Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung – Pemerintah Provinsi Lampung mulai menyiapkan langkah strategis mendukung pengembangan industri bioetanol nasional dengan menyiapkan lahan untuk budidaya sorgum sebagai bahan baku alternatif selain tebu, jagung, dan singkong.
Baca Juga: Lampung Jadi Daerah Pertama Pengembangan Bioetanol, Serap Ribuan Hektare Lahan Sorgum
Kepastian setelah Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/BKPM, Todotua Pasaribu, meninjau lokasi rencana pembangunan pabrik bioetanol di Lampung bersama Pemerintah Provinsi Lampung, Pertamina, PTPN, serta perwakilan Toyota Group dan lembaga riset Jepang REBIT di dua wilayah yakni di desa Kota Agung, Tegineneng Pesawaran dan di Desa Rejosari Natar Lampung Selatan, Selasa (9/6/2026).
Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan, dan Hortikultura (KPTPH) Provinsi Lampung, Elvira Umihanni, mengatakan pengembangan sorgum bukan hal yang sepenuhnya baru bagi petani di Lampung.
Sejumlah daerah seperti Pesawaran dan Way Kanan sebelumnya telah melakukan uji coba penanaman komoditas tersebut meski belum dalam skala besar.
"Secara kebutuhan lahan, potensi di Lampung sangat sesuai dengan agroklimat untuk sorgum. Tanaman ini sebenarnya tidak terlalu sulit dalam pemenuhan unsur haranya, sehingga sangat memungkinkan untuk dikembangkan lebih luas," kata Elvira.
Sebagai bentuk dukungan terhadap program pemerintah pusat, Pemprov Lampung telah menyiapkan aset lahan sekitar 24 hektare di Desa Kota Agung, Kecamatan Tegineneng, Kabupaten Pesawaran, serta lahan di Desa Rejosari, Kecamatan Natar, Lampung Selatan.
Saat ini lahan tersebut masih dimanfaatkan masyarakat untuk menanam komoditas produktif seperti ubi kayu dan jagung.
Meski lahan telah tersedia, Elvira menegaskan pengembangan sorgum akan tetap mengedepankan kajian teknis dan ilmiah.
Untuk itu, Pemprov Lampung akan melibatkan Laboratorium Tanah Universitas Lampung (Unila) guna menguji kesesuaian lahan sebelum proyek berjalan penuh.
"Nanti secara teknis akan diuji oleh Laboratorium Tanah Unila. Artinya harus tepat, karena memang harus ada pengujian lanjutan untuk memastikan kecocokan lahan secara detail," ujarnya.
Dalam beberapa bulan ke depan, pemerintah juga berencana mendatangkan bibit sorgum untuk memulai pengembangan komoditas tersebut di Lampung.
"Dalam beberapa waktu ke depan, bibit sorgum juga akan didatangkan ke Lampung. Semoga semua berjalan dengan lancar," katanya.
Elvira menjelaskan, pengembangan sorgum dilakukan agar tidak mengganggu komoditas utama yang selama ini menjadi kekuatan pertanian Lampung, seperti singkong dan jagung yang telah memiliki rantai pasok serta ekosistem industri tersendiri.
Ke depan, komoditas tebu, jagung, dan sorgum akan diintegrasikan untuk menjaga keberlanjutan pasokan bahan baku (feedstock) industri bioetanol.
Di sisi lain, Lampung juga memiliki potensi besar dari komoditas ubi kayu sebagai bahan baku bioetanol.
Berdasarkan data Dinas KPTPH Lampung tahun 2025, produksi ubi kayu mencapai 7,52 juta ton dengan luas tanam sekitar 268.236 hektare dan menjadi yang terbesar secara nasional.
Namun, Elvira mengungkapkan angka tersebut belum mencakup produksi dari lahan register atau kawasan hutan yang masih dimanfaatkan masyarakat untuk budidaya singkong.
"Data luas panen dan produksi itu belum termasuk yang ditanam di lahan register. Kalau termasuk lahan register, produksi singkong Lampung diperkirakan bisa mencapai sekitar 15 juta ton," ungkapnya.
Menurut dia, besarnya potensi produksi singkong tersebut menjadi salah satu modal utama Lampung untuk mendukung pengembangan industri bioetanol nasional sekaligus memperkuat posisi provinsi ini sebagai lumbung energi terbarukan berbasis pertanian.
Dengan kombinasi komoditas singkong, jagung, tebu, dan sorgum, Lampung dinilai memiliki peluang besar menjadi pusat pengembangan bioetanol di Indonesia yang tidak hanya mendukung ketahanan energi nasional, tetapi juga membuka peluang peningkatan pendapatan petani dan pertumbuhan ekonomi daerah.
(Tribunlampung.co.id/Riyo Pratama)