Kisah BUMDes Kapungan di Klaten Sulap Sawah Jadi Kebun Labu Madu, Modal Kecil Untung Besar
Vincentius Jyestha Candraditya June 09, 2026 07:29 PM

TRIBUNSOLO.COM, KLATEN - Hamparan sawah di Desa Kapungan, Kecamatan Polanharjo, Klaten, kini tak lagi hanya dipenuhi tanaman padi. Lahan desa seluas 2.300 meter persegi itu disulap menjadi kebun labu madu atau butternut squash oleh BUMDes Sumber Berkah. 

Hasilnya pun langsung mencuri perhatian. Baru memasuki panen perdana, ratusan tanaman berhasil menghasilkan ratusan buah dengan nilai ekonomi yang menjanjikan.

Program budidaya tersebut dijalankan melalui unit usaha Sregep Martani sebagai bagian dari program Ketahanan Pangan (Ketapang) desa yang mulai dikembangkan sejak Februari 2026 lalu.

Baca juga: Hidden Gem Rica Mentok di Boyolali, Rempah Pekat ala Yu Sar Menggoda Lidah, Cuma Rp20 Ribu/porsi

Direktur BUMDes Sumber Berkah, Arif Kurniawan Nugroho, mengatakan labu madu dipilih karena memiliki prospek pasar yang bagus dan perawatan yang relatif mudah dibanding tanaman lain.

“Kami mulai menanam labu madu atau butternut squash ini karena dinilai memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi serta perawatannya mudah,” ujarnya, Jumat (5/6).

Sebanyak 300 tanaman ditanam di lahan desa yang sebelumnya hanya digunakan untuk budidaya padi. Namun karena dianggap kurang produktif, lahan tersebut kemudian dialihkan menjadi pertanian terpadu yang lebih bernilai ekonomis.

Dari panen perdana tersebut, BUMDes berhasil memanen sekitar 600 hingga 700 buah labu madu dengan berat rata-rata sekitar 1 kilogram per buah. Dengan harga jual mencapai Rp15 ribu per kilogram, keuntungan yang diperoleh diperkirakan mencapai sekitar 50 persen dari modal awal tanam sebesar Rp3 juta.

Arif menjelaskan, budidaya labu madu juga tidak membutuhkan waktu lama untuk panen.

“Perawatannya lebih mudah, umur panennya juga hanya sekitar 80 hari,” jelasnya.

Baca juga: Kisah Penjual Bekicot Goreng di Alun-alun Karanganyar : Dulu Diejek, Kini Bisa Renovasi Rumah

Selain itu, tanaman labu madu dinilai lebih tahan terhadap serangan hama sehingga risiko gagal panen relatif kecil.

Menurut Arif, tingginya minat pasar terhadap labu madu tidak lepas dari tren makanan sehat yang terus berkembang di masyarakat. Labu madu kini banyak diburu karena dikenal sebagai salah satu superfood yang kaya nutrisi.

“Kalau belakangan ini, permintaannya alhamdulillah sangat tinggi,” ungkapnya.

“Sekarang ini jadi tren baru untuk superfood, jadi makanan sehat,” imbuhnya.

Labu madu sendiri banyak dimanfaatkan sebagai bahan makanan sehat, mulai untuk program diet hingga makanan pendamping ASI (MPASI).

Tak berhenti pada budidaya labu madu, BUMDes Sumber Berkah juga mengembangkan berbagai sektor pertanian lain seperti pepaya California, sayuran, cabai hingga peternakan ayam sebagai upaya memperkuat ketahanan pangan desa sekaligus meningkatkan pendapatan masyarakat.

Ke depan, pengembangan kawasan pertanian tersebut juga akan diarahkan menjadi destinasi wisata edukasi dan wisata petik buah.

“Memang ke depan, rencana jangka panjangnya seperti itu,” pungkasnya. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.