Upaya Redam Teror Api di Rumah Warga Seyegan, Tim UGM Suntikkan Air Kapur untuk Matikan Bakteri
Muhammad Fatoni June 09, 2026 07:14 PM

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Tim ahli dari Departemen Teknik Geologi dan Lingkungan (DTGL) UGM mulai menerapkan metode penjenuhan basa, atau proses penyuntikan larutan air kapur ke dalam tanah.

Upaya itu dilakukan untuk meredam fenomena kebakaran berulang di rumah Agusyani Mujiyanto, Dusun Kasuran, Margomulyo, Seyegan, Kabupaten Sleman.

Cairan air kapur disuntikkan ke dalam tanah untuk mematikan bakteri yang diduga menjadi penyebab penghasil gas pemicu api.

Dosen DTGL UGM, Dr Sarju Winardi, mengatakan upaya ini merupakan tindak lanjut dari hasil pertemuan para ahli di kantor Kapanewon Seyegan pada Kamis (4/6/2026) lalu.

Skema ini memiliki dua tujuan utama yakni untuk merilis gas yang diduga masih terperangkap di dalam pasir di bawah rumah Agusyani.

Sebab dalam prosesnya, peneliti harus membuat lubang sedalam lebih-kurang satu meter di beberapa titik yang ditengarai memiliki konsentrasi gas tinggi.

Lubang lubang tersebut kemudian diberi larutan air kapur. 

"Jadi air basa ini membuat bakteri Clostridium tidak bisa berkembang dan mati, sehingga tidak ada bakteri lain yang asumsi dugaan kami menghasilkan gas H-2. Makanya tujuan kami ini mematikan bakteri ya, sehingga nanti kalau bakterinya sudah bisa ditekan, enggak ada yang tumbuh lagi, ini harapannya tidak ada gas yang diproduksi lagi," kata Sarju, Selasa (9/6/2026). 

Ia memaparkan, timnya telah membuat sejumlah lubang di didalam dan belakang rumah Agusyani sejak pekan lalu. 

Pada awal pembukaan lubang pertama pada Kamis siang hingga Jumat (5/6/2026), intensitas kemunculan api sempat melonjak.

Hal itu diduga akibat terpicu oleh terbukanya rongga udara.

Tren Melandai

Meski demikian, tren kebakaran dilaporkan mulai melandai memasuki akhir pekan ini.

Tercatat pada hari Sabtu (6/6/2026), Minggu (7/6/2026) dan Senin (8/6/2026) intensitas kemunculan api relatif lebih sedikit dibanding sebelumnya.

Jika hari sebelumnya, kejadian kebakaran bisa mencapai 8 kali sehari, namun mulai akhir pekan lalu berkisar antara 3-5 kali kemunculan api. 

"Ya mudah-mudahan itu respons dari usaha kami. Semoga trennya semakin berkurang," ungkap dia. 

Baca juga: Teror Api Misterius di Seyegan Belum Berhenti, Handuk di Rumah Tetangga Agusyani Tiba-tiba Terbakar

Putus Rantai Produksi Gas

Penyuntikan larutan basa (air kapur) ini, secara ilmiah ditujukan untuk memutus rantai produksi gas di bawah lantai rumah Agusyani. 

Larutan air kapur murni tanpa ada campuran tersebut sengaja digunakan untuk mengubah tingkat keasaman tanah menjadi basa yang membuat bakteri Clostridium tidak bisa berkembang dan mati.

Sehingga tidak ada bakteri lain yang diasumsikan menghasilkan gas hidrogen (H2) yang diduga menjadi penyebab terjadinya kebakaran. 

Tim ahli memanfaatkan empat lubang bor sedalam satu meter, untuk memasukkan larutan air kapur ke bawah rumah Agusyani.

Tiga titik pengeboran berada di dalam rumah, dan satu titik terletak di bagian belakang.

Selain lubang bor, cairan juga dimasukkan melalui celah lantai keramik yang sengaja dibuka karena adanya rembesan.

Tak hanya di area bangunan utama, tim UGM juga menebar bubuk kapur di area pembuangan limbah pemotongan ayam untuk menekan aktivitas bakteri di sana.

Supaya metode ini efektif, pemilik rumah diminta untuk menyuntikkan air kapur tersebut secara simultan setiap 24 jam sekali.

Takarannya tidak menuntut kepresisian tinggi, yakni cukup melarutkan kapur dengan air.

Proses pengguyuran ini ditargetkan berjalan rutin setidaknya selama satu minggu ke depan, atau hingga lapisan pasir dan tanah di bawah rumah benar-benar jenuh oleh larutan basa.

Melalui cara ini produksi gas diharapkan berhenti dan letupan api mereda. 

"Kami berharap setiap hari ya (dimasukkan larutan kapur), setelah 24 jam ini dilakukan terus, sampai mudah-mudahan air basa itu jenuh di pasir maupun di tanah dekat daerah hasil limbah," ujar Sarju. 

Pantau Situasi

Selama proses ini berlangsung, tim UGM akan terus memantau situasi perkembangan kebakaran berulang ini secara aktif melalui laporan berkala dari keluarga pemilik rumah kepada koordinator tim peneliti dari Tim Pusat Kajian Pelambatan Entropi (PKPE) Fakultas Teknik UGM, Prof. Alva Edy Tontowi.

Dalam beberapa hari ke depan, tim ahli dijadwalkan kembali ke lokasi untuk mengecek apakah penyebaran cairan basa di bawah tanah sudah merata.

Jika indikator kejenuhan belum tercapai, tim tidak menutup kemungkinan akan menambah titik lubang pengeboran baru demi memperluas jangkauan air kapur ini.

Putri Agusyani, Mutfiana menyambut baik upaya untuk meredam kebakaran berulang, yang dilakukan tim peneliti dari UGM.

Sesuai arahan dari peneliti, larutan air kapur secara berkala, 24 jam sekali harus rutin disuntikkan kembali ke lubang yang telah dibuat.

Fia mengaku keluarganya akan mengupayakan penyuntikan rutin itu. 

"Ya kan aku bilang dari awal, apa yang kami bisa upayakan, akan kami lakukan, selagi kami mampu," kata Fia. (*) 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.