus direm. Seperti awal 2025, inflasi dipicu beras, jadi harus diturunkan. Itu kewenangan pemerintah dari tim pengendali inflasi daerah," beber Sonhaji.

Sonhaji menilai jika langkah tersebut dilakukan, meski satu dolar tukar Amerika mencapai rupiah Rp 18.000, hal itu tidak akan mempengaruhi daya beli masyarakat di Kota Pisang.

"Kalau di daerah ini bisa jaga harga harganya, maka tidak berpengaruh juga. Karena masyarakat masih bisa daya beli untuk kebutuhannya, seperti sembako dan semacamnya," tambahnya.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian dan Perdagangan (Diskopindag) Kabupaten Lumajang, Muhammad Ridha, mengklaim harga bahan pokok masih stabil ditengah menguatnya dolar terhadap nilai tukar rupiah.

"Sampai saat ini harga bahan pokok masih dalam kategori normal dan stoknya juga mencukupi. Belum ada kondisi yang membuat kami harus bereaksi secara khusus,” tanggapnya.

Lebih lanjut, Rida mengakui sebagian pedagang pasar mulai menaikan harga sebagai bentuk antisipasi terhadap kemungkinan kenaikan biaya produksi di masa mendatang. Tapi kondisi tersebut, kata dia, belum mengganggu rantai distribusi maupun ketersediaan barang.

“Sebagian pedagang memang sudah mulai menaikkan harga karena ikut bereaksi terhadap isu kenaikan biaya. Padahal stok tidak ada masalah dan belum tentu terkait impor,” katanya.

Oleh karena itu, Rida mengaku terus berkoordinasi dengan para distributor bahan pokok untuk mengontrol pasokan, guna mencegah terjadinya kelangkaan yang berpotensi memicu lonjakan harga.

“Kami terus mengontrol distribusi dan ketersediaan stok. Jangan sampai ada barang yang sengaja ditahan karena itu bisa memicu kenaikan harga. Sejauh ini stok distributor masih cukup,” paparnya.

Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika mengakibatkan bahan impor yang masuk di Lumajang kian mahal. Namun untuk produk lokal justru tidak berdampak.

“Selama barang tersebut tidak tergantung pada bahan impor, kecil kemungkinan harga jualnya naik. Yang sering terjadi justru reaksi pasar atau spekulasi dari pelaku usaha yang mengantisipasi kemungkinan kenaikan harga,” pungkasnya.

Baca juga: Dana Operasional Telat Cair, 19 SPPG di Lumajang Berhenti Salurkan MBG Sementara Waktu

(Imam Nawawi/TribunJatimTimur.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.