Harga Oli dan Suku Cadang Naik, Bengkel di Padang Tetap Ramai Pelanggan
Rahmadi June 09, 2026 07:02 PM

TRIBUNPADANG.COM, PADANG – Harga oli dan suku cadang kendaraan bermotor di Kota Padang mengalami kenaikan dalam beberapa pekan terakhir.

Meski demikian, kondisi tersebut belum berdampak pada jumlah pelanggan yang datang ke bengkel untuk melakukan servis maupun penggantian oli.

Sejumlah bengkel di Kota Padang masih mencatat aktivitas yang normal setiap harinya. Pemilik kendaraan tetap melakukan perawatan rutin karena kendaraan bermotor menjadi sarana utama untuk bekerja dan menjalankan aktivitas sehari-hari.

Pemilik bengkel di kawasan Anduring, Kecamatan Kuranji, Didid, mengatakan kenaikan harga oli dan beberapa komponen kendaraan memang dikeluhkan pelanggan.

Namun, hingga saat ini jumlah kendaraan yang masuk ke bengkelnya tidak mengalami penurunan. Didid, menyebut bahwa pergerakan konsumen di tempat usahanya masih berada pada koridor yang stabil. 

Baca juga: PT Semen Padang Kenalkan Sepablock untuk Huntap BNPB di Padang Panjang

Kebutuhan mutlak akan transportasi membuat masyarakat tetap melakukan transaksi meski dengan porsi anggaran yang dipaksakan.

"Meski konsumen mengeluh, alhamdulillah jumlah yang datang ganti oli atau servis harian tidak berkurang. Setiap hari volume kendaraan yang masuk masih relatif normal seperti biasa," kata Didid ditemui di lokasi, Selasa (9/6/2026).

Fluktuasi ekonomi makro yang berdampak pada pembengkakan modal belanja barang operasional pada akhirnya harus ditanggung bersama secara proporsional antara pemilik bengkel dan konsumen. 

Fleksibilitas di tingkat hilir ini menjadi katup penyelamat agar aktivitas ekonomi warga tidak lumpuh total akibat kenaikan biaya logistik pribadi.

Baca juga: Prakiraan Cuaca Sumbar 10 Juni 2026: Waspada Hujan Lebat di Mentawai dan Dharmasraya

Alokasikan Dana Ekstra

Di tengah himpitan ekonomi dan penurunan daya beli, masyarakat terpaksa tetap mengalokasikan dana ekstra demi menjaga performa kendaraan yang menjadi urat nadi mobilitas harian mereka.

Fenomena ini memotret tingkat ketergantungan yang tinggi masyarakat urban terhadap transportasi pribadi. 

Bagi sebagian besar warga, melakukan perawatan berkala bukan lagi sekadar pilihan, melainkan sebuah keharusan fungsional yang tidak dapat ditunda meskipun harus mengorbankan pos anggaran rumah tangga lainnya.

Sektor transportasi publik yang belum sepenuhnya menjangkau seluruh lini aktivitas membuat sepeda motor menjadi tumpuan utama warga Kota Padang untuk bekerja dan berniaga. 

Oleh karena itu, ketika biaya komponen otomotif merangkak naik, dampak langsungnya segera dirasakan oleh kantong konsumen akhir.

Kondisi tersebut setidaknya diakui oleh para pelanggan yang mendatangi bengkel umum di Kawasan Anduriang, Kecamatan Kuranji, Kota Padang. 

Baca juga: Dua Rumah Terbakar di Batu Gadang, PT Semen Padang Salurkan Material Bangunan dan Uang Rp1,3 Juta

Kenaikan harga produk pelumas yang terjadi secara merata dalam beberapa pekan terakhir mulai memicu keluhan dari para pemilik kendaraan.

Salah seorang warga setempat bernama Ilham yang tengah mengantre untuk menyervis sepeda motornya mengungkapkan rasa beratnya terhadap situasi saat ini. 

Meski demikian, ia mengaku tidak memiliki pilihan lain selain merogoh kocek lebih dalam agar kendaraannya tetap prima.

"Tentu saja kami sebagai masyarakat kecil merasa terbebani dengan kenaikan harga-harga ini. Pengeluaran bulanan jelas bertambah, sementara pendapatan masih begitu-begitu saja," ujarnya saat ditemui di lokasi, Selasa (9/6/2026).

Bagi konsumen, menunda penggantian oli atau perbaikan komponen yang aus dinilai akan memicu dampak buruk yang lebih besar di kemudian hari. 

Ongkos perbaikan yang membengkak akibat kerusakan mesin secara total menjadi alasan utama mereka tetap memprioritaskan perawatan berkala.

"Kalau tidak diperbaiki sekarang, nanti rusaknya malah merembet ke mana-mana. Biayanya pasti akan jauh lebih mahal lagi kalau mesinnya sampai turun. Jadi, mau bagaimana lagi, terpaksa tetap diservis," tambahnya dengan nada pasrah.

Baca juga: Dua Rumah Terbakar di Batu Gadang, PT Semen Padang Salurkan Material Bangunan dan Uang Rp1,3 Juta

Pengorbanan Anggaran Rumah Tangga

Suara serupa juga datang dari Hendri Bahar seorang pelanggan lain yang bekerja sebagai pengemudi ojek online. Ia menyebutkan bahwa kenaikan harga oli dari rata-rata Rp 50.000 menjadi Rp 65.000 hingga Rp 70.000 per botol sangat memukul para pekerja lapangan.

Baginya, sepeda motor adalah modal utama untuk mencari nafkah sehari-hari di jalanan kota. Fluktuasi harga suku cadang eceran akibat melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ini langsung memangkas margin pendapatan bersih yang bisa ia bawa pulang ke rumah.

"Untuk pekerja jalanan seperti saya, motor ini harus sehat setiap hari. Kalau oli naik sampai Rp 15.000 per botol, artinya ada pos belanja dapur keluarga yang harus dikurangi untuk menutupi biaya perawatan motor ini," katanya.

Ia menambahkan, fleksibilitas tarif jasa servis yang ditawarkan pihak bengkel sedikit banyak membantu meringankan beban psikologis konsumen. 

Penurunan tarif jasa dari Rp 55.000 menjadi Rp 50.000 melalui proses negosiasi dinilai cukup berarti dalam situasi sulit seperti saat ini.

"Untungnya pemilik bengkel di sini mau mengerti dan tidak kaku soal harga jasa servis. Setidaknya potongan lima ribu rupiah itu bisa dialihkan untuk sedikit menutupi kenaikan harga oli yang mahal," tuturnya. (*)

 



 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.